Inspiration of Life

Cerita tentang Harapan ..Impian..dari seorang Puspa Setia Pratiwi

Keuatamaan Sedekah

Dalil dari bentuk sedekah yang bukan berupa harta adalah sebagai berikut: Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
“Setiap ruas tulang manusia wajib disedekahi, setiap harinya selama matahari masih terbit. Mendamaikan antara dua orang (yang berselisih) adalah sedekah, menolong seseorang naik ke atas kendaraannya dan mengangkat barang-barangnya ke atas kendaraannya adalah sedekah, berkata yang baik adalah sedekah, setiap langkah berjalan menuju shalat (jamaah) adalah sedekah, dan menyingkirkan gangguan dari jalan adalah sedekah”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Dzar radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu alaihi wa Sallam, ia berkata:
“Bukankah Allah telah menjadikan bagi kamu sesuatu untuk bersedekah? Sesungguhnya tiap tasbih adalah sedekah, tiap tahmid adalah sedekah, tiap tahlil adalah sedekah, menyuruh kepada kebaikan adalah sedekah, mencegah kemungkaran adalah sedekah, dan persetubuhan salah seorang di antara kamu (dengan istrinya) adalah sedekah”.

Ketika ada yang bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah seseorang di antara kami yang memenuhi syahwatnya mendapat pahala?”

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menjawab: “Apa pendapat kalian jika orang tersebut memenuhi syahwatnya pada hal yang haram, apakah dia berdosa? Maka, demikian pula jika ia memenuhi syahwatnya itu pada yang halal, ia mendapat pahala”.

Dari Abu Dzar ra, dia berkata, Rasulullah Saw bersabda, “Senyummu di hadapan saudaramu (sesama muslim) adalah (bernilai) sedekah bagimu.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Hibban).

Leave a comment »

Alhamdulillah Ngeblog lagii..

Insya Allah saya akan kembali ngeblog disini…

Now, I am a full time mother and a full time lecturer :)

Leave a comment »

Kitchenery

Dari jaman SMP dulu udah beberapa kali nyoba berbagai jenis resep masakan , ada yang hasilnya enak ada juga yang hasilnya asli nggak bisa dimakan (hehe…). Kalau ada acara masak di TV pasti suka sok nyatet resepnya tapi jarang banget dicoba. Makanya gw suka kagum sama peserta Junior Master Chef yang kecil-kecil udah pada jago masak. Padahal waktu seumuran segitu paling banter gw baru bisa masak mi rebus (hohoho..)

Semenjak harus hidup mandiri di luar negeri dengan kondisi yang nggak seperti di rumah semua ada Ibu yang masakin, jadi terdorong buat belajar berbagai jenis masakan. Waktu kuliah di KL sering masak juga tapi nggak setiap hari. Apalagi waktu beberapa bulan tinggal di Eropa dimana untuk membeli seporsi makanan harus mengeluarkan uang minimal Rp.100 ribu (itu udah yang paling murah lho).

Ternyata kalau masak sendiri itu kita jadi lebih menghargai namanya makanan dan sayang banget kalau sampe nggak dimakan atau dibuang karena belinya pakai uang sendiri dan masaknya yang nggak gampang juga

Makan pagi, siang, malam semua harus masak sendiri kecuali kalau lagi ada undangan makan di luar itupun jarang banget paling cuma seminggu sekali.

Sekarang lagi mulai belajar masak Cake basah dan kering semacam Brownies , Muffin, dan Chiffon.

Beberapa foto-foto masakan waktu tinggal merantau di Geneva kemarin. Walaupun dengan dana seadanya dan sulitnya mencari makanan halal bersyukur masih bisa makan 4 sehat 5 sempurna disana*lebay*. Kalau dipikir-pikir sekarang jadi heran sendiri koq gw bisa ya bertahan hidup disana selama 3 bulan walau berat tapi beneran pengen lagi kesana. Perhaps one day (Amiin..)

IMG_1648

IMG_1925

IMG_1647

1 Comment »

Happy Ngebolang

Kenapa pake kata ‘Ngebolang’ ? karena sepertinya itu adalah kata yang tepat untuk menggambarkan gimana kisah backpacker amatir melakukan solo eurotrip :P . Tujuan saya sharing cerita ini bukan untuk sombong apalagi pamer, saya yakin pasti ada yang perlu baca cerita-cerita seperti ini sewaktu kita mau pergi travelling ke suatu tempat. Mengetahui pengalaman orang lain itu perlu banget untuk diambil hikmah dan pelajaran. Pengalaman naik kereta di Frankfurt dulu setidaknya  membuat saya sedikit pede untuk melakukan perjalanan ini.

Kota ngebolang pertama adalah Barcelona, Spain

Selain karena tiket promosi gede-gedean dari si E*syjet, saya terpengaruh oleh presentasi dosen kelas Marketing yang promosiin kota ini hampir 3 jam . Ternyata memang bener kota ini keren sekali, arsitekturnya perpaduan gaya klasik dan modernisme.

Sepulang dari kantor, saya langsung ke airport dan tiba disana sekitar jam 9 malem. Sebelumnya saya sudah mengontak temen saya yang sedang kuliah disana, ternyata tempat tinggalnya jauh bener dari Airport .  Dengan bantuan peta metro yang saya dapat di bandara, akhirnya sampai juga di stasiun Metro deket asrama temen saya itu. ternyata Metro di Barcelona cukup murah sekitar 4 Euro untuk 10 trip.

Pagi keesokan harinya saya keliling kota dibekali petunjuk dari teman saya itu dilengkapi peta Metro. Temen saya nggak bisa jadi guide karena harus belajar buat ujian finalnya besok.

Rencana saya pagi itu mulai perjalanan dari Sagrada Famillia, Park Guell, La Ramba lanjut Plaza Espanya terus ke Olympic Stadium , ternyata kenyataannya nggak urut seperti itu. Akhirnya sempet mengunjungi itu semua dan terakhir ke markasnya FC Barcelona, Camp Nou. Di Camp Nou saya cuma keliling foto-foto di depan stadionnya Barca sama ke Official Merchandise storenya. Lumayan bisa dapet beberapa oleh-oleh asli Barca buat saya dan temen-temen yang sempat nitip ke saya sebelum berangkat.

Plaça Espanya barcelona

Sagrada Famillia

Camp Nou, FC Barcelona

Kota ngebolang kedua adalah  Brussels, Belgium

Alasan saya memilih pergi Brussels karena ada beberapa teman yang sedang magang disini juga karena harga promo tiket yang cukup murah dari Ea*yjet.com .

Pagi-pagi sekali selepas subuh sekitar jam 5 pagi menuju ke airport karena penerbangan jam 6 pagi. Jalanan sekitar Gare Cornavin masih sepi dan gelap tapi bis dan mobil sudah mulai banyak terlihat. Lalu naik bis ke airport dan langsung lari menuju ke tempat boarding karena sudah mendekati jam keberangkatan. Alhamdulillah masih sempet nyampe sana sebelum loket boarding ditutup.  Setelah perjalanan sekitar 55 menit akhirnya sampai juga di bandara Brussels.

Dari bandara langsung ke bawah tempat terminal bis menuju pusat kota Brussels.  Tempat tujuan awal adalah kantor parlemen European Commission . Setelah mengambil dua mata kuliah tentang kebijakan Politik Ekonomi Eropa , saya menjadi ingin tau gimana sih kantor parlemen Eropa. Selanjutnya keliling Grand Place yang jadi pusat kota Brussel trus ke beberapa istana kerajaan, ke markas Nato, terakhir ke Atomium yang jadi icon-nya kota ini.

Cuma ada di Brussels

The Grand Place 

IMG_1147

Atomium

IMG_1203

Markas Parlemen Eropa

Markas NATO

Disini saya sempet ngambil foto depan gerbangnya tapi diminta dihapus sama petugas keamanan disana karena alasan keamanan, waktu itu sempet diancam mau ditangkep kalau foto di kamera saya nggak dihapus.(Galak bener sih Pak, saya cuma ngambil gambar aja buat koleksi pribadi bukan buat mata-mata, sigh..)

Tragedi di Brussels

Pagi berikutnya saya harus meninggalkan kota ini dan kembali kerja. Saya naik kereta menuju Airport Brussels setelah berpamitan pada temen saya yang sudah berbaik hati memberi tumpangan kamarnya sehingga dia harus mengungsi ke tempat temennya. Sampai di stasiun beli tiket kereta ke bandara dan menuju ke platform tempat kereta. Saya sudah cek ulang nomer platform dan waktu keberangkatan , semuanya tepat dan dengan pede-nya saya naik ke kereta yang tiba tanpa nanya dulu ke orang. Akhirnya kereta berangkat dan setelah 15 menit petugas pengecek tiket datang dan dia memeriksa tiket saya dan memberitahukan kalau saya salah naik kereta  , dan ini bukan kereta jurusan bandara tapi ke LUXEMBURG sodara-sodara…

Saya dikasih rute balik lagi ke stasiun awal, badan udah lemes pas tau saya salah naik kereta karena pesawat saya setengah jam lagi berangkat sementara waktu yang saya perlu sekitar sejam untuk ke bandara.

Nggak ada alternatif lain selain balik ke rumah temen saya.. oke akhirnya saya memutuskan untuk menemui temen saya dan minta bantuan dia untuk nyariin tiket pesawat . Setelah ketemu temen saya, dia bantuin ngecek di web dan ternyata tiket baru murah sekitar 5 hari lagi karena hari itu hari kamis dan udah deket weekend.

Akhirnya saya ingat temen saya di Amsterdam, Teh Fenny, yang sudah lama ikut suaminya bekerja disana. Saya kenal teh Fenny karena dia sahabatnya temen saya dan pernah dateng ke KL.  Brussel ke Amsterdam cuma sekitar 2,5 jam naik kereta dan kalau hari kerja tiket kereta lebih murah apalagi umur saya masih dibawah 26 jadi masih dapet harga Pelajar. Setelah menghubungi Teh Fenny akhirnya saya ke stasiun dan beli tiket kereta langsung berangkat jam itu juga kesana.

Mendadak ke Amsterdam

Akhirnya sore itu tiba di Amsterdam dijemput sama temennya teh Fenny karena dia lagi sibuk bantuin acara di Mesjid. Jadi saat itu sedang ada Ustadz yang didatangkan khusus untuk mengisi kajian di Mesjid dan teh Fenny sedang kebagian jadi panitia acara. Jadilah saya diajakin langsung ke tempat acara yaitu di Mesjid komunitas Indonesia di Osdorp dan kenalan dengan orang-orang Indonesia disana. Sebelumnya saya punya persepsi kalau Amsterdam adalah kota yang nggak banyak muslimnya, ternyata persepsi saya salah sodara-sodara, dimana-mana hampir tiap ujung jalan ada muslimah yang pakai hijab padahal ini kota terkenal liberal banget. Apalagi daerah tempat tinggalnya teh Fenny, yang mayoritas isinya orang Turki sama orang Indonesia, kasir dan pelayan toko juga banyak yang muslimah berjilbab. Beberapa hari ikutan pengajian, salut banget sama orang Indonesia disana pada semangat banget ikut acaranya sampe malem dan antusias berpartisipasi di sesi tanya jawab. Banyak diantaranya yang udah tinggal disana lebih dari 10 tahun bahkan sudah punya rumah atau usaha disana.  Jadi pengen nggak balik ke Geneva, lebih enak suasana  kekeluargaan di Amsterdam. Tapi kenyataannya saya harus balik karena ijin liburan dari kantor sudah habis.

Stasiun Amsterdam

Masjid EuroMuslim di Osdorp

Selama disana saya tinggal bersama keluarganya teh Fenny,  di rumahnya masih ada satu kamar yang kosong dan bisa saya tempatin sementara . Teh Fenny dan temannya Mas Heri mengajak saya jalan-jalan ke berbagai tempat di Den Haag dan Amsterdam . Sewaktu di DenHaag tempat pertama yang dikunjungi adalah istananya Ratu Belanda. Setelah itu mampir foto di depan KBRI Den Haag, lanjut ke Mahkamah Internasional. Hari berikutnya jalan-jalan ke tempat kincir angin (mollen), Volendam, dan pabrik keju khas Belanda , nama tempatnya Schanseskahn(susyah bener namanya..). Oh iya saya juga sempet foto pakai pakaian khas Belanda jaman dulu di Volendam (sepertinya itu kudu kalau ke Amsterdam, hampir semua foto2 yg dipajang disana adalah turis dari Indonesia)

KBRI di Den Haag

Picture 552

Kincir Angin di Schanseskahn, Amsterdam

Picture 595

Mahkamah Internasional Den Haag

Belanja Bahan Makanan Indonesia

Emang bener tuh iklan Indo*ie yang baru, di Belanda emang komplit banget yang namanya makanan dari Indonesia , akhirnya bisa beli berbagai bumbu siap jadi dan mi instan buat perbekalan nanti kalau pulang ke Swiss.

Terjebak di Airport

Ini pengalaman yang paling “Backpackers” : terjebak harus nginep di airport karena udah kemaleman dan nggak ada transportasi lagi untuk ke pusat kota. Semoga pengalaman seperti ini nggak terulang lagi dan diambil aja hikmahnya, kalau ambil penerbangan jangan terlalu malam karena peluang untuk pesawat delay lebih besar daripada penerbangan siang.

Hari terakhir di Amsterdam  saya harus kembali ke Brussel karena beli tiket pesawat lebih murah dari sana. Setelah naik kereta ke bandara (alhamdulillah nggak salah naik kereta lagi) saya menunggu pesawat kembali ke Geneva. Ternyata pesawatnya delay 2 jam sodara-sodara, jadilah saya baru sampe tengah malam dan akhirnya harus menginap di airport Geneva karena  pastinya sudah nggak ada bis atau kereta lagi ke kota. Terpaksa deh sama penumpang yang lain menjadi pengungsi di bandara tidur di kursi tunggu bandara sampe pagi. Jam 5 pagi sudah ada bis dari bandara yang beroperasi, dan akhirnya sampailah di Foyer tempat tinggal saya.

Alhamdulillah

Jadi dapat saya simpulkan dari pengalaman saya pada beberapa hal di bawah ini:

– Perbanyak do’a dan dzikir selama dalam perjalanan supaya kita lebih tenang dan nggak panik kalau mengalami hal-hal tak terduga

– Banyak Bertanya terutama untuk memastikan transportasi yang akan digunakan

– Miliki Peta Transportasi

Beberapa peta yang bisa diunduh sebelum pergi ke Barcelona, Brussel, Amsterdam

Peta Metro Barcelona

Peta Metro Brussel

Peta Metro Amsterdam

– Beli Tiket Pass Harian (Daily Pass) untuk transportasi umum dalam kota

– Bawalah perbekalan minuman dan makanan

– Hati-hati naik Transportasi umum, perhatikan petunjuk arah yang ada pada stasiun supaya tidak salah naik

– Siapin uang receh untuk beli tiket di mesin

 

“ One’s destination is never a place, but a new way of seeing things.” – Henry Miller

4 Comments »

Thank you Dad

Thank you Dad…
For encouraging me to forge my own path instead of assuming that the paths of others would necessarily be right for me…

For teaching me how to be thankful for each blessing that we’ve received from Him..

For being my biggest advocate (even still) and for believing in me even before I believed in myself. …

For being oh-so-generous with your time listening intently to my wishes…

For inspiring me to be a responsible individual, to work hard and to strive to do good in this world…

For illustrating the power of forgiveness..

Thank you, Dad, for so many things…

Dedicated to my beloved Dad on behalf of Father’s Day and his Birthday : )


Amsterdam, 20 June 2011

Leave a comment »

Sense of Community

Menurut McMillan & Chavis (1986)  “Sense of Community adalah perasaan dimana sekelompok orang merasa saling memiliki, dan merasa saling ketergantungan satu sama lain, dan percaya bahwa kebutuhan mereka akan terpenuhi melalui komitmen kebersamaan. “Sense of Community” ini menjadi semakin kuat kalau sekelompok orang tersebut berada jauh dari negeri asal mereka karena ketergantungan dan kebutuhan itu menjadi semakin kuat. Begitulah “Sense of Community” yang terjadi di kalangan masyarakat Indonesia disini.

Akhir pekan lalu akhirnya bisa ikutan acara pengajian bulanan yang diadakan di PTRI Geneva. PTRI(Perwakilan Tetap RI) itu institusi Deplu yang hanya berada di negara-negara yang memiliki markas PBB seperti di New York dan di Geneva. Jadi orang-orang yang bekerja disana memang para staff departemen luar negeri RI yang ditugaskan disini.

IMG_0543

Gedung PTRI


Acara seperti ini menjadi acara yang sangat menyenangkan untuk seorang mahasiswa sebatang kara yang hidup di kota termahal kelima di dunia yang harus mikir dua kali untuk membeli sekilo beras atau sepotong ayam (lebay abis..) karena di acara seperti ini pasti ada terhidang berbagai makanan khas Indonesia. Hihi bahagia banget akhirnya ketemu nasi uduk, ayam goreng, kerupuk, dll.

IMG_0518

Makanan waktu di acara

Setelah kontak -kontak beberapa orang Indonesia via FB, email, dll, akhirnya dapet juga undangan untuk bergabung dengan acara-acara komunitas Indonesia disini. Ternyata acara seperti ini selalu diadakan tiap bulan dan terbuka untuk semua orang Indonesia yang tinggal di Geneva. Alors… kapan lagi bisa nemu Nasi Kuning dan Nasi Uduk di Geneva sekalian menjalin silahturahim.

Selain materi yang disampaikan oleh Pak Ustad yang juga staff di KBRI, hari itu kedatangan pembicara istimewa, Prof. Quraish Shihab. Beliau ternyata sedang mengadakan tur keliling Eropa dan bertepatan sekali hari itu beliau mengunjungi Geneva jadinya beliau diminta mengisi kajian. Waktu di Indonesia belum pernah ketemu beliau, ketemunya kok malah di Geneva. Kajian yang beliau sampaikan cukup menarik karena bentuknya tanya jawab seputar kehidupan sehari-hari para warga Indonesia di Geneva disana.  Satu hal yang banyak dikeluhkan warga disana adalah sulitnya memberikan pendidikan keislaman ke anak-anak mereka karena lingkungan yang tidak kondusif  dan sekuler disana.

IMG_0514

Pak Ustad sedang menyampaikan ceramahnya

IMG_0533

Pak Quraish Shihab sedang menjawab pertanyaan para hadirin

IMG_0536
Foto bareng sama Pak Quraish Shihab

Selain acara di PTRI juga saya sering diundang ke rumah beberapa orang Indonesia yang saya kenal disini, yang pertama Ibu rumah tangga dengan dua anak, yang kedua mbak-mbak yang ternyata rumahnya nggak jauh dari rumah saya di Bekasi,  lucu juga ketemunya malah di Geneva. Ibu yang pertama saya kenal dari FB, beliau udah disini lebih dari 30 tahun jadi kalau ke rumahnya semua pada pake bahasa Perancis tapi beliau tiap tahun selalu mengusahakan untuk pulang ke Jakarta. Anaknya si Ibu itu yang jadi guru les bahasa Prancis saya disini. Yang kedua, namanya mba Eni, jago banget masak, disini dia kerja di toko Pastry, jadi tiap kesana pasti banyak kue-kue :9. Terakhir kesana dia buat Bakso dan Rendang, bahagia banget deh kalau pulang dari sana karena selalu dibungkusin (asik..asik…)

1 Comment »

Moments to Remember

Merasa kehilangan sesuatu kalau sesuatu itu sudah jauh..

Itu yang saya alami sekarang, walaupun belum genap setahun berada di kampus itu tetapi rasanya semua sahabat disana sudah seperti keluarga sendiri. Banyak kenangan indah selama belajar disana, baik suka maupun duka.
Playing backsound : The Fray -“How to Safe a Life”

Dari mulai sulitnya cari tempat tinggal , sulitnya beradaptasi dengan teman-teman dari berbagai negara, mengejar deadline tugas, belajar di kantin kolej sampai malem , nyobain semua barang pajangan di IKEA, dimarahin security gara-gara makan di library, makan-makan di Spaghetti Farm, belanja di MidValley, keliling kota naik motor, jalan-jalan ke Langkawi dan Cameron Highland dan masih banyak lagi. Semua sepertinya berakhir dengan begitu singkat.

Leave a comment »

J’ai besoin apprendre le français

Setelah hampir sebulan tinggal di kota yang mayoritas ‘French speaking’ ini, saya merasa bahwa penting sekali untuk belajar bahasa Perancis. Setidaknya saya bisa paham tulisan-tulisan yang ada di iklan pinggir jalan, membalas sapaan orang yang menyapa saya, menanyakan tempat atau harga suatu barang.

Sewaktu di SMA dan juga setahun lalu saya pernah kursus bahasa ini tapi cuma beberapa bulan setelah itu nggak pernah dipelajarin lagi hingga sekarang saya merasa PERLU sekali untuk mengulang kembali apa yang pernah saya pelajari juga menambah kosakata baru.

Berbeda sekali dengan waktu belajar bahasa Inggris yang sudah dipelajarin dari jaman kecil jadi belajar bahasa dari dasar sekali seperti ini merupakan tantangan yang cukup berat. Dari mulai belajar nama-nama hari, angka, tanggal, jam, sampai gimana saat yang tepat mengucapkan kata -kata seperti Voila , D’accord, S’il Vous Plait, dsb.

Modal belajarnya : beberapa buku materi bahasa Perancis dasar, kamus Inggris-Perancis, Indonesia-Perancis, modul yang dapat waktu kursus dulu, plus file-file audio yang berisi percakapan native speaker.
learning french


Metode belajarnya setiap pagi sebelum berangkat ke kantor minimal belajar setengah jam untuk menghabiskan satu bab dan menghafalkan 10 kosakata baru.

Sepertinya memang bener kalau kita mau menguasai suatu bahasa adalah dengan tinggal di tempat dimana bahasa itu digunakan, dan lagi-lagi alasannya adalah karena kita dituntut oleh lingkungan sekitar untuk bisa beradaptasi dengan mereka . Konsekuensinya kalau nggak mencoba berkomunikasi dengan bahasa mereka yang saya alami seperti merasa dibedakan misalnya sewaktu kita belanja menanyakan barang, penjualnya akan lebih ramah kalau kita menanyakannya dalam bahasa Perancis. Hmm pernah waktu itu ketemu penjual toko yang sama sekali nggak bisa bahasa Inggris jadi beneran kerasa ‘menderita’-nya kalau orang lain nggak mengerti apa yang kita maksud.

Semoga dua bulan ke depan kemampuan bahasa Perancis saya membaik dan semua yang pernah saya pelajarin dulu bisa kembali digunakan. oh ya.. setiap weekend saya coba praktik sama temen orang Indonesia yang hampir seumur hidup tinggal disini, sebagai gantinya dia minta saya ngajarin dia membaca Iqro karena dia pengen banget bisa baca Qur’an jadi sembari cari ilmu sekalian mengamalkan ilmu deh.

3 Comments »

a Newbie in Geneve

Long time ago…. saya pernah punya impian mau kerja di kantor PBB dan beneran nggak nyangka
kalau mimpi ini jadi kenyataan.
Meski judulnya cuma magang tapi tetep aja namanya kerja juga disana.
Jadi untuk dapet kesempatan magang itu jalurnya ada dua , ada yang official dan yang langsung direkrut dari officernya. Kalau saya masuk dari jalur yang kedua, jadi biasanya infonya ada di web unjobs.org.
Proses untuk bisa diterima lumayan mudah soalnya kalau magang di UN itu biasanya nggak dibayar dan yang penting harus sedang menempuh pendidikan Master/S2. Jadi kalau kita ada bukti dukungan finansial yang mencukupi dari kampus atau dari keluarga itu udah kemungkinan besar bisa diterima disini. Syaratnya ada surat rekomendasi dari kampus, dari professor di kampus yang kita kenal, terus isi form P11 yang ada di webnya UN.
Awal tiba di Geneva status saya masih homeless alias belum punya akomodasi tetap jadi sementara tinggal di hostel yang udah saya book lewat internet.  Jadi bulan Mei-Juni biasanya hostel , hotel disini fully booked karena banyak yang mau liburan kesini.

Tempat tinggal saya deket banget ke wilayah Perancis, tinggal jalan 10 menit juga udah di wilayah negara yang berbeda. Jadi semua harga barang di toko deket flat harganya dalam Euro bukan dalam Franc.
Harga barang-barang pastinya lebih murah di deket perancis daripada di tengah Geneva .  Kalau untuk makanan halal cukup mudah mencarinya disini karena lumayan banyak muslim yang tinggal di daerah ini, yang pakai jilbab juga banyak lho disini. Kalau biasanya saya masak seadanya ya maklum ngirit biaya hidup tinggi banget terutama untuk tempat tinggal yang biayanya sepuluh kali lipat sewa kamar saya yang di Malaysia. Hampir semua orang disini pake bahasa Perancis, modal bahasa perancis saya dikit banget sisa-sisa dulu belajar di SMA sama kursus privat kilat sama temen yang  kuliah di Sastra Perancis, jadi kemana-mana harus bawa buku dan kamus bahasa perancis dasar.

Di UN itu tiap musim pasti ada banyak mahasiswa dari berbagai macam negara yang magang disini,
saya baru kenal beberapa teman magang juga yang berasal dari Amrik, Ethiopia, dan India. Pegawai di tempat saya magang baik dan welcome banget sama anak magang. Waktu hari pertama semua diundang lunch buat menyambut dan kenalan sama anak magang baru . Ruang kerja di kantor pemandangannya bagus banget bisa lihat Mont Blanc jadi kalau lagi pusing sama kerjaan tinggal lihat pemandangan di luar deh biar fresh lagi.. 

 

bendera semua negara anggota PBB

IMG_0344

Badge identitas semua pegawai di UN, wajib dibawa tiap mau masuk gerbangIMG_0337

Gerbang utama Palace des Nations
IMG_0343

Yang paling tepat untuk dateng ke Geneva buat magang ya pas bulan Mei atau Juni karena pemandangannya lagi bagus. Foto-foto yang saya ambil waktu jalan-jalan keliling kota, kotanya kecil jadi jalan sejam aja udah bisa keliling ke beberapa tempat.

IMG_0265

So awesome

IMG_0245

 

 

 

IMG_0264

IMG_0244

 

6 Comments »

A Trip to the Island of Gecko

*Gecko is a symbol of luck in Lombok
Tulisan tentang perjalanan liburan keluarga selama tiga hari dua malam ini ditujukan untuk kedua sahabat saya Leni dan Sidik yang insya Allah akan berbulan madu ke Lombok bulan depan.
IMG00228-20110103-1539

Bandara Selaparang, Mataram

Perjalanan dimulai ketika kami mendarat di Bandara Selaparang, Mataram. Kira-kira butuh waktu 1 jam 45 Menit dari Jakarta plus 1,5 jam menunggu pesawat kedatangan pesawat yang delay. Karena sampai sana sudah sore, hari pertama di Lombok belum bisa jalan-jalan ke tempat wisata. Saya langsung menuju ke hotel dan jalan-jalan di pantai sekitar hotel (btw, hotel ini recommended banget untuk travellers yang bawa suami/istri/keluarga karena kamarnya yang cukup besar dan harganya tidak terlalu mahal).

Hotel ini terletak di pinggir pantai yang paling terkenal di Lombok, Senggigi. Selain hotel ini, masih banyak tersediia resort atau hotel khas backpacker di sepanjang jalan dekat pantai. Dari bandara dibutuhkan waktu sekitar 15 menit menggunakan mobil untuk menuju ke daerah Senggigi ini.

Peta Lokasi Hotel

Hari itu kami sempat mencicipi lezatnya masakan khas Lombok yang namanya Plecing Kangkung (wajib dicoba untuk yang doyan wisata kuliner).
Plecing Kangkung Lombok

Plecing Kangkung Khas Lombok

Ada lagi masakan khas Lombok yang maknyus :P, Ayam Taliwang (the best roasted chicken ever :p )

Ayam Taliwang

Ayam Bakar Taliwang Khas Lombok

Hari Kedua
Setelah sarapan di Hotel, kami memulai untuk mengeksplorasi tandingannya pulau dewata ini . Perjalanan dimulai sekitar pukul 9 pagi, target hari ini adalah Pantai Gili Trawangan. Untuk menuju ke Bangsal (pelabuhan untuk transfer kapal ke pulau Gili) dibutuhkan waktu 1 jam perjalanan menggunakan kendaraan pribadi (kami menyewa mobil beserta sopir, kira2 biayanya 500 ribu untuk 3 hari).

Dari Bangsal, kami menyewa kapal motor(biayanya sekitar Rp 200.000 untuk PP)untuk mengangkut kami ke Gili Trawangan. Setelah sampai di Gili Trawangan,yang nampak di sepanjang jalan di pinggir pantai kebanyakan para turis asing yang lalu-lalang sambil bersepeda atau bersiap untuk diving.

Untuk para pecinta dunia menyelam bawah laut, Gili Trawangan merupakan salah satu surganya. Hal ini terbukti dengan banyaknya usaha yang menyediakan jasa penyewaan kapal dan alat-alat diving disana. Untuk menyewa alat Snorkling biayanya sekitar Rp 100.00, untuk Diving biayanya Rp 300-400 ribu sudah termasuk biaya sewa kapal ke tengah laut.

Penyewaan Alat SnoorklingPenyewaan Alat Snorkling di Gili Trawangan


Paket wisata di Gili

Papan Daftar Paket Wisata di Gili

Selain bisa Snorkling atau Diving, pengunjung dapat juga menyewa kapal yang memiliki bagian bawah kaca (biaya Rp 100.000 per orang) untuk melihat keindahan bawah laut disana. Pengunjung juga dapat menyewa kapal untuk menuju ke Pulau Bali.Kebanyakan turis asing merupakan turis yang berasal dari Bali dan menyewa kapal ke Gili Trawangan

Hari Ketiga

Perjalanan dimulai dengan mengunjungi Desa Wisata penduduk suku Sasak. Sekitar 85% penduduk Lombok adalah keturunan suku ini. Dari kebudayaannya cukup mirip dengan suku yang ada di Bali tetapi bedanya suku ini memeluk agama Islam bukan Hindu. Desa Wisata ini merupakan bagian dari proyek PNPM pemerintah yang berupaya untuk menggerakkan perekonomian di desa ini melalui wisata budaya yang ditawarkan.
IMG00179-20110103-1056

Desa Wisata Suku Sasak

Tiap kelompok pengunjung akan ditemani oleh seorang pemandu yang merupakan penduduk asli dari Desa Sasak. Konon katanya di desa ini jika ada seorang pemuda yang ingin meminang seorang gadis maka ia diharuskan untuk menculik si gadis tersebut agar memperoleh ijin dari orangtua si gadis.(ckckck…). Kami mendapat kesempatan untuk masuk ke dalam rumah khas suku Sasak yang memiliki atap depan yang sangat rendah (turis asing yang badannya tinggi wajib merunduk untuk dapat memasuki tempat ini). Kami sempat berbincang dengan seorang nenek yang memamerkan ketrampilannya membuat sirih yang menjadi kebiasaan para wanita disana.

Sirih khas Sasak
Anak-anak di desa Sasak

Anak-anak di Desa Suku Sasak

Tur keliling desa diakhiri dengan mengunjungi sebuah rumah yang menawarkan hasil kerajinan yang dibuat para penduduk.
Kerajinan Rotan Khas Sasak

Tenun Khas Sasak

Kerajinan khas Sasak

Hasil Kerajinan Penduduk Desa Suku Sasak

Galeri Kerajinan Lombok
Di galeri ini para pengunjung dapat menyaksikan secara langsung proses pembuatan tenun dan batik khas Lombok.
Pengunjung juga dapat langsung mencoba menggunakan alat tenun dan mempelajari teknik membuat kain tenun langsung dari para pengrajin.

Selain itu pengunjung juga dapat mencoba bagaimana menggunakan canting untuk membuat pola-pola pada kain batik.
Berbagai jenis kerajinan dijual di galeri ini mulai dari lukisan, kain tenun, batik,patung, furnitur, juga perhiasan dari mutiara.

IMG00153-20110103-0910

Salah seorang Pengrajin  sedang mengajari saya bagaimana membuat kain Tenun

Pantai Kuta

Sorenya kami menyempatkan untuk mengunjungi salah satu Pantai terindah di Pulau ini, Pantai Kuta. Jadi nggak cuma Bali yang punya Pantai Kuta, di Lombok juga ada lho. Jika dibandingkan dengan Senggigi, Pantai Kuta ini jauh lebih sedikit pengunjungnya tapi keindahannya nggak kalah dengan Senggigi. Kalau ingin menikmati keindahan pantai sekelas Bali dengan suasana yang tenang dan tentram, tempat ini highly recommended deh!
Kuta, Lombok

Kuta, Lombok

Kuta, Lombok

Pemandangan di sekitar Pantai Kuta, Lombok

Akhirnya sudah tiba waktunya untuk kembali ke Jakarta, kami langsung menuju ke Bandara Selaparang dan menunggu pesawat tujuan Jakarta. oh ya sebelum pulang kami mampir dulu untuk membeli oleh-oleh khas Lombok seperti kerajinan mutiara dan kain tenun.

1 Comment »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 402 other followers