Inspiration of Life

Cerita tentang Harapan ..Impian..dari seorang Puspa Setia Pratiwi

My Road to Europe

on January 2, 2010

Terinspirasi oleh tulisan seorang teman tentang bagaimana perjuangannya ke Eropa, saya terdorong untuk menuliskan kisah perjuangan saya sendiri.

Sekitar bulan November 2008, saya bersama seorang teman mengunjungi sebuah pameran pendidikan Eropa. Kami berdua hanya bisa terpukau oleh betapa hebatnya dunia pendidikan disana. Dan saya mulai bermimpi untuk mengunjungi salah satu negara bagian Uni-eropa.

Dan akhirnya sebuah kesempatan itu tiba………
“Congratulations, you are invited to attend an International Student Conference in Ilmenau , Germany…but you have to support yourself
for travelling to the venue.”

Saat menerima undangan itu saya tidak sedang di tanah air.

Undangan itu tidak terlalu saya tanggapi karena toh saya  tidak akan mampu memperoleh dana kesana. Apalagi saya tidak sedang di tanah air, gimana cara bikin Visanya coba? Banyak pertanyaan yang muncul di benak saya saat itu…dan semua mengarah ke kemustahilan saya untuk berangkat kesana.

Tapi sekitar semingggu kemudian ada email di sebuah milis…

“Haiii teman, saya  sedang mencari peserta dari Indonesia yang diundang ke acara International Student Conference in Ilmenau , Germany ..Tolong hubungi saya ! “ …. dan beberapa orang membalas email itu.

Ternyata saya punya teman-teman yang bernasib sama.

Akhirnya sebulan kemudian sudah terkumpul sekitar 13 orang yang juga diundang dalam sebuah milis, semua hal dibicarakan di milis itu dari mulai persiapan keberangkatan, biaya pesawat termurah , sampai kesenian apa yang akan kami tampilkan di acara tersebut.

Jujur, tanpa adanya semangat dan optimisme  dari milis itu saya merasa mustahil untuk memenuhi undangan acara itu. Saya sendirian mencari dukungan finansial di negeri orang,,,sedangkan teman-teman saya mencari dukungan secara bersama-sama ditanah air.

Yang pertama saya lakukan disana adalah ke KBRI, ya setidaknya ada kemungkinan memperoleh dukungan dari atase-atase kebudayaan/pendidikan disana. Walaupun saya tidak memperoleh dukungan finansial, tapi saya mendapat dukungan moril yang cukup besar. Mereka memberikan link-link orang dep.budpar yang concern untuk memberikan support bagi kegiatan seperti ini. Saya juga memperoleh insight & motivasi dari atase pendidikan disana.

Hari semakin dekat ke hari-H, sisa waktu ini saya hanya bisa pasrah mengharapkan adanya berita baik dari tanah air barangkali ada yang memperoleh sponsor yang mau membiayai perjalanan kami bertiga belas. Tapi hasilnya nihil kebanyakan sponsor hanya memberikan bantuan sekitar 30-50 % dari total biaya yang kami butuhkan. Saya juga harus mempersiapkan diri menghadapi ujian akhir semester disana.

H-14, 10 orang dari teman saya sudah pasti berangkat karena mereka sudah mendapatkan visa dan tiket. Sedangkan saya entahlah,,,uang untuk beli tiket saja nggak ada apalagi buat visa. Ya hari itu saya benar-benar pasrah sepasrahnya, Kalau memang saat ini saya belum bisa ikut teman-teman kesana ya mungkin ini yang terbaik bagi saya.
Tapi entah kenapa malamnya tante saya menanyakan kabar saya,,kebetulan tante saya ini tinggal di luar negri dan sangat mendukung saya untuk belajar di luarnegri. Saya langsung curhat tentang keadaan saya saat itu, yang benar-benar sudah pasrah kalau nggak bisa mengikuti acara konferensi pelajar itu.
Tapi ternyata tante saya malah menanyakan berapa dana yang saya butuhkan kesana…alhamdulilah saat itu Malaysia Airlines sedang promo besar-besaran tiket KL-FRA-KL yang biasanya $1000 jadi $600.
Esoknya tante saya menghubungi kalau dia mau memberikan bantuan tiket yang saya butuhkan.
Alhamdulilah,,pertolongan Allah memang datang di saat-saat yang tak terduga.

H-12, saya meminta surat rekomendasi dari bagian pendidikan fakultas, namanya prof. Phang, beliau orang tionghoa yang paling baik yang pernah saya kenal di Malaysia.
H-11, Saya mendaftar untuk memperoleh visa Schengen di kedutaan Jerman yang ada di jl. Tun Abdul Razak, KL. Saya pergi sendirian kesana naik LRT dan disambung taksi dengan membawa form aplikasi , surat rekomendasi , paspor, dan bukti booking tiket online, dan pas photo.
Ternyata ukuran foto saya salah, saya harus berjalan sekitar 1 km untuk mencetak foto di studio foto terdekat. Uang saya waktu itu sangat terbatas, saya nggak mampu naik taksi kesana. Akhirnya saya berjalan bolak-balik sejauh 1 km dari kedutaaan ke kantor german-embassy. Alhamdulilah paspor saya tidak harus ditahan disana, karena 3 hari lagi saya sudah harus pulang ke Jakarta.

H-10 , Saya belajar untuk mempersiapkan 2 ujian akhir semester,  di sela-sela waktu itu uang dari tante saya sudah dikirim ke rekening saya.

Akhirnya saya pergi ke kantor Malaysian Airlines di KL sentral untuk membeli tiket, alhamdulilah saya masih kebagian tiket promosi, dan tiket yang saya beli itu adalah tiket promo terakhir seharga $600. Setelah saya membeli, tiket balik ke harga semula yakni $1000.
H-9, Ujian akhir semester terakhir. Siang harinya saya membeli hadiah perpisahan untuk kawan-kawan asrama saya. Malamnya makan malam perpisahan dengan kawan-kawan asrama, kami juga berfoto bersama di aula.

Sungguh perpisahan yang sangat berkesan, saya memperoleh beberapa hadiah dari teman asrama saya. Mereka membuatkan kue perpisahan bagi saya dan teman saya yang besok akan pulang ke Indonesia.

H-8, Saya kembali ke Jakarta. Saya rindu sekali dengan orangtua saya,4 bulan adalah waktu terlama dalam hidup saya berpisah dengan mereka.

H-7, Saya membuat surat permohonan dana ke fakultas dan ke rektorat. Saya juga menyelesaikan draft laporan skripsi saya untuk mendapatkan masukan dari dosen pembimbing skripsi .

H-3, Akhirnya uang bantuan dari fakultas dan rektorat turun juga. Alhamdulilah dengan uang tersebut saya bisa memperoleh uang saku kesana. Sorenya saya menukarkan uang tersebut ke mata uang Euro & US dollar
H-2, Saya berangkat ke KL sendirian..ya ini pengalaman pertama saya sendirian ke luar negri. Saya hanya diantar oleh ayah saya, sekitar jam 4 pagi kami berangkat ke bandara karena penerbangan saya jam 7.30. Saya tiba di KL jam 10.30 waktu sana. Sambil membawa seluruh koper dan barang bawaan lainnya saya langsung menuju ke german-embassy untuk mengambil visa schengen saya yang saya apply 10 hari yang lalu.
Bayangkan bawa koper naik LRT & taksi sendirian untuk pertama kalinya di negeri orang,,benar-benar pengalaman tak terlupakan. Sorenya saya menginap di asrama menumpang di salah satu kamar teman,,mereka senang sekali karena waktu itu saya membawa beberapa makanan indonesia yang mereka sudah rindukan sekali.

H-1, Pagi itu saya mengunjungi teman-teman di asrama sambil memberikan beberapa oleh-oleh dari Indonesia, siangnya belanja ke Mydin ditemani teman-teman asrama , karena perbekalan makanan saya selama 10 hari di Jerman masih kurang.
Sorenya saya kembali ke asrama untuk mandi dan bersiap-siap karena selepas maghrib akan menuju bandara KLIA. Teman-teman saya mengantar hingga KL sentral. Dari KL Sentral saya check-in memasukkan barang ke pesawat (inilah hebatnya MalaysiaAirlines, check-in pesawat bisa dilakukan di stasiun). Setelah itu saya membeli tiket kereta KLIA ekspres yang langsung menuju bandara KLIA. Saya tiba di KLIA pukul 20.30, Pesawat saya akan boarding pukul 23.00.

Selepas shalat Isya saya memanjatkan do’a agar saya diberi keselamatan hingga tiba di tempat tujuan. Saat-saat itu saya agak cemas karena ini merupakan perjalanan terjauh yang saya lakukan seorang diri. Teman-teman dari Indonesia sudah berangkat semua dari tanah air.
Saya tidak berangkat bersama mereka karena harus mengambil visa di KL terlebih dahulu dan karena uang saya hanya cukup untuk penerbangan dengan MalaysianAirlines yang keberangkatannya dari KL.

Pukul 23.30 , pesawat saya tinggal landas. Saya duduk di samping seorang pria berkebangsaan Inggris, ia ingin mengunjungi temannya di Cologne. Selama perjalanan ia hanya tidur, sedangkan saya benar-benar merasa cemas dan hanya bisa berdo’a sepanjang perjalanan..

Pukul 7.00 waktu Frankfurt, pesawat tiba. Akhirnya itu adalah langkah pertama saya di Eropa…saat itu cuaca sedang cerah meskipun suhunya sekitar 7 derajat celcius.

Saya langsung membeli kartu telepon dan menghubungi orang kedutaan yang akan menjemput saya & teman-teman di bandara. Ternyata saya telah ditinggal karena mereka telah menunggu terlalu lama. Memang pesawat saya delay sekitar 1 jam, sehingga saya harus sendirian menuju ke tempat acara yang butuh waktu 5 jam naik kereta untuk sampai disana.
Dari bandara saya menuju ke Frankfurt Main Hauptbanhof (Stasiun). Disana saya harus menunggu sekitar 5 jam karena kereta baru berangkat pukul 15. Saya melihat ada paket tur keliling kota Frankfurt selama 2 jam. Akhirnya saya mengikuti tur tersebut selama menunggu kereta berangkat.

Saat itu saya bersama dengan beberapa turis asal Paris dan Cina. Untung saja guide-nya dapat berbahasa Inggris jadi saya dapat memahami apa yang ia sampaikan. Kami mengunjungi Romer, menyusuri Sungai Rheine, dan menapaki sejarah kebudayaan Jerman di musium Goethe.

gothe haus

Sorenya saya naik kereta menuju Ilmenau, saya harus berhenti di dua stasiun untuk berganti kereta. Stasiun pertama sekitar satu jam dari Frankfurt, saya harus menggotong seluruh koper & bawaan sambil naik turun tangga Alhamdulilah tidak ketinggalan kereta. Tetapi ketika untuk kedua kalinya saya harus ganti kereta, saya tertidur selama perjalanan 3 jam itu.  Mata saya sudah terlalu lelah karena selama di pesawat hanya tidur 2 jam saja, akhirnya ketika bangun tidur saya sadar kalau saya ketinggalan kereta. Saat itu saya mencoba mengejar kereta tetapi tidak berhasil. Akhirnya saya terpaksa menunggu kereta yang berikutnya selama 1 jam.  Itu adalah kereta terakhir, dan saat itu sudah pukul 19.30, tetapi malam belum datang karena maghrib disana baru sekitar pukul 20. Setelah naik kereta berikutnya lagi-lagi saya ketiduran karena Jetlag yang semakin parah. Sekitar pukul 23 saya tiba di Ilmenau. Seorang petugas stasiun sampai harus mengetok jendela untuk membangunkan saya.

Saya harus naik kereta berikutnya menuju ke Max Planck, tempat acaranya berlangsung. Di stasiun itu saya benar-benar seorang diri, syukur setelah naik kereta bertemu dengan beberapa penumpang lain. Akhirnya tiba di Max Planck, dan disana ketua panitia telah menjemput saya dengan mobil vannya  .

Benar-benar perjalanan ke Eropa yang tidak akan pernah saya lupakan


4 responses to “My Road to Europe

  1. ilmanakbar says:

    seperti baca Sang Pemimpi😀
    tulis terus yang kaya gini ya pus, more and more story, more and more pictures too🙂

    going abroad udah ga jadiin resolusi 2010 gw.. nanti bantuin gw ya pus, kalo insya Allah tercapai🙂

  2. mardian says:

    Menarik, pus. gw salut sama pengalaman lo ikut2an international conference. Gw juga pengen ikut kegiatan yang sifatnya internasional lagi, tapi sejauh ini belum ada yang lolos walaupun ada yang apply. Apalagi ternyata kesempatan buat student itu lebih banyak yah. Sayang dulu ga dimanfaatin sebaik2nya. Hehe

  3. akeminissa says:

    @Ilman: oh ya? mungkin cerita ini bagus dibuat cerpen kali ya..
    Siip Man saya siap membantu mencarikan akomodasi gratis …
    kalo mau yg deket dulu aja Malaysia / Singapura

    @Mardian: ah Ki biasa aja koq..cuma modal nekat & pede ikut conference itu. Kebanyakan emang student , kalo buat yg udah lulus bisa ikut program Internship/Training gitu.

  4. […] suatu tempat. Mengetahui pengalaman orang lain itu perlu banget untuk diambil hikmah dan pelajaran. Pengalaman naik kereta di Frankfurt dulu setidaknya  membuat saya sedikit pede untuk melakukan perjalanan […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: