Tips Jalan-Jalan ke Luar Negri Murah Meriah
Hal yang paling penting untuk diperhatikan adalah sebaiknya kita sudah memiliki
teman yang dikenal disana selain bisa mengirit uang akomodasi(krn numpang di tempat temen kita itu) n otomatis ada guide
gratis untuk ngajakin keliling2(wah ini sih saya banget,…hehe)
Kalo mau murah, memang sebaiknya rencana perjalanan udah kita plan jauh2 hari apalagi kalo beli tiket pesawat jauh2
hari, harganya akan jauh lebih murah. Misal kita mau ke malaysia/singapur bulan november,
kalo udah beli dari bulan juli harganya paling sekitar 250ribu-400ribu untuk tiket bolak-balik.
Murah bukan?? tentunya naik Airasia(koq saya jadi promosi gini).
Akan lebih murah lagi kalau kita sudah mempersiapkan bekal makanan instan dari tanah air seperti indomie,roti, biskuit2,
sereal, yang penting bisa mengirit untuk beberapa kali makan disana. Daripada dana habis untuk makan lebih baik
untuk ongkos jalan2 kan??
Nah hal-hal yang perlu kita siapkan sebelum berangkat biar lebih ngirit,
pertama siapin kartu NPWP supaya nggak perlu bayar
fiskal. Kalo kita belum berpenghasilan juga tetap bisa membuat kartu ini, tinggal dateng aja ke kantor pajak terdekat.
Nah yang kedua sebaiknya kita sudah menukarkan rupiah kita ke mata uang negara yang mau kita datangi di bank-bank/money changer tanah air.
Hal ini bisa membuat kita lebih untung karena biasanya jika menukarkan ketika di airport/negara tempat kita bertandang,
rupiah kita akan dihargai lebih rendah, jadi rugi deh.
Saya jadi inget pengalaman rugi 200ratus ribu lebih gara2 bolak-balik nuker rupiah ke ringgit trus ke dollar
(hiks..hiks jangan sampe kejadian itu terulang deh)
Tapi jangan lupa siapin uang rupiah Rp150 ribu untuk biaya pajak airport..
nah pajak yang ini baru ditemui di Indonesia. Kalo di nagara lain
biasanya sudah dimasukkan ke biaya pembelian tiket pesawat.
Kalo mau jalan-jalan murah sebaiknya memang kita tidak mengikuti tour, karena ongkos jalan2 sendiri itu sudah terbukti
lebih murah dan memuaskan tentu, karena kita bebas jalan2 tanpa mengikuti jadwal waktu yang ditetapkan pemimpin rombongan tour.
Miliki informasi yang lengkap mengenai tempat-tempat yang akan kita kunjungi bisa lihat di internet maupun ngobrol2 dengan orang yang pernah berkunjung kesana.
Atur budget secermat mungkin, terutama budget untuk jalan2 jangan sampe kita kehabisan. Lebih baik bawa uang dalam bentuk travellers cheque.
Untuk tiket pesawat lebih murah kalo kita mencari maskapai yang sedang promo,
dan lebih murah naik dari negara maskapai itu berasal.
Misal saya naik Malaysia Airline dari Malaysia untuk penerbangan ke Eropa. Sedangkan untuk ke Malaysia saya pilih
maskapai lain yang termurah.
Harganya akan lumayan jauh berbeda(bisa sampe 1 juta lebih), ketimbang saya memilih untuk naik Malaysia Airline langsung dari Indonesia.
Hal tersebut juga berlaku ketika kita akan naik Singapore airline, Thai air, n beberapa maskapai lainnya.
Kalau naik Garuda bisanya lebih mahal (jika tidak ada harga promosi).
1 comment July 1, 2009
Sharing Tips Apply Visa
Beberapa hari ini ada seorang teman yang menanyakan tentang pembuatan visa ke saya, ternyata dia takut kalo di kedutaan tempat membuat visa itu ia akan mengalami berbagai kesulitan…terutama masalah komunikasi. Sebenarnya kebanyakan pegawai di kedutaan adalah orang Indonesia,
jadi nggak perlu takut gitu kalo misalnya kita mau ke Jepang trus takut kalo disana dilayani oleh orang jepang yang ngga bisa bahasa Indonesia..tenang aja pasti orang kedutaan itu harus bisa berbahasa lokal negara tempat kedutaan itu berada.
Alhamdulilah setelah memiliki beberapa cap visa di paspor bisa nih sharing-sharing pengalaman ini, terutama tentang jenis visa yang pernah saya apply, diantaranya visa pelajar dan visa schengen.
Kalau misalnya kita akan belajar di suatu negara selama lebih dari dua bulan kita perlu apply yang namanya visa pelajar. Visa pelajar di tiap negara harganya tentu bervariasi, kalo ke Malaysia harganya sekitar Rp.500 ribu. Nah kalau kita cuma mau berkunjung kurang dari dua bulan ke negara-negara kawasan ASEAN kita nggak perlu apply visa, jadi udah ada perjanjian bebas visa antar negara-negara ASEAN itu.
Visa pelajar bisa berlaku selama satu tahun dan bisa digunakan oleh keluarga kita yang juga ikut menemani kita belajar, misal kalo ada yang udah bersuami/beristri dan memiliki anak, visa pelajar itu juga berlaku untuk suami/istri dan anaknya. Jadi one visa for all the family.
Oh ya kenapa sih kita perlu visa? pertanyaan yang bagus dan simple..
visa tuh ibarat ijin kita untuk memasuki suatu negara jadi jangan sampe kita dianggap pendatang ilegal disana..belum lagi kalo sampe diinterogasi
oleh pertugas imigrasinya.
Masih tentang visa pelajar..jadi visa pelajar itu harus terus diperbaharui selama kita masih terdaftar menjadi mahasiswa di universitas negara tersebut. Jadi tiap tahun harus selalu diperbaharui. Saya punya teman yang nggak mempebaharui visa pelajarnya selama setahun, jadi setelah lulus dia nggak langsung pulang ke tanah air tapi cari kerja dulu dan alhasil suatu hari ketika ada pemeriksaan identitas mendadak di kereta, dia ditangkap dan harus berurusan dengan polisi. Kejadian seperti itu nggak hanya akan menyulitkan kita tapi juga membuat buruk citra KBRI/KJRI di negara tersebut.
Yang berikutnya tentang visa schengen…ini merupakan visa yang kita perlukan ketika kita akan ke negara-negara anggota uni-eropa. Harga visa schengen sekitar 60 euro atau Rp 890ribu. Tempat untuk apply visa ini di kedubes negara eropa tujuan utama kita.
Proses pembuatan visa ini sekitar 2 minggu. Syarat-syaratnya fotopkopi paspor, tiket pesawat,surat undangan acara(kalo kita disana menghadiri acara tertentu), surat asuransi (siapa yg menjamin akomodasi & makan kita), pas foto, dan surat ekomendasi dari tempat kita belajar/bekerja.
Nah mengenai surat asuransi kalo disana kehidupan kita ditanggung oleh organisasi yang mengundang kita kesana pasti mereka akan memberikan kita suraasuransi.
Kalo misalnya kita hanya bertujuan untuk berlibur kesana, kita harus nunjukkin bukti booking hotel dan rekening tabungan kita sebesar min Rp 20 juta(boleh pake rekening orangtua, tapi lengkapi dengan bukti kartu keluarga).
Kalo pesawat kita cuma mau transit aja pun kita harus apply visa negara tempat pesawat kita transit itu. Misal kita mau ke Jerman trus pesawatnya transit di dubai, jadinya kita apply dua visa yaitu visa schengen ke kedubes Jerman & visa transit ke kedubes qatar.
Kalo mau mudah apply visa schengen memang sebaiknya kita sudah memiliki surat undangan dari suatu organisasi, alhamdulilah
waktu itu saya dapat surat undangan dan surat asuransi selama kegiatan acara saya berlangsung.
Nah kalo misalnya kita ingin memperpanjang waktu disana padahal kegiatan acara sudah selesai, kita perlu menunjukkan bukti2 booking hotel atau surat dari tempat kita menginap (misal dari sodara/teman kalo kita akan menginap di tempat mereka)
hmm…sebenarnya nggak sulit koq…memang lebih baik ada suatu purpose yang jelas kalo kita ke suatu negara karena itu akan sangat memudahkan kita dalam apply visa. Kalo mau informasi lengkap bisa berkunjung ke web Kedubes negara yang akan kita kunjungi.
Selamat mencoba untuk meng-apply visa!
6 comments July 1, 2009
Semoga persaudaraan itu tetap terjalin…
Beberapa minggu yang lalu saya tertarik untuk ikutan diskusi dalam sebuah milis
Ini postingan saya:
Selama 4 bulan lebih saya pernah belajar di Malaysia, ketika itu juga saya menyadari betapa bangsa itu sangat menghargai kebudayaannyadan juga berupaya menglobalisasikan Melayu-nya. Ada sebuah ajang Pidato Melayu Internasional yang diadakan oleh pemerintah Malaysia di kampus saya yang diikuti oleh lebih dari 20 negara. Ajang kompetisi mahasiswa dalam bidang kesenian tradisional juga merupakan ajang akbar yang diadakan secara rutin oleh kampus saya, waktu itu saya sempat menjadi peserta sekalian mempelajari kebudayaan daerah-daerah disana…sangat terlihat bahwa betapa perhatian dan bangganya para mahasiswa sana ketika membawakan kesenian tradisional negaranya. Pengalaman saya ketika ke Malaka melihat museum dan peninggalan kolonialisasi Portugis, yang merupakan salah satu objek pariwisata yang diunggulkan Malaysia ke mancanegara membuat saya berharap semoga Indonesia dapat belajar banyak dari negara itu khususnya dalam bidang pariwisata juga bagaimana pelestarian terhadap “cultural heritage” , saya yakin Indonesia sebenarnya jauh lebih kaya dalam hal itu. Best Regards , Puspa
Dan ini dia serangan balasan dari yang lainnya di milis:
yang ‘nyerang’ pertama :
Belajar dari Malaysia sih boleh-boleh saja, tapi belajar yang baik-baiknya. Misalnya belajar bagaimana kebijakan pemerintah Malaysia di bidang perdagangan dan keuangan patut ditiru pemerintah SBY. Tetapi belajar tentang budaya, sorry saja, Malaysia adalah negara yang tak beradab. Mengklaim banyak budaya Indonesia sebagai miliknya dan menjadikannya sebagai ikon dalam bidang industri terutama industri budaya dan pariwisata. Soal Ambalat misalnya, merasa sudah mendapatkan P. Sipadan dan P. Ligitan lalu mau ambil kesempatan untuk mendorong lagi batas-batas wilayahnya sampai jauh ke laut Sulawesi. Apa Sulawesi juga milik Malaysia? Dimana logika dan moral Malaysia? Berdasarkan Mahkamah Internasional P. Sipadan dan P. Ligitan itu HANYA PULAU-nya saja yang diakui Mahkamah Internasional tetapi bukan perairan yang termasuk Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia. Malaysia telah meratifikasi UCLOS, bahwa Malaysia bukan negara kepulauan seperti Indonesia. Makanya kalau Malaysia menganggap negara yang beradab, Ambalat adalah milik Indonesia karena dihitung dari landas kontinen Kalimantan, itu termasuk Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia. Malu dong. Bagaimana harus belajar ke Malaysia kalau Malaysia mau mencaplok Ambalat yang kaya Migas milik Indonesia yang telah sejak lama telah dieksplorasi ENI dan CHEVRON dengan pengawalan tentara Indonesia. Bagaimana mau belajar ke universiti-universiti Malaysia yang ranking apple to apple-nya saja masih jauh di bawah ITB, UI, UGM. Yang terus belajar tetapi bukan kepada Malaysia
yang ‘nyerang’ kedua :
Belajar dari Malaysia, menurut saya bukan hanya masalah budaya nya…karena Indonesia pun sangat menghargai budaya kita sendiri……bagaimana keberadaan budaya di Indonesia jangan sampai menjadi kan kita terkotak-kotak…dan akhirnya kita malah tidak mengedepankan Nasionalisme dan kesatuan dan keutuhan bangsa ini….. Kebudayaan adalh kekayaan yang dimiliki bangsa kita yang besar ini dan harus dilestarikan keberadaannya, tp bukan terus kita tidak boleh meniru kemajuan bangsa lain…dalam istilah lainnya nggak bisa gaul=kolot bgt….. Masalah dengan Malaysia belakangan ini yang terjadi di perairan dekat AMBALAT menurut saya ada kepentingan tertentu dari Malaysia….Koq bisa-bisanya kata Deplu Malaysia yang diperairan itu kepolisian nya Malaysia…terus koq kata Deplu Malaysia ini HANYA MASALAH KEDAULATAN…Pikirkan koq nya menurut Deplu Malsysia itu perbatasan sebuah negara itu sepertinya ya biasa-biasa aja…BINGUNG saya ….kalau biasa-biasa aja mbok yang nggak ada kerjaan itu mutar2 naik kapal masuk teritorial negara lain itu yang harus disiplinkan…percuma kalau Budaya yang baik bisa dipertahankan sedang masalah disiplin diperairan nggak…. Saya pikir masalah NKRi itu penting,khususnya yang diperairan apa lagi berhubungan dengan kekayaan laut yang kita miliki…… dan keadaan bangsa kita yang sangat unik menurut saya karena banyaknya pulau baik besar dan kecil itu yang menyebabkan unik…siapa saja yang mau jadi orang no 1 di RI ini harus mempertahankan NKRI sampai titik darah penghabisan artinya Hidup mati and all out….jangan jadi negarawan yang tanggung-tanggung dong! Sekian Terima Kasih
My Closing Statement for those guys:
Selama belajar di negara itu, saya menjalin persahabatan dengan banyak teman ada yang berasal dari Kelantan, Sabah, Sarawak, Terengganu,dll Alhamdulilah saya nggak pernah merasa direndahkan atau dipandang sebelah mata karena berasal dari Indonesia. Setelah mengikuti program pertukaran pelajar disana saya mendapatkan suatu pandangan baru terhadap negara Malaysia, bahwa negara tersebut memang sangat menghargai dan melestarikan warisan kebudayaan serta kekayaan alam yang mereka miliki. Hal ini merupakan salah satu yang menjadikan negara ini menghasilkan pendapatan yang besar dalam sektor pariwisata maupun industri. Saya harap negara Indonesia dan Malaysia senantiasa dapat menjalin hubungan bilateral yang baik, serta tidak saling menyakiti kedaulatan dan hak milik satu sama lain. Dengan adanya hubungan bilateral yang baik antara kedua negara, saya yakin dapat memberikan keuntungan bagi kedua belah pihak. Mengutip dari ucapan seseorang di televisi”bisa diibaratkan Indonesia sebagai kakak dari Malaysia..saat ini sang adik sedang mengganggu kakanya..sudah seyogianya sang kakak mengingatkan dan menasehati sang adik semata-mata karena ia menyayangi adiknya..tidak perlu ada yang saling tersakiti”
3 comments June 11, 2009
around the world
Meski mengejar deadline TA …tetep aja banyak hal yang pengen saya lakukan…(sprtinya dampak dari ikutan acara-acara skala internasional..bertemu dengan orang-orang keren dari seluruh belahan dunia..)…I wanna visit other part of the world..alhamdulilah Eropa udah dijelajahi,,the next big event HPAIR in Seoul & Tokyo…buat temen2 yg baca blog saya ..coba2 ikutan ..jangan pesimis dulu sama biaya yg harus dikeluarkan insya Allah ada jalannya..yang penting usaha dulu…banyak sekali manfaat yg bisa didapatkan dari ikut kegiatan seperti ini..kalo bahasa saya sih ikutan acara seperti ini membuat saya menjadi someone who thinks globally but act locally!
HPAIR
The Harvard Project for Asian and International Relations is a student-run organization at Harvard offering a forum of exchange for the most important issues relevant to Asia today.
lengkapnya visit web HPAIR
2 comments June 10, 2009
Asean University Student Conference 2009
Pada tanggal 21-24 Mei kemarin diadakan kegiatan Asean University Student Conference 2009 di Bandung, Jawa Barat. Konferensi ini dibuka oleh Menteri Negara Pemuda dan Olahraga Adhyaksa Dault pada Rabu, 20 Mei lalu dan diikuti oleh 180 orang yang dikirim oleh pemerintah dari seluruh Negara anggota ASEAN(Filipina, Myanmar, Malaysia, Brunei Darussalam, Laos, Vietnam, Thailand, Kamboja, Indonesia, dan Singapura ) dan serta mahasiswa perwakilan dari berbagai universitas di Indonesia.

Dari konferensi tersebut dihasilkan sebuah Joint Statement yang merupakan aspirasi dari para peserta conference terhadap terhadap tema yakni “Enriching and Preserving the Cultural Heritage”. Dari hasil konferensi ini juga menghasilkan usulan agar didirikan sebuah ASEAN Youth Center di kota Bandung yang nantinya akan berfungsi sebagai pusat informasi kebudayaan negara-negara ASEAN.


Sebagai salah satu peserta yang diundang dalam konferensi ini, saya mendapatkan banyak pengalaman dan pengetahuan berharga mengenai bagaimana upaya pelestarian nilai-nilai luhur budaya dan kesenian yang dilakukan oleh berbagai institusi di ASEAN, selain itu saya mendapatkan banyak kawan baru yang kebanyakan peserta yang berasal dari Malaysia, Brunei dan Vietnam



2 comments May 24, 2009
International Student Week in Ilmenau
Bersama 19 peserta dari berbagai universitas di Indonesia diantaranya UI,ITB,Unpad, UGM, UII, UPI, dll mengikuti International Student Week in Ilmenau (ISWI 2009)

Pada hari pertama diadakan International Brunch yang menggelar berbagai makanan dari negara-negara peserta. Stan makanan Indonesia menjadi stan yang paling banyak dikunjungi karena selain menyediakan berbagai jenis makanan juga dijual kerajinan batik,wayang, juga ada pembagian sovenir Angklung kepada pengunjung stan



Selain menggelar stan, peserta dari Indonesia juga menampilkan pertunjukan tari saman, dan tarian khas dari jawa barat. Selain itu peserta dari Indonesia juga menampilkan permainan alat musik gendang dan angklung yang mendapat sambutan sangat meriah dari para penonton


International Student Week in Ilmenau merupakan kegiatan yang diadakan tiap dua tahun sekali oleh sebuah Universitas Teknik Ilmenau di Jerman bagian Timur.
Tahun 2009 Indonesia kembali terpilih mengikuti International Student Week in Ilmenau (ISWI). Sebelumnya, pada 2005 dan 2007, delegasi Indonesia mendapat banyak perhatian yang cukup besar pada acara ini. Hal ini karena pertama kalinya, sejak ISWI diadakan pada 1993, Indonesia mengirimkan delegasinya ke salah satu pertemuan mahasiswa tingkat dunia terbesar tersebut. Indonesia tercatat sebagai peserta terjauh dan terbanyak dari wilayah Asia Tenggara, selain itu juga berhasil memberikan banyak kesan positif pada lebih dari 300 mahasiswa dari seluruh dunia, termasuk publik lokal dan tokoh-tokoh internasional yang turutmenyukseskan acara tersebut.
Dalam banyak kesempatan, delegasi Indonesia berkesempatan untuk memperkenalkan ragam kebudayaan Indonesia. Stand Indonesia juga ramai didatangi pengunjung yang ingin melihat hasil-hasil kerajinan tangan Indonesia, brosur, majalah serta buku mengenai Indonesia. Selain itu, pengunjung dapat mencoba berbagai alat musik tradisional Indonesia, serta mencicipi berbagai makanan Indonesia.
Selain memperkenalkan kebudayaan Indonesia, para delegasi mahasiswa dari Indonesia juga mengikuti kegiatan lecture dan diskusi kelompok yang bertemakan “Human Rights-Right Now!”. Dia akhir kegiatan, para peserta kegiatan ini mempresentasikan hasil kerja kelompok mereka yang berisikan pendapat dan solusi mengenai berbagai topik yang terkait dengan Human Rights.
2 comments May 12, 2009
Refleksi Sepulang ke Tanah Air
Sepulang dari tanah air secara berturut-turut saya dihadapkan dengan dua hari fenomenal di tanah air,
Hari Buruh dan Hari Pendidikan, belum lagi berita menyedihkan tentang bocornya soal UN,
juga diculiknya seorang wanita Indonesia yang ramai dibicarakan bahkan ada yang menanyakan ke saya yang tidak mendengar apapun mengenai berita tersebut disana.
Senang sekali bisa kembali merasakan dinamika di fakultas dan di kampus tercinta,
menyerap energi mahasiswa Indonesia dengan segala keberagamannya..sungguh saya sangat merindukannya
Disana sangat berbeda…aktifitas kampus terasa hampa..hambar..kering..nggak dinamis..
Padahal sepertinya dulu saya merasa fakultas saya sangat tidak berdinamika..ternyata disana saya menemukan
yang lebih tidak berdinamika lagi..selesai kuliah kemudian pulang, lab dengan berpuluh komputer terbaru dibiarkan menganggur
karena mahasiswa lebih memilih langsung pulang karena mau internet dimana-mana juga ada nggak perlu ke lab.
Setelah 4 bulan lebih tidak pernah mencicipi kemacetan Ibukota(karena terbiasa menaiki monorel),
tidak merasakan gerahnya naik angkot (karena disana terbiasa naik bis AC/taksi Ac),
tidak menemukan pengamen atau pengemis di pinggir jalan(karena mengemis/mengamen dilarang disana bahkan dikenakan denda 500 ringgit),
ada kesedihan,kemarahan,ketidakadilan,yang saya rasakan
ingin rasanya saya berteriak….meneriakkan betapa bangsa ini sangat kaya,dengan beragam kebudayaan,kekayaan alam
tapi mengapa masih banyak saja rakyat yang dekat dengan kemiskinan..kebodohan
ada keinginan untuk memperjuangkan keadilan bagi saudara-saudara yang mencari sesuap nasi dengan menjadi TKI disana…
ada keinginan untuk memajukan pariwisata dan melindungi kebudayaan bangsa supaya bangsa lain tak sembarangan mengakui hak miliknya…
ada keinginan untuk memajukan perekonomian sektor kecil menengah supaya bangsa kita lebih baik tak menjadi TKI di luar tapi lebih memilih memajukan ekonomi di negeri sendiri…
ada juga keinginan untuk melanjutkan sekolah setinggi-tinginya…
saya seperti telah kembali dari sebuah liburan panjang dan sekembalinya dari liburan itu ,
mata saya terbuka lebar, hati saya lebih peka, telinga saya lebih tajam (agak lebay sih tapi ini beneran lho..),
liburan itu membuat saya mampu merefleksikan diri
memikirkan dengan jernih apa saja yang telah saya perbuat dan apa rencana-rencana saya ke depan.
Mungkin jika saya bertandang ke negara yang telah jauh maju dibandingkan tanah air sendiri seperti di benua Eropa atau Amerika,
saya tak dapat merasakan ini, tetapi karena saya mendengar bahwa dulunya negara kita jauh lebih hebat bahkan banyak dari mereka yang belajar ke negara kita,
dan saat ini saya merasakan betapa jauh tertinggalnya negara kita dari mereka, benar-benar membuat miris.
Ditengah berita kegemilangan prestasi Indonesia meraih juara teratas di kompetisi International Young Scientist di Polandia mengalahkan negara-negara Eropa dan Amerika
juga prestasi membanggakan Bang Shofwan Al Banna di ajang Student Award di Swiss,
keduanya merupakan bukti konkrit bahwa bangsa ini memang hebat..cerdas, bekerja keras..masih memiliki cita-cita dan harapan.
~I believe that one day, this country will be a great one,
trying to figure out what should we give to our country not what should we deserve…
2 comments May 2, 2009
Surat untuk Teman (2)
Hingga pada H-14 ini … masih belum ada kepastian
Teman, karena kalianlah saya kembali optimis ..
Saya kembali yakin bahwa pasti ada cara untuk mencapainya ..
Tanpa kalian perjalanan ini hanya akan saya tempuh sendiri..
Sepi …alangkah indahnya jika saya dapat pergi bersama kalian
..Teman janganlah berputus asa… kalian masih memiliki harapan
Jika saja saya memiliki sesuatu kelebihan untuk diberikan kepada kalian maka akan saya beri
Tapi pemberian yang saya dapatkan sekarang ini hanya cukup untuk sendiri..
ingin rasanya berbagi tapi ini adalah amanah yang harus saya pertanggungjawabkan juga ke orang yang memberikan…
Perjalanan Jkt-Franfurt-Jkt selama 27 jam bukanlah sesuatu yang mudah untuk ditempuh sendiri..
..Ya Rabb berikanlah kemudahan kepada kedua teman saya yang sedang berjuang disana…saya tak ingin pergi sendiri..
KL, 23 April 2009
5 comments April 23, 2009
Surat untuk Teman…
It’s already decided , I have no hope…
Pasrah yang saya rasakan pada hari itu…
Pesimis…merasa nggak fair..
Tapi alhamdulilah tiba-tiba saya teringat suatu hal
saya mencoba menghubunginya..
dan alhamdulilah dia bersedia…
alhamdulilah harapan itu menjadi kenyataan
Frankfurt sudah di depan mata…
Ami, Endah kita pasti bisa…
Walaupun kita menjadi peserta yang terakhir berangkat kesana tapi setidaknya we’re attending the event…
perjuangan memang sangat berat dibandingkan teman-teman lain yang dibiayai oleh kampus mereka..
sementara kita diberi ongkos untuk visa pun tidak…* sorry , jadi curhat nih..*
semoga kita dapat memberikan yang terbaik untuk bangsa dan almamater kita…
walaupun dianggap sebagai peserta dari Malaysia , saya tetap akan bergabung bersama kalian disana
satu lagi kenikmatan yang harus disyukuri…
Ya Allah..berikanlah kemudahan bagi kami, berikanlah kelancaran dalam usaha kami..Amiin
KL, 22 April 2009
4 comments April 21, 2009
Kriteria Film Islami
Kriteria Film Yang Tidak Melanggar Syariah
Untuk bisa dikatakan Islami dan bernilai dakwah, sebuah film tentu perlu dicermati dari banyak sisi. Karena pada dasarnya film itu merupakan penggabungan antara sekian banyak aliran seni dan sekian macam disiplin ilmu. Di dalam sebuah film, hampi semua unsur itu ada. Sehingga menilai dan mengurai apakah sebuah film itu bersifat Islami atau belum, perlu kajian yang mendalam. Dan kajian itu harus dilakukan sejak niat film itu hendak dibuat oleh para pembuatnya. Bukan dengan
menggunakan sistem sensor dimana selalu ada kucing-kucingan antara para seniman film dengan lembaga yang kerjanya menyensor. Kalau ada adegan yang kena gunting sensor, maka pembuat filmnya pasti komplain, karena bisa merusak alur cerita dan sebagainya. Padahal untuk pembuatan sudah menelan biaya besar. Tapi kalau tidak kena, bisa jadi masyarakat yang akan menyensornya dengan protes dan sejenisnya.
Lalu mengapa semua pihak tidak duduk bersama terlebih dahulu untuk membicarakan konsep sebuah film yang layak tonton, Islami dan punya nilai positif. Disana duduk para produser, pemilik modal, sutradara, penulis cerita, lembaga sensor, para pendidik, pengamat sosial, tokoh budaya dan yang paling penting adalah ulama syariah. Sehingga begitu sebuah film dirilis, semua merasa puas atas hasilnya karena memenuhi semua kriteria.
Karena terus terang saja bahwa dunia film ini umumnya `dikuasai` oleh kalangan yang tidak terlalu akrab dengan agama. Paling tidak dalam motivasi pembuatannya. Umumnya film terutama sinetron di televisi tidak lain dari sebuah industri / bisnis murni yang lebih mengedeoankan keuntungan material ketimbang visi seni, apalagi visi dakwah.
Sehingga di masa awal demam sinetron, para seniman sejati dalam dunia film tidak terlalu menghargai produk-produk production house itu, karena lemah unsur seni filmnya dan cenderung sekedar mengejar tayang dan dan dibuat asal jadi. Yang penting bikin cerita sebanyak-banyaknya meski tidak bermutu, lalu meraup iklan sebesar-besarnya agar bisa menutupi biaya produksi.
Dalam kondisi idealisme film / sinetron yang parah seperti itu, sangat sulit memikirkan kualitas film, apalagi bicara film Islami. Namun bukan berarti kita harus pesimis dengan keadaan ini. Karena suatu saat orang-orang akan jenuh dan bosan sinetron yang itu itu saja dan akan datang masanya mereka memilih tayangan yang lebih bermutu.
Nah, pada saat itulah seniman muslim dan umat secara keseluruhan dituntut untuk bisa memproduksi tayangan yang punya visi Islam dan dakwah. Untuk itu sejak dini perlu dibuatkan kriteria dan idealita sebuah produk tayangan yang Islami.
1. Cerita
Cerita sebuah film Islami tidak harus melulu tentang sejarah nabi atau para shahabat. Juga tidak harus film-film berbahasa Arab dengan kostum berjubah dan bersurban dan setting padang pasir. Namun cerita bisa saja tentang potret masyarakat dengan kehidupan nyata mereka sehari-hari yang dituturkan dengan cara yang menarik, segar dan kreatif serta artistik.
Untuk itu dibutuhkan ide-ide segar dari para penulis naskah yang tentunya harus punya kematangan dalam memahami ajaran Islam. Sehingga meski bertutur tentang keseharian, namun tetap lekat dan kental dengan dakwah dan visi Islam. Umat Islam perlu punya semacam lembaga pendidikan khusus untuk para penulis cerita Islami dan mereka harus dikenalkan dengan visi dan misi dari sebuah cerita yang bernuansa Islami. Bahkan mereka perlu berlajar syariat Islam agar benar-benar paham apa yang akan mereka tulis.
Masyarakat tentu sudah bosan dengan cerita tidak masuk akal gaya sinetron Indonesia yang melulu tentang orang-orang kaya, mobil mewah, rumah megah dan mobil wah. Tapi isinya orang-orang jahat semua, karena tidak lepas dari selingkuh, pacaran, gossip, pelewengan dan terus terang saja : PERZINAAN!! . Semua itu justru tidak membumi karena tidak realistis dan cenderung ditinggalkan penonton.
Selain itu, penting juga untuk diperhatikan bahwa cerita yang Islami itu seharusnya jauh dari potret percintaan manusia lain jenis seperti pacaran atau hasrat-hasrat yang muncul antara laki-laki dan wanita. Jangan sampai judulnya bicara tentang orang betawi misalnya, tapi ceritanya masalah pacaran melulu. Atau cerita tentang ustaz yang baik, tapi alur cerita tidak jauh dari para wanita-wanita cantik yang naksir dan kesengsem sama pak ustaz dan masing-masing saling berebut hatinya pak ustaz. Sehingga pokok cerita menjadi seolah cerita cintanya pak ustaz dengan para wanita cantik. Apalagi ada adegan pak ustaz harus kencan dengan para wanita, atau naik mobil berdua saja atau makan di restoran berduaan. Ini jelas tidak Islami dan perlu dikritik. Karena biar bagaimana pun mereka bukan mahram sehingga tidak halal untuk berduaan walau di tempat umum.
2. Kostum dan Aurat Wanita
Meski sebuah cerita menuntut adegan atau peran tokoh antagonis atau yang tidak Islami, bukan berarti menampilkan wanita dan auratnya menjadi boleh. Kalau pun harus muncul sosok wanita, maka seharusnya wanita yang menutup aurat dengan tidak mengekspose kecantikannya atau lemah gemulai sosoknya. Dan kalau `terpaksa` harus menggambarkan adanya wanita yang tidak menutup aurat seperti potret kebanyakan, maka harus diusahakan agar tidak menjadi center of interest dari sebuah adegan.
Yang lebih baik dan aman adalah film itu menampilkan sesedikit mungkin para wanita, karena khawatir fitnah yang akan muncul.
3. Akting
Dalam sebuah film terkadang dituntut untuk menggambarkan hal-hal yang tidak Islami dan bernilai maksiat. Pertanyaannya adalah : Bisakah dibenarkan seorang muslim melakukan akting dan berpura-pura melakukan kemaksiatan atau kekufuran ?
Jawabannya perlu dikupas dan dipilah terlebih dahulu. Misalnya adegan kemaksiatan itu adalah minum khamar, tentu saja tidak boleh menggunakan khamar sungguhan. Atau adegan membunuh manusia , tentu saja tidak boleh membunuh betulan. Tapi bagaimana kalau adegan perkosaan, percumbuan atau perzinaan ? Bolehkah melakukannya dengan lawan main yang non-mahram, meski hanya pura-pura ?
Film-film Hollywood umumnya memberikan gambaran apa adanya, sehingga adegan seksual antara non-mahram pun selalu ada di setiap tayangan mereka, bahkan sudah menjadi sesuatu yang harus ada. Sebaliknya, karena dunia timur yang notabene kebanyakan muslimin ini hanya jadi pengekor barat, maka adegan-adegan tidak senonoh pun sering tampil di layar film Indonesia. Bahkan beberapa waktu yang lalu, film-film tipe seperti inilah yang menghiasi hampir semua bioskop di Indonesia. Seolah-olah adegan seperti itu justru menjadi inti dari film meski jalan ceritanya tidak jelas.
Dalam film Islami dan bernilai dakwah, semua hal tersebut jelas tidak mungkin dibuat dan tidak boleh terlintas di benak para sineas muslim. Karena sejak awal semua tahu bahwa menampilkan adegan-adegan seperti itu meski tidak vulgar, justru memberi ruang kepada syetan untuk menggoda para penonton. Minimal adegan itu telah membangkitkan khayal dan keinginan rangsangan meski pun misalnya hanya dalam bentuk suara di balik pintu kamar. Yang jadi inti masalah bukan ada adegannya atau tidak, tapi kesan yang ditimbulkan di benak para penonton itulah yang harus dijaga.
4. Sutradara
Sutradara adalah otak dari sebuah produksi film, karena itu kriteria sutradara untuk film yang Islami harus lebih diperhatikan. Sosoknya adalah mereka yang benar-benar paham dan punya visi yang Islami secara shahih dan syamil. Bukan sekedar mewarisi semangat Islam dari sisi keturunan atau lingkungan.
Sosok sutradara ini harus benar-benar orang yang aktif `mengaji` dalam arti yang sesungguhnya, agar penggambaran demi penggambaran yang dilakukannya tidak lepas dari koridor syar`i.
Juga agar penggambaran itu tidak terkesan menggurui tapi membuat para pemirsa merenungi diri sendiri. Karena seni dakwah melalui film itu bukanlah indoktrinasi vulgar, tetapi melalui nilai-nilai yang disebar sepanjang film. Dakwah dan masukan Islami bisa diselipkan disana sini sesuai dengan kreatifitas dan kecerdasan sutradara.
5. Pemeran / Pemain Film
Idealnya sosok para pemeran adalah mereka yang dalam kesehariannya adalah orang-orang yang shaleh. Sehingga apa yang diperankannya dalam film itu memang mencerminkan jiwa dan kepribadiannya juga.
Akhlaq para pemain di luar film haruslah akhlaq yang Islami pula, karena yang namanya dakwah meski lewat film adalah dakwah juga. Bukan semata-mata seni peran yang memerankan orang baik dan buruk. Sehingga tidak pantas film dakwah dimainkan oleh mereka yang akhlaqnya bertentangan dengan dakwah Islam itu sendiri. Yang masih suka mengumbar nafsu syahwat, membuka aurat dan bergaul bebas dengan lain jenis. Biar bagaimana pun fil dakwah bukan sekedar komoditas seni belaka, tetapi dia adalah sebuah produk dakwah, yang sejak hulu hingga hilir harus selaras dengan visi dakwah yang diembannya.
Namun kita sadar bahwa untuk mendapatkan sosok pemeran yang memenuhi kriteria itu tidak terlalu mudah. Ini akibat hedonisme dan permisifisme yang sering identik (atau malah sengaja diidentikkan) dengan sosok para arits dan selebriti.
Ketidak-sesuaian antara karakter asli pemeran dengan lakon dan peran yang dimainkan sedikit banyak akan mengganggu para penonton yang mengenal sosok aslinya. Kalau dia adalah seorang yang baik dan hanif lalu berperan sebagai tokoh antagonis, mungkin tidak terlalu masalah. Namun kalau sebaliknya, di film jadi ustaz atau orang baik, tapi ketika ketemu sosok aslinya ternyata lagi joget di diskotik sambil teler menenggak alkohol. Nah, kan berabe.
6. Produser
Produser pun idealnya punya fikrah dan pemahaman Islam yang baik, sehingga ketika memproduksi film itu, sejak awal niatnya ibadah dan dakwah. Sehingga pertimbangan dalam setiap keputusan yang diambilnya selalu bervisi yang baik. Bukan sekedar asal laku filmnya dan asal murah. Sementara kualitas dan visi Islamnya tidak diperhatikan.
7. Kru
Sebuah produk tayangan film yang Islami, idealnya memiliki kru yang juga punya wawasan dan kecintaan pada Islam serta setia mengaplikasikan ajaran Islam dalam diri mereka. Bahkan ketika pembuatan film sedang berlangsung, maka kru yang Islami adalah mereka yang tetap memperhatikan waktu-waktu shalat. Dan bila bertepatan dengan Ramadhan, maka tetap menjalankan ibadah puasa.
Ketika saat break datang, mereka tetap menjalankan shalat lima waktu dengan berjamaah. Serta mengisi saat saat kosong dengan sesuatu yang bermanfaat, misalnya zikir, tilawah Al-Quran, diskusi yang positif dan seterusnya. Bukannya malah senang-senang di bar dan diskotik melepas lelah sambil memuaskan nafsu syahwat.
Idealnya teman-teman seniman film itu berprilaku Islami dalam semua hal. Misalnya, ketika bulan puasa mereka tetap aktif puasa semuanya. Malam hari mereka isi dengan tarawih berjamaah, sahur dan berbuka puasa di lokasi syuting. Bahkan pagi hari mereka mengadakan kuliah subuh. Sehingga gema dan syiar Ramadhan tidak terlewatkan begitu saja hanya alasan sibuk bekerja di lokasi syuting. Bahkan kalau perlu mendatangkan para ustaz yang secara bergilir memberi pelajaran dan siraman rohani ke lokasi. Bahkan hebatnya lagi, meski di luar ramadhan, mereka pun tidak ada yang merokok apalagi minum khamar.
Karena akan menjadi lucu kalau sebuah film yang judulnya saja sudah dakwah, tapi saat-saat pembuatan filmya, para krunya tidak pernah shalat, saat Ramadhan tidak puasa, kerjanya main ke diskotik dan campur baur dengan wanita penghibur. Walhasil, nilai dakwahnya hilang sebelum film itu sendiri selesai dibuat. Allah SWT berfirman :
`Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan`. (QS. Ash-Shaff : 2-3).
8. Sponsor
Idealnya, sebuah film Islami dispansori oleh perusahaan yang produknya baik dan tentu saja harus halal. Kita tidak bisa membayangkan kalau membuat film dakwah tapi sponsornya pabrik bir atau rokok. Sehingga terjadi kontradiksi antara isi tayangan dengan sponsornya.
9. Tayangan iklan
Sebuah produk itu bisa saja halal dan baik, tapi perusahaan iklannya tidak bervisi yang baik. Maka jadilah iklan benda halal itu harus menampilkan wanita telanjang atau adegan lainnya yang bertentangan dengan syariat, etika, moral atau perasaan.
Misalnya iklan mobil, mobilnya sih baik-baik saja, tapi kenapa tampilan iklannya harus wanita yang berpakaian seadanya ? Hal ini jelas tidak sesuai dengan citra dan visi film itu sendiri.
10. Waktu Tayang
Tentu saja sebuah film yang diniatkan menjadi fil Islami akan rusak nilainya manakala ditayangkan dengan melanggar waktu-waktu shalat. Atau waktu-waktu yang utama untuk mengerjakan ibadah yang lebih khusus. Misalnya, tidak ditayangkan pada saat azan maghrib. Atau kalau bulan Ramadhan, maka harus diusahakan tidak ditayangkan pada saat shalat tarawih. Karena para penonton jadi terbelah konsentrasinya antara shalat tarawih dan nonton film Islami. Tentu tidak lucu kalau sampai shalat tarawih ditunda / diakhirkan hanya karena ingin nonton.
Dan tentu masih banyak detail-detail lainnya yang harus dibicarakan terlebih dahulu dalam produksi sebuah film Islami. Agar jangan sampai niat yang baik itu menuai / panen kritik dari kalangan muslim sendiri.
11. Konsultan Syariah
Karena itu minimal sebuah produksi film Islami itu harus memiliki konsultan syariah yang bekerja secara serius membiacarkan adegan demi adegan sehingga betul-betul mencerminkan sebuah film dakwah.
Sumber: Kuliah Syariah Online(Bab Fiqh Kontemporer)
2 comments April 18, 2009
