Inspiration of Life

Cerita tentang Harapan ..Impian..dari seorang Puspa Setia Pratiwi

Amal & Ikhlas

on October 12, 2009

Tulisan ini saya peroleh dari sebuah Group Facebook.

Semoga bermanfaat !!

Amal yang kita lakukan akan diterima Allah jika memenuhi dua rukun. Pertama, amal itu harus didasari oleh keikhlasan dan niat yang murni: hanya mengharap keridhaan Allah swt. Kedua, amal perbuatan yang kita lakukan itu harus sesuai dengan sunnah Nabi saw.

Syarat pertama menyangkut masalah batin. Niat ikhlas artinya saat melakukan amal perbuatan, batin kita harus benar-benar bersih. Rasulullah saw. bersabda, “Innamal a’maalu bin-niyyaat, sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung niatnya.” (Bukhari dan Muslim). Berdasarkan hadits itu, maka diterima atau tidaknya suatu amal perbuatan yang kita lakukan oleh Allah swt. sangat bergantung pada niat kita.

Sedangkan syarat yang kedua, harus sesuai dengan syariat Islam. Syarat ini menyangkut segi lahiriah. Nabi saw. berkata, “Man ‘amala ‘amalan laisa ‘alaihi amrunaa fahuwa raddun, barangsiapa yang mengerjakan suatu perbuatan yang tidak pernah kami diperintahkan, maka perbuatan itu ditolak.” (Muslim).

Tentang dua syarat tersebut, Allah swt. menerangkannya di sejumlah ayat dalam Alquran. Di antaranya dua ayat ini. “Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh….” (Luqman: 22). “Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan….” (An-Nisa: 125)

Yang dimaksud dengan “menyerahkan diri kepada Allah” di dua ayat di atas adalah mengikhlaskan niat dan amal perbuatan hanya karena Allah semata. Sedangkan yang yang dimaksud dengan “mengerjakan kebaikan” di dalam ayat itu ialah mengerjakan kebaikan dengan serius dan sesuai dengan sunnah Rasulullah saw.

Fudhail bin Iyadh pernah memberi komentar tentang ayat 2 surat Al-Mulk, “Liyabluwakum ayyukum ahsanu ‘amala, supaya Allah menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” Menurutnya, maksud “yang lebih baik amalnya” adalah amal yang didasari keikhlasan dan sesuai dengan sunnah Nabi saw.

Seseorang bertanya kepadanya, “Apa yang dimaksud dengan amal yang ikhlas dan benar itu?” Fudhail menjawab, “Sesungguhnya amal yang dilandasi keikhlasan tetapi tidak benar, tidak diterima oleh Allah swt. Sebaliknya, amal yang benar tetapi tidak dilandasi keikhlasan juga tidak diterima oleh Allah swt. Amal perbuatan itu baru bisa diterima Allah jika didasari keikhlasan dan dilaksanakan dengan benar. Yang dimaksud ‘ikhlas’ adalah amal perbuatan yang dikerjakan semata-mata karena Allah, dan yang dimaksud ‘benar’ adalah amal perbuatan itu sesuai dengan tuntunan Rasulullah saw.” Setelah itu Fudhail bin Iyad membacakan surat Al-Kahfi ayat 110, “Barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaknya ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya.”

Jadi, niat yang ikhlas saja belum menjamin amal kita diterima oleh Allah swt., jika dilakukan tidak sesuai dengan apa yang digariskan syariat. Begitu juga dengan perbuatan mulia, tidak diterima jika dilakukan dengan tujuan tidak mencari keridhaan Allah swt.

Indikasi Keikhlasan

Beberapa hal di bawah ini adalah indikasi-indikasi dari keikhlasan seseorang:

1. Khawatir terhadap ketenaran

Seseorang yang ikhlas akan khawatir terhadap ketenarannya karena ia meyakini bahwa meskipun ketenarannya telah tersebar ke segala penjuru, ketenaran itu tetap tidak akan dapat menolongnya dari siksa Allah jika Allah menghendaki.

Ibnu Mas’ud berkata: “Jadilah kalian sebagai sumber mata air ilmu; lampu-lampu (cahaya) petunjuk yang menetap di rumah-rumah; pelita di waktu malam yang hatinya selalu baru, yang kusut pakaiannya, dan dikenal oleh penduduk langit, tetapi tersembunyi dari penduduk bumi”.

Fudhail bin Iyadh berkata: “Bila kamu mampu menjadi orang yang tidak dikenal, maka lakukanlah. Sebab, apa kerugianmu tidak dikenal? Apa kerugianmu bila tidak dipuji? Dan apa kerugianmu bila kamu menjadi orang yang tercela di hadapan manusia, tetapi terpuji di hadapan Allah SWT?”

Namun, perkataan di atas bukanlah berarti sebagai ajakan untuk mengisolasi diri karena orang-orang yang mengatakan hal-hal tersebut pada zamannya adalah tokoh-tokoh yang bergaul juga di masyarakat serta memiliki pengaruh baik dalam membina masyarakat. Seruan di atas cukup dipahami sebagai sebuah peringatan agar kita waspada terhadap syahwat jiwa yang tersembunyi juga kehati-hatian terhadap pintu-pintu dan jendela-jendela yang dapat dilalui setan dalam menembus hati manusia.

Pada hakikatnya ketenaran bukan suatu hal yang tercela, karena tiada yang lebih terkenal daripada nabi dan khulafaur rasyidin. Karena itu, ketenaran yang tidak dipaksakan dan bukan didasari oleh niat ambisius, tidak dianggap sebagai suatu kesalahan. Imam Al-Ghazali mengatakan: “(Ketenaran itu) fitnah bagi orang-orang yang lemah (keimanan) dan tidak demikian bagi orang-orang yang kuat (keimanannya)”.

2. Orang ikhlas selalu menuduh dirinya teledor dalam menunaikan hak-hak Allah dan kewajibannya

Seorang yang ikhlas hatinya tidak dirasuki oleh perasaan ghurur (tertipu) dan terkagum dengan diri sendiri. Bahkan, ia selalu takut dengan kesalahan-kesalahannya tidak diampuni, dan kebaikan-kebaikannya tidak diterima oleh Allah SWT.

Dahulu, sebagian orang shalih menangis pilu saat sedang sakit, lantas sebagian orang yang menjenguknya bertanya: “Mengapa engkau menangis, padahal engkau telah puasa, shalat malam, berjihad, bersedekah, haji, umrah, mengajarkan ilmu dan berdzikir”. Ia menjawab: “siapa yang dapat menjamin bahwa itu semua memperberat timbangan amal baikku, dan siapa yang menjami bahwa amalku diterima di sisi Tuhanku? Sementara Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertaqwa”. (Al-Maidah:27)

3. Orang ikhlas mencintai amal yang tersembunyi daripada amal yang dipublikasikan

Seorang yang ikhlas lebih mengutamakan menjadi seperti akar pohon dalam beramal. Menjadi akar pohon, ia tetap melakukan tugasnya untuk membuat pohon berdiri kokoh dan tegak, namun di saat itu pula, ia lebih memilih untuk tetap “berada di dalam tanah”.

4. Tidak menggubris keridhoan manusia apabila di balik itu terdapat kemurkaan Allah

Ada sebuah syair yang bisa menjelaskan poin ini dengan gamblang

Dengan-Mu ada kelezatan, meski terasa pahit, kuharapkan ridha-Mu; meski seluruh manusia marah

Kuharapkan hubunganku dengan-Mu tetap harmonis; meski hubunganku dengan seluruh alam berantakan

Bila cinta-Mu kudapatkan, semua akan terasa ringan; sebab, semua yang di atas tanah adalah tanah belaka

5. Amalnya saat menjadi pemimpin dan saat menjadi anggota tidak berbeda, selama keduanya masih ditujukan untuk Allah dan dalam kerangka sunnah serta syariat

Hatinya tidak dirasuki penyakit suka tampil, ingin di depan barisan, ingin memegang kendali dan ambisi menguasai pusat-pusat kepemimpinan. Bahkan, orang yang ikhlas lebih mengutamakan menjadi anggota biasa, karena khawatir tidak dapat menunaikan kewajiban-kewajiban dan tanggungjawab kepemimpinannya. Dengan kata lain, orang ikhlas tidak menginginkan dan tidak meminta jabatan untuk dirinya, tetapi bila diberi amanah, ia menerimanya dengan tanggungjawab dan memohon pertolongan kepada Allah untuk melaksanakan sebagaimana mestinya.

Rasulullah saw telah menjelaskan model manusia seperti itu dalam sebuah sabdanya: “Berbahagialah seorang hamba yang memegang tali kudanya di jalan Allah, rambutnya acak-acakan, dan dua kakinya berdebu. Bila ia (ditugaskan) di pos penjagaan, ia tetap di pos penjagaan, dan bila (ditempatkan) di barisan belakang, ia tetap di barisan belakang tersebut..” (Fathul Bari 6/95, no. 2887)

Semoga Allah meridhai Khalid bin Walid saat dicopot dari jabatannya sebagai panglima pasukan. Ia tetap beramal dengan giat di bawah komando Abu Ubaidah yang menggantikannya, tanpa menggerutu dan tanpa mengomel. Padahal ia adalah seorang panglima yang selalu mendapatkan kemenangan.

6. Kecintaan dan kemarahannya, pemberian dan keengganannya untuk memberi serta keridhaan dan kemurkaannya adalah karena Allah dan agamanya

Kadang kita melihat ada sebagian orang yang marah, menggerutu, lalu meninggalkan aktivitas, pergerakan dan menjauh dari medan perjuangan, gara-gara ada yang mengucapkan kata-kata yang menyakiti hatinya, melukai perasaannya atau menjelekkan salah seorang teman dekat dan kerabatnya.

Padahal keikhlasan tujuan seharusnya menjadikannya tetap melanjutkan perjuangan dan komitmen pada orientasinya, betapapun banyaknya orang yang melakukan kesalahan, kelengahan atau melampaui batas. Sebab, ia beramal untuk Allah SWT bukan untuk kepentingan dirinya, keluarganya atau si fulan dan si fulanah dari kalangan manusia.

7. Panjangnya perjalanan dalam berjuang, lamanya memanen hasil perjuangan, tidak membuatnya malas, kendur, atau meninggalkan hal yang diperjuangkannya

Sebab, ia beramal tidak hanya untuk mencari keberhasilan atau mencari kemenangan. Akan tetapi, ia beramal untuk mendapatkan keridhaan Allah dan karena menjalankan perintah-Nya.

Pada hari akhir nanti, Allah tidak akan menanyakan kepada manusia, mengapa kalian tidak mendapatkan kemenangan? Allah tidak akan menanyakan, “Mengapa kamu tidak berhasil? Tetapi, Allah akan menanyakan, “Mengapa kamu tidak beramal?”

8. Bergembira dengan munculnya orang-orang lain yang lebih berprestasi dan bersemangat dalam berjuang.

Orang yang ikhlas tidak akan iri terhadap kemunculan orang-orang yang memiliki visi sama dalam berjuang bahkan apabila ternyata orang tersebut lebih segalanya dari dirinya. Ia justru akan memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada mereka untuk terus mengembangkan kemampuan dan menggantikan posisinya dalam melanjutkan perjuangan.

Tentang poin ini, sebenarnya saya jadi ingat sebuah diskusi dengan sobat saya. Bahwa ada dua reaksi manusia dalam menanggapi fenomena “munculnya orang-orang lain yang lebih berprestasi dan sukses dari kita”, yakni generous growing dan jealous limiting. Seseorang yang ikhlas dapat dikatakan juga sebagai seseorang yang memiliki sifat generous growing, yakni ia bahagia melihat kesuksesan orang lain dan mendukung perkembangannya (growing). Menurut saya orang-orang generous growing inilah yang dapat berperan sangat baik sebagai seorang positive influencer dalam membangun bangsa. Karena ia tidak berkutat pada dirinya, tetapi juga memberikan dukungan-dukungannya pada orang lain. Sedangkan seseorang yang jealous limiting jelas akan membuat dirinya sendiri merugi juga merusuhi orang lain. Ia akan melakukan segala cara untuk menghalangi perkembangan orang-orang di sekitarnya. Ia hanya berkonsentrasi bagaimana membuat dirinya sebagai yang paling menonjol dan berpengaruh.

* * *

Akhir kata, saya mohon maaf, kalau… postingan ini dirasa terlalu panjaaang. Semoga saja ada manfaat dan ilmu yang bisa diambil. Intinya, apapun yang kamu lakukan, seberapa besar yang kamu kerjakan, seberapa terkenalnya kamu di kalangan orang-orang, tetaplah berusaha untuk menundukkan hatimu ke bawah. Jangan biarkan dirimu terbang terlalu tinggi untuk akhirnya jatuh di hadapan-Nya.

Oya, ada satu tambahan kisah menarik berkaitan dengan postingan ini:

Ada seorang petani sederhana. Setiap hari, ia pergi ke sawah untuk bercocok tanam. Ya, di dalam hatinya tujuannya ke sawah memang adalah untuk bercocok tanam. Suatu hari, ia menemukan seekor ikan di sawahnya. Petani itu menganggapnya sebagai sebuah rezeki. Ia lantas membawa ikan tersebut pulang dan menggorengnya untuk dijadikan lauk. Sekarang pertanyaannya? Apakah pada hari berikutnya petani tersebut lantas mengubah niatnya menjadi beternak ikan yang lebih menguntungkan dan meninggalkan bercocok tanam? TIDAK. Ia tetap pada niat awalnya, yakni bercocok tanam. Ia menganggap bahwa apa yang didapatkannya kemarin, sebuah ikan untuk lauk, adalah rezeki tambahan yang ia dapatkan dari-Nya karena kasih sayang-Nya.


2 responses to “Amal & Ikhlas

  1. El-Qolam says:

    Terima kasih atas artikelnya

  2. rodi edi says:

    Kalaulah tiba sampai waktunya manusia akan tinggalkan dunia. Harta dan benda tiada terbawa hanya amal dan perbuatannya, menjadi saksi pertama kali. Semoga keikhlasan kita dalam menjalani kehidupan ini merupakan jalan menuju mardhotillah. Amiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: