Inspiration of Life

Cerita tentang Harapan ..Impian..dari seorang Puspa Setia Pratiwi

Kriteria Film Islami

on April 18, 2009

Kriteria Film Yang Tidak Melanggar Syariah

Untuk bisa dikatakan Islami dan bernilai dakwah, sebuah film tentu perlu dicermati dari banyak sisi. Karena pada dasarnya film itu merupakan penggabungan antara sekian banyak aliran seni dan sekian macam disiplin ilmu. Di dalam sebuah film, hampi semua unsur itu ada. Sehingga menilai dan mengurai apakah sebuah film itu bersifat Islami atau belum, perlu kajian yang mendalam. Dan kajian itu harus dilakukan sejak niat film itu hendak dibuat oleh para pembuatnya. Bukan dengan
menggunakan sistem sensor dimana selalu ada kucing-kucingan antara para seniman film dengan lembaga yang kerjanya menyensor. Kalau ada adegan yang kena gunting sensor, maka pembuat filmnya pasti komplain, karena bisa merusak alur cerita dan sebagainya. Padahal untuk pembuatan sudah menelan biaya besar. Tapi kalau tidak kena, bisa jadi masyarakat yang akan menyensornya dengan protes dan sejenisnya.

Lalu mengapa semua pihak tidak duduk bersama terlebih dahulu untuk membicarakan konsep sebuah film yang layak tonton, Islami dan punya nilai positif. Disana duduk para produser, pemilik modal, sutradara, penulis cerita, lembaga sensor, para pendidik, pengamat sosial, tokoh budaya dan yang paling penting adalah ulama syariah. Sehingga begitu sebuah film dirilis, semua merasa puas atas hasilnya karena memenuhi semua kriteria.

Karena terus terang saja bahwa dunia film ini umumnya `dikuasai` oleh kalangan yang tidak terlalu akrab dengan agama. Paling tidak dalam motivasi pembuatannya. Umumnya film terutama sinetron di televisi tidak lain dari sebuah industri / bisnis murni yang lebih mengedeoankan keuntungan material ketimbang visi seni, apalagi visi dakwah.

Sehingga di masa awal demam sinetron, para seniman sejati dalam dunia film tidak terlalu menghargai produk-produk production house itu, karena lemah unsur seni filmnya dan cenderung sekedar mengejar tayang dan dan dibuat asal jadi. Yang penting bikin cerita sebanyak-banyaknya meski tidak bermutu, lalu meraup iklan sebesar-besarnya agar bisa menutupi biaya produksi.

Dalam kondisi idealisme film / sinetron yang parah seperti itu, sangat sulit memikirkan kualitas film, apalagi bicara film Islami. Namun bukan berarti kita harus pesimis dengan keadaan ini. Karena suatu saat orang-orang akan jenuh dan bosan sinetron yang itu itu saja dan akan datang masanya mereka memilih tayangan yang lebih bermutu.

Nah, pada saat itulah seniman muslim dan umat secara keseluruhan dituntut untuk bisa memproduksi tayangan yang punya visi Islam dan dakwah. Untuk itu sejak dini perlu dibuatkan kriteria dan idealita sebuah produk tayangan yang Islami.

1. Cerita

Cerita sebuah film Islami tidak harus melulu tentang sejarah nabi atau para shahabat. Juga tidak harus film-film berbahasa Arab dengan kostum berjubah dan bersurban dan setting padang pasir. Namun cerita bisa saja tentang potret masyarakat dengan kehidupan nyata mereka sehari-hari yang dituturkan dengan cara yang menarik, segar dan kreatif serta artistik.

Untuk itu dibutuhkan ide-ide segar dari para penulis naskah yang tentunya harus punya kematangan dalam memahami ajaran Islam. Sehingga meski bertutur tentang keseharian, namun tetap lekat dan kental dengan dakwah dan visi Islam. Umat Islam perlu punya semacam lembaga pendidikan khusus untuk para penulis cerita Islami dan mereka harus dikenalkan dengan visi dan misi dari sebuah cerita yang bernuansa Islami. Bahkan mereka perlu berlajar syariat Islam agar benar-benar paham apa yang akan mereka tulis.

Masyarakat tentu sudah bosan dengan cerita tidak masuk akal gaya sinetron Indonesia yang melulu tentang orang-orang kaya, mobil mewah, rumah megah dan mobil wah. Tapi isinya orang-orang jahat semua, karena tidak lepas dari selingkuh, pacaran, gossip, pelewengan dan terus terang saja : PERZINAAN!! . Semua itu justru tidak membumi karena tidak realistis dan cenderung ditinggalkan penonton.

Selain itu, penting juga untuk diperhatikan bahwa cerita yang Islami itu seharusnya jauh dari potret percintaan manusia lain jenis seperti pacaran atau hasrat-hasrat yang muncul antara laki-laki dan wanita. Jangan sampai judulnya bicara tentang orang betawi misalnya, tapi ceritanya masalah pacaran melulu. Atau cerita tentang ustaz yang baik, tapi alur cerita tidak jauh dari para wanita-wanita cantik yang naksir dan kesengsem sama pak ustaz dan masing-masing saling berebut hatinya pak ustaz. Sehingga pokok cerita menjadi seolah cerita cintanya pak ustaz dengan para wanita cantik. Apalagi ada adegan pak ustaz harus kencan dengan para wanita, atau naik mobil berdua saja atau makan di restoran berduaan. Ini jelas tidak Islami dan perlu dikritik. Karena biar bagaimana pun mereka bukan mahram sehingga tidak halal untuk berduaan walau di tempat umum.

2. Kostum dan Aurat Wanita

Meski sebuah cerita menuntut adegan atau peran tokoh antagonis atau yang tidak Islami, bukan berarti menampilkan wanita dan auratnya menjadi boleh. Kalau pun harus muncul sosok wanita, maka seharusnya wanita yang menutup aurat dengan tidak mengekspose kecantikannya atau lemah gemulai sosoknya. Dan kalau `terpaksa` harus menggambarkan adanya wanita yang tidak menutup aurat seperti potret kebanyakan, maka harus diusahakan agar tidak menjadi center of interest dari sebuah adegan.

Yang lebih baik dan aman adalah film itu menampilkan sesedikit mungkin para wanita, karena khawatir fitnah yang akan muncul.

3. Akting

Dalam sebuah film terkadang dituntut untuk menggambarkan hal-hal yang tidak Islami dan bernilai maksiat. Pertanyaannya adalah : Bisakah dibenarkan seorang muslim melakukan akting dan berpura-pura melakukan kemaksiatan atau kekufuran ?

Jawabannya perlu dikupas dan dipilah terlebih dahulu. Misalnya adegan kemaksiatan itu adalah minum khamar, tentu saja tidak boleh menggunakan khamar sungguhan. Atau adegan membunuh manusia , tentu saja tidak boleh membunuh betulan. Tapi bagaimana kalau adegan perkosaan, percumbuan atau perzinaan ? Bolehkah melakukannya dengan lawan main yang non-mahram, meski hanya pura-pura ?

Film-film Hollywood umumnya memberikan gambaran apa adanya, sehingga adegan seksual antara non-mahram pun selalu ada di setiap tayangan mereka, bahkan sudah menjadi sesuatu yang harus ada. Sebaliknya, karena dunia timur yang notabene kebanyakan muslimin ini hanya jadi pengekor barat, maka adegan-adegan tidak senonoh pun sering tampil di layar film Indonesia. Bahkan beberapa waktu yang lalu, film-film tipe seperti inilah yang menghiasi hampir semua bioskop di Indonesia. Seolah-olah adegan seperti itu justru menjadi inti dari film meski jalan ceritanya tidak jelas.

Dalam film Islami dan bernilai dakwah, semua hal tersebut jelas tidak mungkin dibuat dan tidak boleh terlintas di benak para sineas muslim. Karena sejak awal semua tahu bahwa menampilkan adegan-adegan seperti itu meski tidak vulgar, justru memberi ruang kepada syetan untuk menggoda para penonton. Minimal adegan itu telah membangkitkan khayal dan keinginan rangsangan meski pun misalnya hanya dalam bentuk suara di balik pintu kamar. Yang jadi inti masalah bukan ada adegannya atau tidak, tapi kesan yang ditimbulkan di benak para penonton itulah yang harus dijaga.

4. Sutradara

Sutradara adalah otak dari sebuah produksi film, karena itu kriteria sutradara untuk film yang Islami harus lebih diperhatikan. Sosoknya adalah mereka yang benar-benar paham dan punya visi yang Islami secara shahih dan syamil. Bukan sekedar mewarisi semangat Islam dari sisi keturunan atau lingkungan.

Sosok sutradara ini harus benar-benar orang yang aktif `mengaji` dalam arti yang sesungguhnya, agar penggambaran demi penggambaran yang dilakukannya tidak lepas dari koridor syar`i.

Juga agar penggambaran itu tidak terkesan menggurui tapi membuat para pemirsa merenungi diri sendiri. Karena seni dakwah melalui film itu bukanlah indoktrinasi vulgar, tetapi melalui nilai-nilai yang disebar sepanjang film. Dakwah dan masukan Islami bisa diselipkan disana sini sesuai dengan kreatifitas dan kecerdasan sutradara.

5. Pemeran / Pemain Film

Idealnya sosok para pemeran adalah mereka yang dalam kesehariannya adalah orang-orang yang shaleh. Sehingga apa yang diperankannya dalam film itu memang mencerminkan jiwa dan kepribadiannya juga.

Akhlaq para pemain di luar film haruslah akhlaq yang Islami pula, karena yang namanya dakwah meski lewat film adalah dakwah juga. Bukan semata-mata seni peran yang memerankan orang baik dan buruk. Sehingga tidak pantas film dakwah dimainkan oleh mereka yang akhlaqnya bertentangan dengan dakwah Islam itu sendiri. Yang masih suka mengumbar nafsu syahwat, membuka aurat dan bergaul bebas dengan lain jenis. Biar bagaimana pun fil dakwah bukan sekedar komoditas seni belaka, tetapi dia adalah sebuah produk dakwah, yang sejak hulu hingga hilir harus selaras dengan visi dakwah yang diembannya.

Namun kita sadar bahwa untuk mendapatkan sosok pemeran yang memenuhi kriteria itu tidak terlalu mudah. Ini akibat hedonisme dan permisifisme yang sering identik (atau malah sengaja diidentikkan) dengan sosok para arits dan selebriti.

Ketidak-sesuaian antara karakter asli pemeran dengan lakon dan peran yang dimainkan sedikit banyak akan mengganggu para penonton yang mengenal sosok aslinya. Kalau dia adalah seorang yang baik dan hanif lalu berperan sebagai tokoh antagonis, mungkin tidak terlalu masalah. Namun kalau sebaliknya, di film jadi ustaz atau orang baik, tapi ketika ketemu sosok aslinya ternyata lagi joget di diskotik sambil teler menenggak alkohol. Nah, kan berabe.

6. Produser

Produser pun idealnya punya fikrah dan pemahaman Islam yang baik, sehingga ketika memproduksi film itu, sejak awal niatnya ibadah dan dakwah. Sehingga pertimbangan dalam setiap keputusan yang diambilnya selalu bervisi yang baik. Bukan sekedar asal laku filmnya dan asal murah. Sementara kualitas dan visi Islamnya tidak diperhatikan.

7. Kru

Sebuah produk tayangan film yang Islami, idealnya memiliki kru yang juga punya wawasan dan kecintaan pada Islam serta setia mengaplikasikan ajaran Islam dalam diri mereka. Bahkan ketika pembuatan film sedang berlangsung, maka kru yang Islami adalah mereka yang tetap memperhatikan waktu-waktu shalat. Dan bila bertepatan dengan Ramadhan, maka tetap menjalankan ibadah puasa.

Ketika saat break datang, mereka tetap menjalankan shalat lima waktu dengan berjamaah. Serta mengisi saat saat kosong dengan sesuatu yang bermanfaat, misalnya zikir, tilawah Al-Quran, diskusi yang positif dan seterusnya. Bukannya malah senang-senang di bar dan diskotik melepas lelah sambil memuaskan nafsu syahwat.

Idealnya teman-teman seniman film itu berprilaku Islami dalam semua hal. Misalnya, ketika bulan puasa mereka tetap aktif puasa semuanya. Malam hari mereka isi dengan tarawih berjamaah, sahur dan berbuka puasa di lokasi syuting. Bahkan pagi hari mereka mengadakan kuliah subuh. Sehingga gema dan syiar Ramadhan tidak terlewatkan begitu saja hanya alasan sibuk bekerja di lokasi syuting. Bahkan kalau perlu mendatangkan para ustaz yang secara bergilir memberi pelajaran dan siraman rohani ke lokasi. Bahkan hebatnya lagi, meski di luar ramadhan, mereka pun tidak ada yang merokok apalagi minum khamar.

Karena akan menjadi lucu kalau sebuah film yang judulnya saja sudah dakwah, tapi saat-saat pembuatan filmya, para krunya tidak pernah shalat, saat Ramadhan tidak puasa, kerjanya main ke diskotik dan campur baur dengan wanita penghibur. Walhasil, nilai dakwahnya hilang sebelum film itu sendiri selesai dibuat. Allah SWT berfirman :

`Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan`. (QS. Ash-Shaff : 2-3).

8. Sponsor

Idealnya, sebuah film Islami dispansori oleh perusahaan yang produknya baik dan tentu saja harus halal. Kita tidak bisa membayangkan kalau membuat film dakwah tapi sponsornya pabrik bir atau rokok. Sehingga terjadi kontradiksi antara isi tayangan dengan sponsornya.

9. Tayangan iklan

Sebuah produk itu bisa saja halal dan baik, tapi perusahaan iklannya tidak bervisi yang baik. Maka jadilah iklan benda halal itu harus menampilkan wanita telanjang atau adegan lainnya yang bertentangan dengan syariat, etika, moral atau perasaan.

Misalnya iklan mobil, mobilnya sih baik-baik saja, tapi kenapa tampilan iklannya harus wanita yang berpakaian seadanya ? Hal ini jelas tidak sesuai dengan citra dan visi film itu sendiri.

10. Waktu Tayang

Tentu saja sebuah film yang diniatkan menjadi fil Islami akan rusak nilainya manakala ditayangkan dengan melanggar waktu-waktu shalat. Atau waktu-waktu yang utama untuk mengerjakan ibadah yang lebih khusus. Misalnya, tidak ditayangkan pada saat azan maghrib. Atau kalau bulan Ramadhan, maka harus diusahakan tidak ditayangkan pada saat shalat tarawih. Karena para penonton jadi terbelah konsentrasinya antara shalat tarawih dan nonton film Islami. Tentu tidak lucu kalau sampai shalat tarawih ditunda / diakhirkan hanya karena ingin nonton.

Dan tentu masih banyak detail-detail lainnya yang harus dibicarakan terlebih dahulu dalam produksi sebuah film Islami. Agar jangan sampai niat yang baik itu menuai / panen kritik dari kalangan muslim sendiri.

11. Konsultan Syariah

Karena itu minimal sebuah produksi film Islami itu harus memiliki konsultan syariah yang bekerja secara serius membiacarkan adegan demi adegan sehingga betul-betul mencerminkan sebuah film dakwah.

Sumber: Kuliah Syariah Online(Bab Fiqh Kontemporer)


3 responses to “Kriteria Film Islami

  1. silaturrahmi … postingan yang menarik … smg bisa belajar dr nya …🙂

  2. nice artikel. makasih udah sharing. manfaat banget

  3. Aslm. Trimakasih artikel ini amat ane butuhkan krn ane sdg membuat tesis y meneliti faktor religiusitas sebuah film. maturnuwun sekali lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s