Inspiration of Life

Cerita tentang Harapan ..Impian..dari seorang Puspa Setia Pratiwi

Dimana keadilan itu?

on July 12, 2009

Artikel berikut ini saya dapat dari sebuah milis berkisah tentang pembunuhan seorang muslimah di Jerman.
Islam tidak membiarkan harga diri umatnya diinjak-injak. Bersyukur, di negara ini, sesiapa saja yang menghina orang lain dengan kata-kata kasar, kata-kata yang tidak sopan dan penuh dengan kebencian akan dikenakan hukuman. Marwa Al-Sharbini, yang sedang menemani suaminya sebagai pemegang beasiswa dan peneliti di Max-Planck-Institut , melaporkan kasus penghinaan ini kepada pengadilan di Jerman. Tak pelak, dengan bukti-bukti dan saksi-saksi, Alexander W, si pemuda tadi, dinyatakan bersalah telah menghina Marwa dengan kata-kata kasar dan penuh dengan kebencian rasistis. Ia dikenakan denda dari pengadilan sebesar 780 €.

Hari berganti hari. Kasus Marwa merupakan salah satu kasus dari ribuan kasus di dunia ini. Marwa merupakan salah seorang dari ribuan orang yang berupaya mencari keadilan dan membela harga diri dari sebuah propaganda pihak-pihak yang berupaya menyebarkan kebencian terhadap Islam. Headline surat kabar, opini dan pendapat media, pemberitaan di televisi, kasus karikatur nabi, kasus film Fitna, dan banyak lagi kasus yang lain telah berhasil memutar balikkan pandangan orang-orang yang tidak tahu tentang Islam.

Orang-orang yang berjilbab itu teroris, fundamentalis, ekstrimis, dan kata-kata lain yang mereka gunakan untuk menjabarkan istilah „orang Islam“. Kami yakin, tidak semua orang barat seperti itu. Ada di antara mereka yang mempunyai hati nurani, ada di antara mereka yang menjadi sahabat-sahabat kami dan melihat kami sebagaimana seorang manusia. Kami tidak akan menganggap sama orang-orang yang menyebarkan propaganda dengan yang menjadi korban. Dan orang-orang yang memang membenci kami dengan yang memanusiakan kami

Kami juga berharap mereka tidak menyamaratakan orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi dengan orang-orang yang taat berada di ajaran Rasul kami. Ah, kami begitu bangga dengan Schwester-schwester (saudara perempuan) kami yang telah berjilbab, yang menapak tegap kehidupan di sini dengan segala resikonya, namun santun dalam berperilaku dan istiqomah dalam berakhlak sebagai muslimah yang kaaffah. *** Musim panas yang sebenarnya pun di mulai, walau cuaca masih sulit ditebak. Orang-orang sudah mulai berpakaian seadanya, menghindari rasa gerah yang menyekap.

Marwa tetap dengan busana muslimahnya, dan juga jilbabnya. Mustafa kecil datang menghampiri untuk mengelus-elus perut Marwa. Kini ia sudah tahu bahwa beberapa bulan lagi ia akan memiliki seorang adik. Ibundanya sedang mengandung tiga bulan. Hari ini mereka, Marwa, Ali – suaminya, dan Mustafa akan datang kembali ke pengadilan atas kasus penghinaan rasistis oleh Alexander setahun yang lalu. Marwa akan memberikan kesaksian lagi di hadapan hakim. Di setiap proses pengadilan yang sudah berlangsung berkali-kali itu, Alexander selalu mengungkapkan rasa bencinya terhadap Islam. Bahkan ia pernah suatu kali mengancam akan membunuh Marwa. Mendengar semuanya itu, Marwa tetap tidak takut, Ali selalu memberikan dukungan yang penuh untuk istrinya, meski ia tahu, segala kemungkinan bisa terjadi terhadap keselamatan keluarganya. Landgericht Dresden, Rabu 1 Juli 2009. Hanya segelintir orang saja yang hadir di Gerichtsaal (ruang sidang) pagi itu. Memang, kasus ini bukan kasus yang besar, hanya sebuah pengaduan penghinaan. Tidak ada polisi yang berjaga-jaga di sekitar ruangan. Tidak ada alat detektor metal untuk keamanaan, padahal kasus ini mendakwa seseorang yang memiliki kebencian begitu besar.

Mengapa mereka tidak memikirkan hal itu sebelumnya? Pemuda gemuk itu bisa lebih berbahaya dari seorang teroris! Dua orang polisi mengapit tangan kiri dan kanan Alexander ketika memasuki ruangan sidang. Lagi-lagi ia memancarkan aura kebencian terhadap keluarga Mesir itu yang sudah hadir di sana. Tak lama kedua polisi itu pergi, dan pengadilan di mulai. Marwa memberikan kesaksian, menceritakan kembali kisah di musim panas satu tahun yang lalu, membeberkan betapa bencinya Alexander terhadap dirinya, hanya karena ia seorang muslimah dan seorang berjilbab. Ya, Marwa seorang muslimah, dan seorang berjilbab yang pemberani. Ia tidak akan pernah takut dengan ancaman apapun. Bahkan sampai saat itu, ketika Alexander memenuhi janjinya, tiba-tiba beranjak dari duduknya sambil menggenggam sebilah pisau, dan berlari ke arah Marwa.

Ia mengayunkan pisaunya ke tubuh seorang perempuan yang tak berdaya. Menghunus tajam, mencabik-cabik. Dan darah pertama mengucur harum, darah yang sangat mulia di hadapan Allah. Orang-orang di sana berteriak, tetapi tidak ada yang beranjak. Hakim, jaksa, pengacara dan lainnya pun terdiam. Dua kali, tiga, empat, lima, enam, tujuh… tusukan-tusukan itu mendarat bertubi-tubi ke sekujur tubuh Marwa. Darahnya yang merah kehitaman berhamburan ke mana-mana. Mustafa terdiam melihat tubuh ibunya ditikam berkali-kali. Salah satu tusukan itu tertancap ke perut ibunya, yang tadi pagi baru saja dielus-elusnya. Pisau itu sampai juga ke tubuh adiknya yang masih tidur di dalam sana. Ali berusaha menghentikan kebiadaban Alexander , ia melindungi istrinya walau ia tahu, nyawanya juga akan terancam. Beberapa tusukan mendarat ke tubuh Ali, lalu kembali ke tubuh Marwa lagi, dua belas… tiga belas… empat belas… jilbabnya sudah berlumuran darah. Orang-orang berteriak, beberapa polisi segera datang ke ruangan. Dor! Dor! Pistol-pistol polisi itu memuntahkan pelurunya. Tapi peluru itu tidak menembus tubuh Alexander, melainkan tertuju ke Ali. Mengapa mereka bisa salah tembak? Apa karena mereka pikir yang sedang berbuat anarkis saat itu pasti yang berwajah Arab? Apa karena yang membuat keributan di sana pasti orang Islam? Dor! Dan Mustafa menyaksikan bagaimana peluru itu menembus tubuh ayahnya, bagaimana pisau itu menghunus kedua orang tuanya, bagaimana tusukan ketujuh belas… lalu kedelapan belas… Dan bagaimana Marwa merenggang nyawa, meninggalkannya yang baru tiga tahun bersama… Mustafa hanya tahu darah, ibunya sudah tiada, ayahnya koma, dan pemuda itu tidak terluka sama sekali. Mustafa tidak tahu kalau malaikat berpakaian amat bagus dengan wangi yang sangat harum tersenyum menyambut Marwa di ruangan itu. Malaikat-malaikat itu memberikan Marwa pakaian yang sangat indah, pakaian untuk para syuhada di langit sana. Mustafa, bagaimanakah umur empat tahunmu? Umur lima tahunmu? Masa sekolahmu? Masa remajamu? Ibumu dibunuh di depan matamu. Ayahmu sedang koma di depan matamu. *** Kami malas menikmati matahari, setelah mendengar berita itu, berita kematian Marwa oleh seseorang yang membenci Islam, berita yang baru muncul ke publik dua hari kemudian. Ya! Dua hari kemudian! Surat-surat kabar sehari setelahnya tidak ada yang memberitakan kejadian ini. Di Süddeutsche Zeitung? Tidak ada! Di Frankfurter Allgemeine? Tidak ada! Padahal kalau ada berita „seorang muslim menyenggol orang lain“ atau „seorang berjilbab mencolek orang lain“ pasti berita-berita itu akan menjadi berita besar dan menjadi headline news di koran-koran! Tapi berita Marwa? Jangan harap! Bahkan beberapa hari kemudian, surat-surat kabar tidak mengupas mengapa Marwa dibunuh, oleh siapa ia dibunuh, tetapi lebih mengupas tentang rencana perbaikan sistem keamanan di ruangan sidang ke depan! Kami menitikkan air mata mendengar semua ini. Kami menitikkan air mata membayangkan nasib Mustafa saat ini. Mustafa, ini bukan karena kamu ingin bermain di ayunan itu, tetapi ini karena jilbab yang dipakai ibumu.

Berlin, 9 Juli 2009.. FLP Jerman. Dimas Abdirama.

————————————————————————————————-

Sekitar dua bulan lalu saya mengikuti sebuah konferensi mahasiswa di sebuah kota di Jerman Timur, ketika saya berada disana cukup banyak peserta muslimah yang mengenakan jilbab, mayoritas dari Indonesia, ada juga beberapa muslimah yang berasal dari Palestina, Iran, dan Malaysia.

Konferensi yang saya ikuti waktu itu memiliki tema tentang hak asasi manusia sebagian besar dari acara tersebut membahas tentang tema pelanggaran hak-hak asasi manusia , upaya penegakan hak asasi manusia, juga bagaimana peran pemuda khususnya untuk berpartisipasi aktif dalam upaya penegakan hak asasi manusia.
Selama disana saya mendapatkan gambaran tentang betapa open-mindednya orang Jerman. Gaung hak asasi manusia sepertinya merupakan hal yang sudah biasa disana.

Selama disana, kami para muslimah berjilbab alhamdulilah belum pernah mengalami tindakan diskriminatif dikarenakan atribut yang kami pakai.
Mereka menyapa kami seperti halnya menyapa mahasiswa lainnya yang tidak menggunakan atribut agama.

Kami juga menemukan cukup banyak muslimah berjilbab asal negara-negara timur tengah di kota-kota Jerman. Mereka sebagian besar berasal dari Turki dan Iran.
Sungguh saya merasa heran mengapa peristiwa yang menimpa Marwa bisa terjadi disana. Di sebuah negara yang sangat menggaungkan nilai-nilai hak asasi manusia.
Saya ingin sekali menulis sebuah surat kepada teman saya mahasiswa Jerman disana untuk setidaknya berusaha menyuarakan hak asasi kami sebagai muslimah berjilbab.
Semoga peristiwa seperti ini tidak terulang kembali…selamat jalan saudariku semoga Allah membalas perjuanganmu dengan harumnya surga firdaus.amiin

Beberapa foto dari acara Konferensi


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: