Amal & Ikhlas
Tulisan ini saya peroleh dari sebuah Group Facebook.
Semoga bermanfaat !!
Amal yang kita lakukan akan diterima Allah jika memenuhi dua rukun. Pertama, amal itu harus didasari oleh keikhlasan dan niat yang murni: hanya mengharap keridhaan Allah swt. Kedua, amal perbuatan yang kita lakukan itu harus sesuai dengan sunnah Nabi saw.
Syarat pertama menyangkut masalah batin. Niat ikhlas artinya saat melakukan amal perbuatan, batin kita harus benar-benar bersih. Rasulullah saw. bersabda, “Innamal a’maalu bin-niyyaat, sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung niatnya.” (Bukhari dan Muslim). Berdasarkan hadits itu, maka diterima atau tidaknya suatu amal perbuatan yang kita lakukan oleh Allah swt. sangat bergantung pada niat kita.
Sedangkan syarat yang kedua, harus sesuai dengan syariat Islam. Syarat ini menyangkut segi lahiriah. Nabi saw. berkata, “Man ‘amala ‘amalan laisa ‘alaihi amrunaa fahuwa raddun, barangsiapa yang mengerjakan suatu perbuatan yang tidak pernah kami diperintahkan, maka perbuatan itu ditolak.” (Muslim).
Tentang dua syarat tersebut, Allah swt. menerangkannya di sejumlah ayat dalam Alquran. Di antaranya dua ayat ini. “Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh….” (Luqman: 22). “Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan….” (An-Nisa: 125)
Yang dimaksud dengan “menyerahkan diri kepada Allah” di dua ayat di atas adalah mengikhlaskan niat dan amal perbuatan hanya karena Allah semata. Sedangkan yang yang dimaksud dengan “mengerjakan kebaikan” di dalam ayat itu ialah mengerjakan kebaikan dengan serius dan sesuai dengan sunnah Rasulullah saw.
Fudhail bin Iyadh pernah memberi komentar tentang ayat 2 surat Al-Mulk, “Liyabluwakum ayyukum ahsanu ‘amala, supaya Allah menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” Menurutnya, maksud “yang lebih baik amalnya” adalah amal yang didasari keikhlasan dan sesuai dengan sunnah Nabi saw.
Seseorang bertanya kepadanya, “Apa yang dimaksud dengan amal yang ikhlas dan benar itu?” Fudhail menjawab, “Sesungguhnya amal yang dilandasi keikhlasan tetapi tidak benar, tidak diterima oleh Allah swt. Sebaliknya, amal yang benar tetapi tidak dilandasi keikhlasan juga tidak diterima oleh Allah swt. Amal perbuatan itu baru bisa diterima Allah jika didasari keikhlasan dan dilaksanakan dengan benar. Yang dimaksud ‘ikhlas’ adalah amal perbuatan yang dikerjakan semata-mata karena Allah, dan yang dimaksud ‘benar’ adalah amal perbuatan itu sesuai dengan tuntunan Rasulullah saw.” Setelah itu Fudhail bin Iyad membacakan surat Al-Kahfi ayat 110, “Barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaknya ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya.”
Jadi, niat yang ikhlas saja belum menjamin amal kita diterima oleh Allah swt., jika dilakukan tidak sesuai dengan apa yang digariskan syariat. Begitu juga dengan perbuatan mulia, tidak diterima jika dilakukan dengan tujuan tidak mencari keridhaan Allah swt.
Indikasi Keikhlasan
Beberapa hal di bawah ini adalah indikasi-indikasi dari keikhlasan seseorang:
1. Khawatir terhadap ketenaran
Seseorang yang ikhlas akan khawatir terhadap ketenarannya karena ia meyakini bahwa meskipun ketenarannya telah tersebar ke segala penjuru, ketenaran itu tetap tidak akan dapat menolongnya dari siksa Allah jika Allah menghendaki.
Ibnu Mas’ud berkata: “Jadilah kalian sebagai sumber mata air ilmu; lampu-lampu (cahaya) petunjuk yang menetap di rumah-rumah; pelita di waktu malam yang hatinya selalu baru, yang kusut pakaiannya, dan dikenal oleh penduduk langit, tetapi tersembunyi dari penduduk bumi”.
Fudhail bin Iyadh berkata: “Bila kamu mampu menjadi orang yang tidak dikenal, maka lakukanlah. Sebab, apa kerugianmu tidak dikenal? Apa kerugianmu bila tidak dipuji? Dan apa kerugianmu bila kamu menjadi orang yang tercela di hadapan manusia, tetapi terpuji di hadapan Allah SWT?”
Namun, perkataan di atas bukanlah berarti sebagai ajakan untuk mengisolasi diri karena orang-orang yang mengatakan hal-hal tersebut pada zamannya adalah tokoh-tokoh yang bergaul juga di masyarakat serta memiliki pengaruh baik dalam membina masyarakat. Seruan di atas cukup dipahami sebagai sebuah peringatan agar kita waspada terhadap syahwat jiwa yang tersembunyi juga kehati-hatian terhadap pintu-pintu dan jendela-jendela yang dapat dilalui setan dalam menembus hati manusia.
Pada hakikatnya ketenaran bukan suatu hal yang tercela, karena tiada yang lebih terkenal daripada nabi dan khulafaur rasyidin. Karena itu, ketenaran yang tidak dipaksakan dan bukan didasari oleh niat ambisius, tidak dianggap sebagai suatu kesalahan. Imam Al-Ghazali mengatakan: “(Ketenaran itu) fitnah bagi orang-orang yang lemah (keimanan) dan tidak demikian bagi orang-orang yang kuat (keimanannya)”.
2. Orang ikhlas selalu menuduh dirinya teledor dalam menunaikan hak-hak Allah dan kewajibannya
Seorang yang ikhlas hatinya tidak dirasuki oleh perasaan ghurur (tertipu) dan terkagum dengan diri sendiri. Bahkan, ia selalu takut dengan kesalahan-kesalahannya tidak diampuni, dan kebaikan-kebaikannya tidak diterima oleh Allah SWT.
Dahulu, sebagian orang shalih menangis pilu saat sedang sakit, lantas sebagian orang yang menjenguknya bertanya: “Mengapa engkau menangis, padahal engkau telah puasa, shalat malam, berjihad, bersedekah, haji, umrah, mengajarkan ilmu dan berdzikir”. Ia menjawab: “siapa yang dapat menjamin bahwa itu semua memperberat timbangan amal baikku, dan siapa yang menjami bahwa amalku diterima di sisi Tuhanku? Sementara Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertaqwa”. (Al-Maidah:27)
3. Orang ikhlas mencintai amal yang tersembunyi daripada amal yang dipublikasikan
Seorang yang ikhlas lebih mengutamakan menjadi seperti akar pohon dalam beramal. Menjadi akar pohon, ia tetap melakukan tugasnya untuk membuat pohon berdiri kokoh dan tegak, namun di saat itu pula, ia lebih memilih untuk tetap “berada di dalam tanah”.
4. Tidak menggubris keridhoan manusia apabila di balik itu terdapat kemurkaan Allah
Ada sebuah syair yang bisa menjelaskan poin ini dengan gamblang
Dengan-Mu ada kelezatan, meski terasa pahit, kuharapkan ridha-Mu; meski seluruh manusia marah
Kuharapkan hubunganku dengan-Mu tetap harmonis; meski hubunganku dengan seluruh alam berantakan
Bila cinta-Mu kudapatkan, semua akan terasa ringan; sebab, semua yang di atas tanah adalah tanah belaka
5. Amalnya saat menjadi pemimpin dan saat menjadi anggota tidak berbeda, selama keduanya masih ditujukan untuk Allah dan dalam kerangka sunnah serta syariat
Hatinya tidak dirasuki penyakit suka tampil, ingin di depan barisan, ingin memegang kendali dan ambisi menguasai pusat-pusat kepemimpinan. Bahkan, orang yang ikhlas lebih mengutamakan menjadi anggota biasa, karena khawatir tidak dapat menunaikan kewajiban-kewajiban dan tanggungjawab kepemimpinannya. Dengan kata lain, orang ikhlas tidak menginginkan dan tidak meminta jabatan untuk dirinya, tetapi bila diberi amanah, ia menerimanya dengan tanggungjawab dan memohon pertolongan kepada Allah untuk melaksanakan sebagaimana mestinya.
Rasulullah saw telah menjelaskan model manusia seperti itu dalam sebuah sabdanya: “Berbahagialah seorang hamba yang memegang tali kudanya di jalan Allah, rambutnya acak-acakan, dan dua kakinya berdebu. Bila ia (ditugaskan) di pos penjagaan, ia tetap di pos penjagaan, dan bila (ditempatkan) di barisan belakang, ia tetap di barisan belakang tersebut..” (Fathul Bari 6/95, no. 2887)
Semoga Allah meridhai Khalid bin Walid saat dicopot dari jabatannya sebagai panglima pasukan. Ia tetap beramal dengan giat di bawah komando Abu Ubaidah yang menggantikannya, tanpa menggerutu dan tanpa mengomel. Padahal ia adalah seorang panglima yang selalu mendapatkan kemenangan.
6. Kecintaan dan kemarahannya, pemberian dan keengganannya untuk memberi serta keridhaan dan kemurkaannya adalah karena Allah dan agamanya
Kadang kita melihat ada sebagian orang yang marah, menggerutu, lalu meninggalkan aktivitas, pergerakan dan menjauh dari medan perjuangan, gara-gara ada yang mengucapkan kata-kata yang menyakiti hatinya, melukai perasaannya atau menjelekkan salah seorang teman dekat dan kerabatnya.
Padahal keikhlasan tujuan seharusnya menjadikannya tetap melanjutkan perjuangan dan komitmen pada orientasinya, betapapun banyaknya orang yang melakukan kesalahan, kelengahan atau melampaui batas. Sebab, ia beramal untuk Allah SWT bukan untuk kepentingan dirinya, keluarganya atau si fulan dan si fulanah dari kalangan manusia.
7. Panjangnya perjalanan dalam berjuang, lamanya memanen hasil perjuangan, tidak membuatnya malas, kendur, atau meninggalkan hal yang diperjuangkannya
Sebab, ia beramal tidak hanya untuk mencari keberhasilan atau mencari kemenangan. Akan tetapi, ia beramal untuk mendapatkan keridhaan Allah dan karena menjalankan perintah-Nya.
Pada hari akhir nanti, Allah tidak akan menanyakan kepada manusia, mengapa kalian tidak mendapatkan kemenangan? Allah tidak akan menanyakan, “Mengapa kamu tidak berhasil? Tetapi, Allah akan menanyakan, “Mengapa kamu tidak beramal?”
8. Bergembira dengan munculnya orang-orang lain yang lebih berprestasi dan bersemangat dalam berjuang.
Orang yang ikhlas tidak akan iri terhadap kemunculan orang-orang yang memiliki visi sama dalam berjuang bahkan apabila ternyata orang tersebut lebih segalanya dari dirinya. Ia justru akan memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada mereka untuk terus mengembangkan kemampuan dan menggantikan posisinya dalam melanjutkan perjuangan.
Tentang poin ini, sebenarnya saya jadi ingat sebuah diskusi dengan sobat saya. Bahwa ada dua reaksi manusia dalam menanggapi fenomena “munculnya orang-orang lain yang lebih berprestasi dan sukses dari kita”, yakni generous growing dan jealous limiting. Seseorang yang ikhlas dapat dikatakan juga sebagai seseorang yang memiliki sifat generous growing, yakni ia bahagia melihat kesuksesan orang lain dan mendukung perkembangannya (growing). Menurut saya orang-orang generous growing inilah yang dapat berperan sangat baik sebagai seorang positive influencer dalam membangun bangsa. Karena ia tidak berkutat pada dirinya, tetapi juga memberikan dukungan-dukungannya pada orang lain. Sedangkan seseorang yang jealous limiting jelas akan membuat dirinya sendiri merugi juga merusuhi orang lain. Ia akan melakukan segala cara untuk menghalangi perkembangan orang-orang di sekitarnya. Ia hanya berkonsentrasi bagaimana membuat dirinya sebagai yang paling menonjol dan berpengaruh.
* * *
Akhir kata, saya mohon maaf, kalau… postingan ini dirasa terlalu panjaaang. Semoga saja ada manfaat dan ilmu yang bisa diambil. Intinya, apapun yang kamu lakukan, seberapa besar yang kamu kerjakan, seberapa terkenalnya kamu di kalangan orang-orang, tetaplah berusaha untuk menundukkan hatimu ke bawah. Jangan biarkan dirimu terbang terlalu tinggi untuk akhirnya jatuh di hadapan-Nya.
Oya, ada satu tambahan kisah menarik berkaitan dengan postingan ini:
Ada seorang petani sederhana. Setiap hari, ia pergi ke sawah untuk bercocok tanam. Ya, di dalam hatinya tujuannya ke sawah memang adalah untuk bercocok tanam. Suatu hari, ia menemukan seekor ikan di sawahnya. Petani itu menganggapnya sebagai sebuah rezeki. Ia lantas membawa ikan tersebut pulang dan menggorengnya untuk dijadikan lauk. Sekarang pertanyaannya? Apakah pada hari berikutnya petani tersebut lantas mengubah niatnya menjadi beternak ikan yang lebih menguntungkan dan meninggalkan bercocok tanam? TIDAK. Ia tetap pada niat awalnya, yakni bercocok tanam. Ia menganggap bahwa apa yang didapatkannya kemarin, sebuah ikan untuk lauk, adalah rezeki tambahan yang ia dapatkan dari-Nya karena kasih sayang-Nya.
Add comment October 12, 2009
Southeast Asia for Change
‘Southeast Asia for Change’ or ‘SEACHANGE‘ the movement is driven by the SEACHANGE Youth Report involving over 200 million Southeast Asian youths in a report that will culminate to bringing over 500 youths to the YES2009 Summit in Kuala Lumpur this November.
The Youth Engagement Summit, also known as ‘YES’ brings together leading Global Change Icons, luminaries such as founder of LiveAid Sir Bob Geldof, Twitter co-founder Biz Stone, Facebook’s Director of Market Development Randi Zuckerberg, Bollywood Megastar Amitabh Bachchan, Former World Chess Champion Garry Kasparov, World Bank’s former MD Dr.Mamphela Ramphele, the Man known as the Ultimate survivor Nando Parrado, noted former presenter for CNN and CNBC Lorraine Hahn and many more.
This movement is about the Youth of Southeast Asia. And it is a honest discourse on the inspiration that is Obama.
Everybody needs a hero. And they are expressing their aspirations, hopes, fears, tears, ideas and lives with him and to the other illustrious agents of change on this website. This online destination is a tale of love, affection and imagination for real change.
Click here to join!!
Add comment October 5, 2009
Makna Gempa Sumatra
Mudah-mudahan segala macam musibah yang menimpa kita dan saudara-saudara kita mampu melecut kita semua untuk sadar diri.
Ditulis oleh Adian Husaini (one of my favorite author… )
Bumi Indonesia, negeri kita, lagi-lagi dihantam gempa. Kali ini, 30 September 2009, wilayah Sumatra Barat, khususnya kota Padang dan Pariaman menerima pukulan berat. Bumi digoncang keras dengan gempa berkekuatan 7,6 skala Richter. Hampir semua gedung bertingkat di Kota Padang runtuh atau rusak berat. Ratusan orang tertimbun dalam reruntuhan gedung. Ratusan lainnya tertimbun tanah. Bahkan ada puluhan anak yang sedang belajar di satu gedung bimbingan belajar tertimbun reruntuhan bangunan.
Mengapa semua ini terjadi? Mengapa peristiwa ini menimpa bumi Minang yang terkenal dengan semboyan ”Adat bersendi syara’ dan syara’ bersendi Kitabullah”. Dan Mengapa ini terjadi? Padahal, baru sebulan lalu, pada awal September 2009, tepat di awal-awal Ramadhan 1430 Hijriah, wilayah kita lain, Jawa Barat bagian selatan, dihantam gempa serupa. Hanya saja, karena lokasi pusat gempa yang jauh dari daerah pemukiman, maka dampaknya tidak sedahsyat gempa di Sumatra kali ini. Namun, waktu itu, gempa sempat membuat panik warga ibu kota Jakarta. Banyak gedung bertingkat sudah bergoyang dan penghuninya berhamburan.
Seperti biasa, setiap terjadi gempa, para ilmuwan selalu menjelaskan, bahwa gempa terjadi karena bergeser atau pecahnya lempengan tertentu di bumi. Bagi orang sekular, gempa dianggap sebagai peristiwa alam biasa. Tidak ada hubungannya dengan aspek Ketuhanan. Tapi, sebaliknya, orang mukmin yakin benar bahwa gempa ini bukan sekedar peristiwa alam biasa. Hubungan kausalitas tidaklah bersifat pasti, tetapi tergantung kepada kehendak (Iradah) Allah. Api yang mestinya membakar tubuh Nabi Ibrahim, bisa kehilangan daya bakarnya, karena kehendak Allah. Biasanya, dalam berbagai bencana muncul berbagai ”keajaiban” yang di luar jangkauan manusia.
Allah SWT menjelaskan dalam al-Quran (yang artinya):
“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri, (yaitu) orang-orang yang kikir dan menyuruh manusia berbuat kikir. dan barangsiapa yang berpaling (dari perintah-perintah Allah) Maka Sesungguhnya Allah Dia-lah yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji.”
(QS Al-Hadid:22- 24
Sebuah ayat al-Quran juga menjelaskan terjadinya peristiwa semacam gempa bumi di masa lalu, (yang artinya): “Orang-orang sebelum mereka telah melakukan makar kepada Allah, maka Allah menghancurkan bangunan-bangunan mereka dari pondasi-pondasinya, dan Allah menjatuhkan atap-atap (bangunan) dari atas mereka, dan Allah menurunkan azab dari arah yang tidak mereka perkirakan.” (QS an-Nahl: 26).
Entah rahasia apa yang terkandung dalam Gempa Sumatra kali ini. Setiap musibah mengandung banyak makna. Akal kita terlalu terbatas untuk memahami hakekat segala sesuatu dalam kehidupan. Kita tidak mudah paham, mengapa dalam gempa kali ini, begitu banyak anak-anak yang tertimbun reruntuhan gedung. Anak-anak itu sedang belajar. Bukan sedang bermaksiat. Hikmah apa yang terkandung dalam peristiwa semacam ini? Tidak mudah memahami semua itu, sebagaimana juga Nabi Musa a.s. sangat sulit memahami berbagai tindakan Chaidir a.s.
Memang, suatu musibah bisa bermakna sebagai hukuman Allah bagi orang-orang yang berdosa. Musibah juga bisa bermakna ujian bagi orang-orang yang beriman. Musibah pun bermakna peringatan Allah bagi orang-orang yang selamat. Kita yang selamat dari musibah, sejatinya sedang diberi peringatan oleh Allah, agar kita segera ingat kepada Allah, agar segera melakukan evaluasi dan segera melakukan perbaikan diri. Biasanya, manusia memang cenderung mendekat kepada Allah ketika berada dalam bahaya. Kita biasanya berdoa dengan tulus ikhlas ketika pesawat yang kita tumpangi dalam kondisi yang sangat mengkhawatirkan. Ketika itu kita berjanji, berdoa dengan tulus, bahwa kalau kita selamat, maka kita akan berbuat baik di dunia. Tapi, ketika pesawat mendarat dengan selamat, maka biasanya manusia kembali melupakan Allah dan sibuk dengan urusan dunia. Sejumlah ayat al-Quran menggambarkan sifat manusia kebanyakan semacam itu:
”Dialah (Allah) yang menjadikan kamu dapat berjalan di daratan, (berlayar) di lautan; sehingga ketika kamu berada di dalam bahtera, lalu meluncurlah bahtera itu membawa orang-orang yang ada di dalamnya dengan tiupan angin yang baik, dan mereka bergembira karenanya, maka datanglah angin badai; dan ketika gelombang dari segenap penjuru menimpanya, dan mereka yakin bahwa mereka tengah terkepung (bahaya), maka mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan keta’atan kepada-Nya semata-mata. (Mereka berkata): ”Sesungguhnya jika Engkau menyelamatkan kami dari bahaya ini, pastilah kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur.”
Maka, tatakala Allah menyelamatkan mereka, tiba-tiba mereka membuat kezaliman di muka bumi, tanpa (alasan) yang benar. Hai manusia, sesungguhnya kezalimanmu akan menimpa dirimu sendiri; (hasil kezalimanmu) hanyalah kenikmatan hidup duniawi, kemudian kepada Kami-lah kembalimu; lalu Kami kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS Yunus: 22-23).
Bagi saudara-saudara kita yang terkena musibah, Insyaallah ini adalah ujian bagi mereka. Jika mereka sabar, maka pahala besarlah bagi mereka. Ujian adalah bagian dari kehidupan orang mukmin, baik ujian senang maupun ujian susah. Manusia selalu diuji imannya. Dengan ujian itulah, maka tampak, siapa yang imannya benar dan siapa yang imannya dusta.
”Apakah manusia menyangka b ahwa mereka akan dibiarkan mengatakan ”Kami beriman”, sedangkan mereka tidak diuji? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS al-Ankabut: 2-3).
Lihatlah di dunia ini! Ada orang-orang yang diuji oleh Allah dengan segala macam kekurangan. Ada yang diuji dengan kecacatan, kebodohan, dan kemiskinan. Ada yang diuji dengan harta melimpah, kecerdasan, dan kecantikan. Ada yang diuji dengan musibah demi musibah. Semua itu adalah ujian dari Allah. Hidup di dunia ini adalah menempuh ujian demi ujian. Jika kita lulus, maka kita akan selamat di akhirat. Karena itu, apa pun hakekat dari musibah gempa Sumatra kali ini, maka mudah-mudahan ujian itu mampu mendorong saudara-saudara kita di sana untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah dan semakin aktif berdakwah memberantas segala bentuk kemunkaran yang mendatangkan kemurkaan Allah. Kita diingatkan, bahwa manusia mudah lupa. Sampai beberapa hari setelah musibah, biasanya masjid-masjid masih dipenuhi jamaah. Tapi, setahun berlalu, biasanya manusia sudah kembali melupakan Allah dan lebih sibuk pada urusan duniawi.
Bagi yang meninggal dalam musibah, kita doakan, semoga mereka diterima Allah dengan baik; amal-amalnya diterima, dan dosa-dosanya diampuni. Musibah tidak pandang bulu. Manusia yang baik dan buruk juga bisa terkena. Allah SWT sudah mengingatkan, “Dan takutlah kepada fitnah (bencana, penderitaan, ujian) yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja diantara kamu. Dan ketahuilah, Allah sangat keras siksanya.” (QS an-Anfal:25) .
Kita yang selamat baiknya segera menyadari, bahwa di mana pun kita berada, kematian akan selalu mengintai. Dalam surat an-Nahl:26, kita diingatkan, bahwa hukuman Allah ditimpakan kepada umat manusia, karena melakukan makar kepada Allah. Mereka berani menentang Allah secara terbuka, secara terang-terangan. Kita tidak perlu ikut-ikutan tindakan makar kepada Allah yang dilakukan sebagian orang. Misalnya, Allah jelas-jelas menghalalkan pernikahan dan mengharamkan zina. Tetapi yang kita saksikan, di negeri kita, ada orang nikah malah masuk penjara dan para pelaku zina tidak mendapatkan sanksi apa-apa. Bahkan, di negeri yang harusnya menjunjung tinggi paham Tauhid (Ketuhanan Yang Maha Esa) ini, sejumlah media massa berani menghujat hukum-hukum Allah secara terbuka. Padahal, yang berhak menentukan halal dan haram adalah Allah. Adalah tindakan yang tidak beradab jika maanusia berani merampas hak Allah tersebut.
Kita menyaksikan, bagaimana sekelompok orang – dengan alasan kebebasan berekspresi (freedom od expression) — dengan terang-terangan menantang aturan Allah dalam soal pakaian. Mereka menyerukan kebebasan. Mereka pikir, tubuh mereka adalah milik mutlak mereka sendiri, sehingga mereka menolak segala aturan tentang pakaian. Bukankah tindakan itu sama saja dengan menantang Allah: ”Wahai Allah, jangan coba-coba mengatur-atur tubuhku! Mau aku tutup atau aku buka, tidak ada urusan dengan Engkau. Ini urusanku sendiri. Ini tubuh-tubuhku sendiri! Aku yang berhak mengatur. Bukan Engkau!” Memang, menurut Prof. Naquib al-Attas, ciri utama dari peradaban Barat adalah ”Manusia dituhankan dan Tuhan dimanusiakan!” ((Man is deified and Deity humanised). Manusia merasa berhak menjadi tuhan dan mengatur dirinya sendiri. Persetan dengan segala aturan Tuhan!
Para ulama sering menyerukan agar tayangan-tayangan di TV yang merusak akhlak dihentikan. Banyak laki-laki yang berpakaian dan berperilaku seperti wanita. Padahal itu jelas-jelas dilaknat oleh Rasulullah saw. Tapi, peringatan Rasulullah saw yang disampaikan para ulama itu diabaikan, bahkan dilecehkan. Kaum wanita yang tercekoki paham kesetaraan gender didorong untuk semakin berani menentang suami, menolak kepemimpinan laki-laki dalam rumah tangga, dan menganggap wanita sama sederajat dengan laki-laki. Bahkan, di zaman seperti sekarang ini, ada sejumlah dosen agama yang secara terang-terangan berani menghalalkan perkawinan sesama jenis. Manusia seperti ini bahkan dihormati, diangkat sebagai cendekiawan, disanjung-sanjung, diundang seminar ke sana kemari, diberi kesempatan menjadi dosen agama. Jika manusia telah durhaka secara terbuka kepada Allah, maka Sang Pencipta tentu mempunyai kebijakan sendiri. Rasulullah SAW bersabda: “Apabila perzinaan dan riba telah melanda suatu negeri, maka penduduk negeri itu telah menghalalkan turunnya azab Allah atas mereka sendiri”. (HR Thabrani dan Al Hakim).
Dalam soal homoseksual, Allah sudah memperingatkan:
“Dan (ingatlah) ketika Luth berkata pepada kaumnya: “Sesungguhnya kamu benar-benar mengerjakan perbuatan yang Amat keji yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun dari umat-umat sebelum kamu”. (QS al-Ankabut:28) .
Rasulullah saw juga memperingatkan:
“Barangsiapa yang kalian dapati sedang melakukan perbuatan kaum Luth (homoseksual) maka bunuhlah pelaku dan pasangannya.” (HR Ahmad).
Pada setiap zaman, manusia selalu terbelah sikapnya dalam menyikapi kebenaran. Ada yang menjadi pendukung kebenaran dan ada pendukung kebatilan. Yang ironis, di era kebebasan sekarang ini, ada orang-orang yang sebenarnya tidak memahami persoalan dengan baik, ikut-ikutan bicara. Pada 29 September 2009 lalu, dalam perjalanan kembali ke Jakarta, di tengah malam, saya mendengarkan pro-kontra masyarakat tentang rencana kedatangan seorang artis porno dari Jepang ke Indonesia. Si artis itu kabarnya akan main film di Indonesia. Yang ajaib, banyak sekali pendengar radio tersebut yang menyatakan dukungannya terhadap kedatangan artis porno tersebut. Kata mereka tidak ada alasan untuk melarangnya, karena dia bukaan teroris. Suara MUI yang keberatan dengan rencana kedatangan artis tersebut, menjadi bahan ejekan. Sungguh begitu sukses setan dalam menipu manusia, sehingga perbuatan-perbuatan bejat dipandang indah; sebaliknya perbuatan baik malah dipandang jahat.
”Demi Allah, sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami kepada umat-umat sebelum kamu, tetapi setan menjadikan umat-umat itu memandang baik perbuatan mereka (yang buruk), maka setan menjadi pemimpin mereka di hari itu dan bagi mereka azab yang sangat pedih.” (QS an-Nahl: 63).
Mudah-mudahan segala macam musibah yang menimpa kita dan saudara-saudara kita mampu melecut kita semua untuk sadar diri dan mengenali mana yang baik dan mana yang buruk. Allah SWT senantiasa membukakan pintu taubat-Nya untuk kita semua. Dunia ini hanyalah kehidupan yang penuh dengan tipuan dan ujian. Akhirat adalah kehidupan yang sebenarnya. Banyak manusia meratapi bencana fisik, tapi mengabaikan bencana iman berupa meluasnya kekufuran. Kita wajib menolong saudara-saudara kita yang tertimpa musibah, semampu kita. Pada saat yang sama, kita berdoa, mudah-mudahan Allah masih mengasihani kita semua, menunda azab atau hukumannya, dan memberikan kesempatan kepada kita untuk berbenah dan memperbaiki diri. Amin. [Depok, 3 Oktober 2009/www.hidayatullah. com]
Add comment October 4, 2009
17:16
Di suatu media, disebutkan bhw kejadian gempa di padang terjadi pukul 17.16.
ternyata Quran surat Al Israa’ : 16……………………
Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya. (QS Al Israa’ :17)
Add comment October 2, 2009
Tips Memperoleh Dana Sponsor Untuk Kegiatan Mahasiswa ke Luar Negri
Perjuangan memperoleh bantuan sponsor untuk suatu kegiatan mahasiswa memang susah-susah gampang, apalagi untuk kegiatan acara ke luar negri yang membutuhkan dana yang cukup besar untuk transportasi dan akomodasi.
Berikut ini merupakan pengalaman saya dan teman-teman selama mencari bantuan dana untuk membiayai kegiatan acara kami di luar negri, semoga bermanfaat kalau nanti ada teman-teman mahasiswa yang membutuhkan informasi sponsorship.
Pemohonan dana dapat ditujukan ke instansi pemerintahan maupun BUMN/swasta. Untuk instansi pemerintah, terdapat skema bantuan yang ditawarkan oleh Depdiknas yang dapat diajukan secara online
dengan mendaftarkan diri ke website www.bantuan.diknas.go.id.
Selain itu juga dapat mengajukan proposal ke Departemen Pariwisata dapat mengajukan ke direktorat promosi luar negri, ke Departemen Pemuda & Olahraga dapat mengajukan ke direktorat pemberdayaan pemuda, ke Departemen Luar Negri, ke pemerintah daerah asal Universitas, ke bagian diplomasi kedutaan negara tempat acara dilaksanakan.
Perlu diingat bahwa sebaiknya pihak sponsor yang dimintai dana disesuaikan dengan tema kegiatan yang akan diikuti.
Misal kegiatan bertema lingkungan dapat mengajukan dana ke kementrian lingkungan hidup.
Untuk instansi BUMN & Swasta, dapat mencoba mengajukan proposal ke Pertamina: Mengajukan ke Bagian Humas,
PT. Garuda Indonesia : Mengajukan permohonan pembiayaan transportasi langsung ke Direktur utama,
PT.Unilever Indonesia : Mengajukan ke Bagian Humas.
Selain itu, jika kegiatan yang akan diikuti memberikan kesempatan untuk mempromosikan produk dalam negri dapat juga mengajukan
proposal ke para pengusaha Produk Nasional: Menghubungi secara langsung ke perusahaan sambil mengajukan proposal.
Jika ada perusahaan asing asal negara tempat kegiatan yang memiliki cabang di Indonesia dapat juga mengajukan untuk permohonan sponsorship.
Selain itu jika memiliki kemampuan menulis yang baik , dapat juga mencoba mengirimkan artikel hasil kegiatan selama di luar negri ke media massa lokal agar mendapatkan royalti penulisan misalnya ke Tempo, Kompas, Media Indonesia, dll. Cukup dengan menghubungi kantor media yang dituju.
Isi Proposal yang kita ajukan sebaiknya:
- Melampirkan surat rekomendasi dari pihak kampus yang berisi nama-nama mahasiswa yang akan mengikuti kegiatan
- Melampirkan surat keterangan permohonan dana
- Mencantumkan latar belakang kegiatan serta tujuan Kegiatan yang jelas
- Membahas isi kegiatan secara jelas & ringkas
- Mencantumkan profil mahasiswa yang akan mengikuti kegiatan
- Menyertakan dokumentasi kegiatan acara pada tahun sebelumnya
- Menuliskan kontrapetasi sponsorship yang jelas dan menguntungkan bagi pihak yang dimintai sponsor
- Menyertakan gambar-gambar bentuk kontrapetasi
Itu dulu tips dari saya, good luck semoga berhasil mendapatkan sponsor.
3 comments August 29, 2009
My Seoul Experience
Alhamdulilah saya dapet kesempatan lagi mengikuti konferensi internasional. Acara konferensi berlangsung di Seoul, Korea Selatan selama kurang lebih 6 hari. Banyak sekali pengalaman yang saya dapat dari kegiatan yang bernama Harvard Project for International Relation Academic Conference.
Saya menjadi delegasi Indonesia bersama 5 mahasiswa yang berasal dari UI dan Unbraw. Perjalanan untuk menuju ke konferensi ini cukup panjang dan melelahkan karena harus meminta bantuan dana dari para sponsor.
Perjalanan saya dimulai hari minggu tanggal 9 Agustus, karena dapat tiket promo Garuda yang cukup murah, perjalanan harus dilakukan pada tengah malam.
Cukup lama juga nunggu di bandara sama teman-teman sampai hampir ketiduran di kursi tunggu. Maklum persiapan keberangkatan baru mulai H-1, jadilah saya selama dua hari baru bisa packing, tukar uang ke Won, beli keperluan selama disana, dll.
Hari pertama
Pada hari pertama menjejakkan kaki di Seoul saya dan teman-teman sangat bersyukur karena setelah mengalami penerbangan yang cukup menegangkan karena cuaca yang buruk, akhirnya kami sampai juga ke Seoul pada pagi hari sekitar pukul 09.30
Turun dari pesawat tidak lupa kami siap-siap memakai masker, karena takut terjangkit virus H1N1 yang sempat membuat kami ragu untuk berangkat mengikuti konferensi ini.
Ternyata orang-orang di bandara Incheon tidak banyak yang memakai masker, jadilah kami merasa agak canggung untuk terus memakainya. Sepertinya di Seoul, isu H1N1 tidak begitu mencemaskan. Alhamdulilah kami dijemput oleh seorang mahasiswi dari Indonesia,namanya mba Liyu. Rencananya kami akan dijemput oleh Kak Rusdi, senior di Fasilkom yang sekarang tengah menyelesaikan S2 di Korea Institute of Technology, tapi karena kak Rusdi ada kerjaan di kampus jadilah kami dijemput oleh Mba Liyu. Alhamdulilah, kami diberikan izin menempati rumah Kak Rusdi selama ia pulang ke Jakarta.
Perjalanan dari Airport menuju rumah kak Rumah kak Rusdi sangat melelahkan, selain karena cuacanya yang sangat panas juga karena harus mengangkat koper-koper smabil naik turun kereta Subway yang harus transit beberapa kali.
Hari kedua
Ke Syunkyunkwan University. Setelah mengalami perjalanan cukup jauh dan sempet beberapa kali nanya orang dimana letak kampus ini, akhirnya kami sampai juga ke kampus yang terletak di Suwon ini.
Tujuannya awalnya untuk observasi tempat acara tapi ternyata di hari kemudian saya baru mengetahui kalau tempat acaranya bukan di kampus ini…yaa maklumlah cuma modal peta dan kenekatan aja untuk sampe kesana

Hari ketiga
Pada hari ini saya dengan teman-teman mengikuti Seoul International Conference on Creativity. Acara konferensi ini diadakan di Seoul Press Center yang terletak di City Hall. Cukup banyak peserta dan wartawan yang hadir yang berasal dari berbagai negara, khususnya negara yang memiliki hubungan diplomatik dengan Korsel. Topik yang dibahas diawali dengan pembahasan mengenai definisi dan bentuk kreatifitas yang mengarah ke tatanan kota metropolitan Seoul, maklum aja karena yang ngadain memang pemerintah kota Seoul.

Kami hanya mengikuti acara konferensi sampai siang, setelah makan siang mewah ala Korea yang bikin was-was karena harus ekstra hati-hati jangan sampai salah makan, kami diajak jalan-jalan oleh Kak Didit yang merupakan mahasiswa Indonesia yang sedang mengambil S2 di Seoul National University(SNU).
Kak didit mengajak kami jalan-jalan ke sekitar City Hall & ke Myeondong yang merupakan kawasan perbelanjaan di Seoul. Karena harga baju, tas, sepatu-nya yang gila-gilaan saya cuma berani beli sovenir-sovenir kecil seharga 1000-2000 won disana..ya lumayanlah buat oleh-oleh.
Ternyata personil Boys Before Flowers sangat laku jadi model iklan di berbagai toko. Kami sempat berfoto-foto bersama iklan yang menampilkan personil BBF..hehe saya nge-fans juga lho..terutama dengan Lee Min Ho,, tapi sayang nggak sempet ketemu BBF selama di Seoul..hiks-hiks

Pada saat kita pulang, sewaktu naik Railway kita melihat seseorang sedang membaca surat kabar ..dan ternyata ada FOTO KITA BERTIGA di koran itu..ketika menghadiri acara conference pada pagi hari nya
Mungkin orang-orang disana menganggap kehadiran tiga orang wanita berjilbab ke konferensi internasional merupakan sesuatu yang menarik untuk ditampilkan menjadi topik surat kabar.
Seumur hidup itu pertama kalinya foto saya masuk surat kabar..haha
Hari keempat
Hari ini merupakan acara hari pertama HPAIR yakni Pre-Conference tour. Peserta dibagi ke beberapa kelompok, saya masuk ke salah satu kelompok paling kompak yang ada.
Ketua kelompok kami, Seijin Byeon, merupakan ketua kelompok terbaik menurut saya karena orangnya sangat ramah, suka menolong, dan ceria.
Kami diajak jalan-jalan ke istana Gyeongbokgung, City Hall,Cheonggyecheon, Seoul Monmyo, Wisata Kuliner di Restoran Tradisional Korea, Hang River Cruise membelah kota Seoul.





Hari kelima
Workshop hari pertama
Para pembicara diantaranya para profesor dari Hongkong dan dan pejabat pemerintahan Korsel yang menyampaikan materi tentang isu-isu pendidikan yang menjadi trend di kawasan Asia. Ada juga pembicara dari perusahaan swasta Intel Corp. dan organisasi riset internasional WIDE World, seperti Mrs Jay Lee dan Mrs. Jae Eun Hoo yang membawakan materi dengan sangat menarik. Ada juga aktivis NGO pendidikan di India yakni Mr. Benudhar Senapati.
Hari keenam
Workshop hari kedua Workshop hari kedua
Pembicara ada yang dari Indonesia, namanya Pak Zuhdi beliau adalah dosen fakultas pendidikan UIN yang juga menjadi direktur litbang Jalan Sesama, sebuah program edukasi anak di TV 7 yang bekerjama dengan Sesame Street,USA.
Profesor dari Yonsei University, Mr Sang Min Whang, yang membawakan materi dengan gaya kocak abis karena banyak menggunakan animasi dan game dalam slide yang dia sampaikan.
Ternyata hari itu adalah hari kemerdekaan Korsel, 15 Agustus. Kami memutuskan untuk jalan-jalan ke Itaewon dulu sebelum pulang ke rumah.
Untuk menuju Itaewon, kami mendapatkan beberapa kali bantuan dari orang yang melihat kami sedang kebingungan. Pertama seorang kakek berusia 70 tahun yang masih kuat berjalan sendirian naik Subway, yang dengan sukarela mengantarkan kami hingga ke Itaewon kemudian setelah sampai di stasiun Itaewon kami bertemu dengan seorang muslimah asal Iran yang penampilannya sangat cool dan terlihat sangat tangguh(beneran..keren banget deh dia udah pernah berkelana ke US, UK, Australia)
Setelah berkunjung ke masjid Seoul kami bertemu dengan para muslimah yang ada di Seoul, ada mba Fatimah dari Indonesia yang bersuamikan warga Korea yang menetap disana sembari mengajar mengaji dan berdakwah(Subhanallah..mba Fatima ini sudah dari 1997 tinggal di Korea jadi sudah sangat fasih berbahasa Korea)
Habis shalat kemudian pamitan pulang, kami menyusuri jalan-jalan di sekitar masjid. Cukup banyak toko-toko yang menjual makanan halal dan produk-produk islami.
Tetapi nggak semua toko sekitar masjid bernuansa islami, kami juga menemukan beberapa club dan pub di sekitar kawasan masjid.
Karena lapar saya membeli kebab turki seharga 4000 won sepertinya halal karena atas rekomendasi muslimah dari Iran yang saya temui. 

Hari ketujuh
Karena kecerobohan kami karena tidak menanyakan dulu dengan pasti dimana letak acara di hari itu jadilah kami bertiga nyasar sampai ke universitas Syunkwunkwan yang ada di Suwon. Jadi universitas itu memiliki dua kampus, yang pertama di Seoul, yang kedua di Suwon.
Karena di peta Subway yang stasiun yang tercantum nama universitas itu hanya ada di Suwon, kami mengira bahwa acara diadakan di kampus yang di Suwon itu.
Perjalanan menuju Suwon hingga balik ke Seoul memakan waktu selama 3 jam lebih, alhasil hari itu kami terlambat datang ke tempat acara. Kami memutuskan untuk tidak mengikuti seluruh acara workshop yang ada karena kami datang sangat terlambat, jadi lebih baik berlatih main angklung untuk pertunjukkan di international night malam itu.
International Night
Setelah berlatih angklung beberapa kali, para delegasi Indonesia dengan cukup percaya diri akan membawakan dua buah melodi, yang pertama lagu “Suwe Ora Jamu” dan “Twinkle-Twinkle Little Star”. Pada melodi kedua, kami meminta kesediaan dari para peserta lainnya untuk mencoba memainkan angklung diatas panggung. Antusiasme para peserta untuk mencoba memainkan angklung cukup besar, mereka senang sekali ketika mencoba membawakan lagu “Twinkle-Twinkle Little Star” yang sudah mereka kenal.

Hari kedelapan
Atas rekomendasi dari kak Didit, tempat belanja oleh-oleh yang murah adalah di Nangdaemun. Maka hari ini kita jalan-jalan kesana jadi kita nggak ikutan acara Fieldtrip karena harus bayar juga kalo mau ikutan. Setelah puas beli oleh-oleh di Namdaemun, selanjutnya kami menuju ke Hotel Shilla untuk mengikuti acara Gala Dinner. Wuih bener-bener gala dinner terkeren yang pernah saya ikuti setelah gala dinner di KL. Di acara ini kami semeja dengan para orang-orang keren ..Dahyeun Kang a.k.a Dani yang logat englishnya kaya’ bangsawan inggris..Christ dari Selandia baru serta Kim dari Korea..

Hari kesembilan
Jalan-jalan ke Insadong
Kawasan ini merupakan daerah yang wajib dikunjungi oleh wisatawan yang dateng ke Seoul. Banyak sekali tempat-tempat menarik yang kaya dengan kebudayaan korea. Disini juga dapat ditemukan berbagai macam toko yang menjual sovenir khas Korea.


Hari kesepuluh
Dari lepas shubuh kami sudah bersiap-siap untuk berangkat ke Bandara ditemani suaminya mba Ria. Untuk ke bandara Incheon kami menggunakan bus dengan membayar sekitar 12.000 won.
Horee..waktunya pulang ke Indonesia
Special thanks to :
Kak Rusdi, Mba Liyu, Mba Ria, atas semua bantuannya..entah apa jadinya kami disana tanpa bantuan dari kalian.
Semua panitia HPAIR : You’re doing such a great job guys..
Para petunjuk jalan ketika kami tersesat: Iran Girl, Bapak Korea 1, Kakek Korea 2 (sorry we don’t know your name)
Dan semua peserta HPAIR Academic Conference(we really miss you guys..I hope all of you will become great people)
8 comments August 25, 2009
Alhamdulilah Akhirnya Sidang Terlewati…
Alhamdulilah…setelah beberapa bulan mengerjakan tugas akhir ini akhirnya bisa melewati sidang dengan baik..
Sebenarnya saya nggak percaya kalau saya bisa sidang di semester ini mengingat banyaknya hal senang-senang, jalan-jalan, urusan ini-itu yang saya lakukan. Dari mulai ikut pertukaran pelajar yang kebanyakan kegiatan jalan-jalannya- dari mulai Melaka sampai Pulau Sentosa, ikut2 acara konferensi dalam & luar negri yang membuat sama sekali nggak menyentuh TA selama sebulan, kegiatan cari sponsor sana-sini untuk membiayai biaya konferensi, dan lain-lain…
Alhamdulilah sungguh ini benar-benar merupakan suatu karunia dari Allah, berkat do’a kedua orangtua dan juga tak lepas dari kebaikan kedua pembimbing TA saya..
Semua yang saya jalani di semester ini benar-benar luar biasa..nggak pernah terbayang akan mengakhiri kuliah dengan begitu banyak pengalaman istimewa..
~Still waiting for the next chapter of my life,
seems to be a little bit different than what’ve been planned before.
4 comments July 19, 2009
Dimana keadilan itu?
Artikel berikut ini saya dapat dari sebuah milis berkisah tentang pembunuhan seorang muslimah di Jerman.
Islam tidak membiarkan harga diri umatnya diinjak-injak. Bersyukur, di negara ini, sesiapa saja yang menghina orang lain dengan kata-kata kasar, kata-kata yang tidak sopan dan penuh dengan kebencian akan dikenakan hukuman. Marwa Al-Sharbini, yang sedang menemani suaminya sebagai pemegang beasiswa dan peneliti di Max-Planck-Institut , melaporkan kasus penghinaan ini kepada pengadilan di Jerman. Tak pelak, dengan bukti-bukti dan saksi-saksi, Alexander W, si pemuda tadi, dinyatakan bersalah telah menghina Marwa dengan kata-kata kasar dan penuh dengan kebencian rasistis. Ia dikenakan denda dari pengadilan sebesar 780 €.
Hari berganti hari. Kasus Marwa merupakan salah satu kasus dari ribuan kasus di dunia ini. Marwa merupakan salah seorang dari ribuan orang yang berupaya mencari keadilan dan membela harga diri dari sebuah propaganda pihak-pihak yang berupaya menyebarkan kebencian terhadap Islam. Headline surat kabar, opini dan pendapat media, pemberitaan di televisi, kasus karikatur nabi, kasus film Fitna, dan banyak lagi kasus yang lain telah berhasil memutar balikkan pandangan orang-orang yang tidak tahu tentang Islam.
Orang-orang yang berjilbab itu teroris, fundamentalis, ekstrimis, dan kata-kata lain yang mereka gunakan untuk menjabarkan istilah „orang Islam“. Kami yakin, tidak semua orang barat seperti itu. Ada di antara mereka yang mempunyai hati nurani, ada di antara mereka yang menjadi sahabat-sahabat kami dan melihat kami sebagaimana seorang manusia. Kami tidak akan menganggap sama orang-orang yang menyebarkan propaganda dengan yang menjadi korban. Dan orang-orang yang memang membenci kami dengan yang memanusiakan kami.
Kami juga berharap mereka tidak menyamaratakan orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi dengan orang-orang yang taat berada di ajaran Rasul kami. Ah, kami begitu bangga dengan Schwester-schwester (saudara perempuan) kami yang telah berjilbab, yang menapak tegap kehidupan di sini dengan segala resikonya, namun santun dalam berperilaku dan istiqomah dalam berakhlak sebagai muslimah yang kaaffah. *** Musim panas yang sebenarnya pun di mulai, walau cuaca masih sulit ditebak. Orang-orang sudah mulai berpakaian seadanya, menghindari rasa gerah yang menyekap.
Marwa tetap dengan busana muslimahnya, dan juga jilbabnya. Mustafa kecil datang menghampiri untuk mengelus-elus perut Marwa. Kini ia sudah tahu bahwa beberapa bulan lagi ia akan memiliki seorang adik. Ibundanya sedang mengandung tiga bulan. Hari ini mereka, Marwa, Ali – suaminya, dan Mustafa akan datang kembali ke pengadilan atas kasus penghinaan rasistis oleh Alexander setahun yang lalu. Marwa akan memberikan kesaksian lagi di hadapan hakim. Di setiap proses pengadilan yang sudah berlangsung berkali-kali itu, Alexander selalu mengungkapkan rasa bencinya terhadap Islam. Bahkan ia pernah suatu kali mengancam akan membunuh Marwa. Mendengar semuanya itu, Marwa tetap tidak takut, Ali selalu memberikan dukungan yang penuh untuk istrinya, meski ia tahu, segala kemungkinan bisa terjadi terhadap keselamatan keluarganya. Landgericht Dresden, Rabu 1 Juli 2009. Hanya segelintir orang saja yang hadir di Gerichtsaal (ruang sidang) pagi itu. Memang, kasus ini bukan kasus yang besar, hanya sebuah pengaduan penghinaan. Tidak ada polisi yang berjaga-jaga di sekitar ruangan. Tidak ada alat detektor metal untuk keamanaan, padahal kasus ini mendakwa seseorang yang memiliki kebencian begitu besar.
Mengapa mereka tidak memikirkan hal itu sebelumnya? Pemuda gemuk itu bisa lebih berbahaya dari seorang teroris! Dua orang polisi mengapit tangan kiri dan kanan Alexander ketika memasuki ruangan sidang. Lagi-lagi ia memancarkan aura kebencian terhadap keluarga Mesir itu yang sudah hadir di sana. Tak lama kedua polisi itu pergi, dan pengadilan di mulai. Marwa memberikan kesaksian, menceritakan kembali kisah di musim panas satu tahun yang lalu, membeberkan betapa bencinya Alexander terhadap dirinya, hanya karena ia seorang muslimah dan seorang berjilbab. Ya, Marwa seorang muslimah, dan seorang berjilbab yang pemberani. Ia tidak akan pernah takut dengan ancaman apapun. Bahkan sampai saat itu, ketika Alexander memenuhi janjinya, tiba-tiba beranjak dari duduknya sambil menggenggam sebilah pisau, dan berlari ke arah Marwa.
Ia mengayunkan pisaunya ke tubuh seorang perempuan yang tak berdaya. Menghunus tajam, mencabik-cabik. Dan darah pertama mengucur harum, darah yang sangat mulia di hadapan Allah. Orang-orang di sana berteriak, tetapi tidak ada yang beranjak. Hakim, jaksa, pengacara dan lainnya pun terdiam. Dua kali, tiga, empat, lima, enam, tujuh… tusukan-tusukan itu mendarat bertubi-tubi ke sekujur tubuh Marwa. Darahnya yang merah kehitaman berhamburan ke mana-mana. Mustafa terdiam melihat tubuh ibunya ditikam berkali-kali. Salah satu tusukan itu tertancap ke perut ibunya, yang tadi pagi baru saja dielus-elusnya. Pisau itu sampai juga ke tubuh adiknya yang masih tidur di dalam sana. Ali berusaha menghentikan kebiadaban Alexander , ia melindungi istrinya walau ia tahu, nyawanya juga akan terancam. Beberapa tusukan mendarat ke tubuh Ali, lalu kembali ke tubuh Marwa lagi, dua belas… tiga belas… empat belas… jilbabnya sudah berlumuran darah. Orang-orang berteriak, beberapa polisi segera datang ke ruangan. Dor! Dor! Pistol-pistol polisi itu memuntahkan pelurunya. Tapi peluru itu tidak menembus tubuh Alexander, melainkan tertuju ke Ali. Mengapa mereka bisa salah tembak? Apa karena mereka pikir yang sedang berbuat anarkis saat itu pasti yang berwajah Arab? Apa karena yang membuat keributan di sana pasti orang Islam? Dor! Dan Mustafa menyaksikan bagaimana peluru itu menembus tubuh ayahnya, bagaimana pisau itu menghunus kedua orang tuanya, bagaimana tusukan ketujuh belas… lalu kedelapan belas… Dan bagaimana Marwa merenggang nyawa, meninggalkannya yang baru tiga tahun bersama… Mustafa hanya tahu darah, ibunya sudah tiada, ayahnya koma, dan pemuda itu tidak terluka sama sekali. Mustafa tidak tahu kalau malaikat berpakaian amat bagus dengan wangi yang sangat harum tersenyum menyambut Marwa di ruangan itu. Malaikat-malaikat itu memberikan Marwa pakaian yang sangat indah, pakaian untuk para syuhada di langit sana. Mustafa, bagaimanakah umur empat tahunmu? Umur lima tahunmu? Masa sekolahmu? Masa remajamu? Ibumu dibunuh di depan matamu. Ayahmu sedang koma di depan matamu. *** Kami malas menikmati matahari, setelah mendengar berita itu, berita kematian Marwa oleh seseorang yang membenci Islam, berita yang baru muncul ke publik dua hari kemudian. Ya! Dua hari kemudian! Surat-surat kabar sehari setelahnya tidak ada yang memberitakan kejadian ini. Di Süddeutsche Zeitung? Tidak ada! Di Frankfurter Allgemeine? Tidak ada! Padahal kalau ada berita „seorang muslim menyenggol orang lain“ atau „seorang berjilbab mencolek orang lain“ pasti berita-berita itu akan menjadi berita besar dan menjadi headline news di koran-koran! Tapi berita Marwa? Jangan harap! Bahkan beberapa hari kemudian, surat-surat kabar tidak mengupas mengapa Marwa dibunuh, oleh siapa ia dibunuh, tetapi lebih mengupas tentang rencana perbaikan sistem keamanan di ruangan sidang ke depan! Kami menitikkan air mata mendengar semua ini. Kami menitikkan air mata membayangkan nasib Mustafa saat ini. Mustafa, ini bukan karena kamu ingin bermain di ayunan itu, tetapi ini karena jilbab yang dipakai ibumu.
Berlin, 9 Juli 2009.. FLP Jerman. Dimas Abdirama.
————————————————————————————————-
Sekitar dua bulan lalu saya mengikuti sebuah konferensi mahasiswa di sebuah kota di Jerman Timur, ketika saya berada disana cukup banyak peserta muslimah yang mengenakan jilbab, mayoritas dari Indonesia, ada juga beberapa muslimah yang berasal dari Palestina, Iran, dan Malaysia.
Konferensi yang saya ikuti waktu itu memiliki tema tentang hak asasi manusia sebagian besar dari acara tersebut membahas tentang tema pelanggaran hak-hak asasi manusia , upaya penegakan hak asasi manusia, juga bagaimana peran pemuda khususnya untuk berpartisipasi aktif dalam upaya penegakan hak asasi manusia.
Selama disana saya mendapatkan gambaran tentang betapa open-mindednya orang Jerman. Gaung hak asasi manusia sepertinya merupakan hal yang sudah biasa disana.
Selama disana, kami para muslimah berjilbab alhamdulilah belum pernah mengalami tindakan diskriminatif dikarenakan atribut yang kami pakai.
Mereka menyapa kami seperti halnya menyapa mahasiswa lainnya yang tidak menggunakan atribut agama.
Kami juga menemukan cukup banyak muslimah berjilbab asal negara-negara timur tengah di kota-kota Jerman. Mereka sebagian besar berasal dari Turki dan Iran.
Sungguh saya merasa heran mengapa peristiwa yang menimpa Marwa bisa terjadi disana. Di sebuah negara yang sangat menggaungkan nilai-nilai hak asasi manusia.
Saya ingin sekali menulis sebuah surat kepada teman saya mahasiswa Jerman disana untuk setidaknya berusaha menyuarakan hak asasi kami sebagai muslimah berjilbab.
Semoga peristiwa seperti ini tidak terulang kembali…selamat jalan saudariku semoga Allah membalas perjuanganmu dengan harumnya surga firdaus.amiin
Beberapa foto dari acara Konferensi



Add comment July 12, 2009
Syukuri apapun yang kita miliki
Sore ini terjadi peristiwa sangat memilukan di Pusat Kesehatan Mahasiwa(PKM) UI.
Hari ini merupakan hari kedua pendaftaran mahasiswa baru di UI. Ketika salah seorang mahasiswa
baru yang ditemani ayahnya menjalani pemeriksaan kesehatan di UI, tiba-tiba ayahnya terkena serangan jantung
dan tak lama kemudian meninggal dunia. Tak dapat dibayangkan betapa histerisnya anak tersebut melihat ayahnya
langsung terkapar tak berdaya. Konon katanya ayahnya kelelahan sehingga memicu serangan jantung.
Hal yang telintas dalam pikiran saya adalah betapa beruntungnya saya hingga di akhir masa saya akan
lulus kuliah ayah saya masih hidup dan masih diberikan rizki oleh Allah untuk membiayai kuliah saya hingga selesai.
Bayangkan kita menjadi anak itu, di tengah-tengah rasa bangga, suka, gembira karena berhasil diterima di UI
tiba-tiba sang ayah yang sangat senang akan prestasi anaknya itu, harus meninggalkannya untuk selama-lamanya.
Semoga anak itu mendapatkan bantuan dari berbagai pihak agar ia tetap dapat melanjutkan kuliah hingga selesai
walaupun tak ada lagi ayah yang membiayai.
Sungguh kawan kita patut memperbanyak syukur, syukuri apapun yang kita miliki, sekecil apapun,
terutama nikmat masih memiliki kedua orangtua….
1 comment July 2, 2009
Tips Berkunjung ke Negara yang Mayoritas Non-Muslim
Sebagai seorang Muslim kita memiliki kewajiban setiap hari untuk melaksanakan shalat wajib, menghindari makanan haram, alkohol serta menjauhi kegiatan yang mengarah kepada perbuatan yang tidak disukai Allah.
Bagaimana jika pada suatu waktu kita mendatangi suatu tempat ketika hal-hal yang terlarang bagi seorang muslim menjadi suatu hal yang yang sah-sah saja serta tidak ada adzan/seseorang pun yang mengingatkan kita ketika tiba waktu shalat?
Jujur saja saya pernah mengalaminya…hari-hari itu dapat dibilang sebagai hari-hari ujian terberat bagi keimanan saya.
Padahal sehari sebelumnya saya masih berada di negara yang mayoritas penduduknya Muslim dan sangat Islami.
Hal pertama yang benar-benar diuji adalah waktu shalat yang sangat berbeda dan tidak adanya tempat shalat. Waktu shalat di tempat yg pernah saya datangi itu memiliki waktu shubuh pukul 3 pagi, dzuhur pukul 3 sore, ashar pukul 6 sore, magrib pukul 9 malam, dan Isya pukul 11 malam.
Bagi kaum lelaki banyak yang tidak bisa menunaikan shalat jum’at karena tidak adanya tempat untuk melaksanakan, juga dikarenakan jumlah muslim yang sedikit di tempat itu.
Saya pernah merasakan bagaimana rasanya shalat di dekat kamar mandi, di gerbong kereta, pesawat,dll.
Kalau ingat itu semua betapa saya merasa bersyukur kalau masih bisa menunaikan shalat di tempat yang baik secara berjamaah pula. Sungguh merupakan suatu nikmat besar yang sering kita abaikan.
Serta jangan lupa untuk membawa kompas, karena nggak bisa sembarang orang kita tanya dimana arah kiblat.
Waktu itu saya tidakmembawa kompas, jadi hanya mengandalkan intuisi saja..huhu sungguh menyesal kenapa saya nggak menyiapkan itu sebelum berangkat.
Hal kedua adalah tentang makanan halal.
Saran saya sebaiknya untuk sementara kita menjadi seorang vegetarian atau jika ingin memakan daging hanya memilih olahan ikan/seafood saja. Jika beruntung, kita dapat menemukan toko kebab milik orang turki yang halal di tempat itu.
Untuk membeli makanan usahakan agar kita selalu memeriksa ingredients-nya.
Hindari yang bertuliskan alcohol, wine, beer, lecithin(soya lecithin dibolehkan), Gluten/Gelatin, dan pork/lard.
Hal ketiga adalah tentang pergaulan sehari-hari. Sewaktu saya tinggal di tempat itu saya diberikan tempat tinggal bersama host yang merupakan pasangan kekasih yang tingal satu atap. Awalnya sangat terkejut ketika melihat mereka masuk dalam kamar yang sama dan saya diberikan kamar di sebelah kamar mereka.
Pergaulan bebas benar-benar terjadi di depan mata…sungguh merasa lemah iman ini karena hanya bisa menolak dalam hati saja.
Beer sudah seperti minum obat saja bagi mahasiswa disana , tiga kali sehari..pagi,siang, malam.
Setiap malam selalu ada yang namanya club malam di kampus..ada sekitar tiga club malam di kampus itu.
Suatu hari saya pernah diajak host dan teman-teman saya kesana, waktu itu rasanya antara pengen tahu dan takut dosa….
akhirnya saya memilih untuk menolak dan lebih baik internetan di kamar.
Benar-benar ujian iman..kalau nggak banyak-banyak ingat sama Allah, nggak tahu deh apa jadinya…
Akhirnya hal yang paling penting diingat bagi seorang Muslim yang akan berkunjung ke Negara yang Mayoritas Non-Muslim adalah perkuat iman dan taqwa..karena ujian disana benar-benar ada dihadapan mata kita sendiri,
baik pria maupun wanita ujiannya sama beratnya. Bagi Pria mungkin perbanyak jaga pandangan, karena pemandangan “tidak baik” disana ada dimana-mana.
2 comments July 2, 2009

