Inspiration of Life

Cerita tentang Harapan ..Impian..dari seorang Puspa Setia Pratiwi

Learning from the history

on August 29, 2010

History teaches us act of wisdom , we should learn from the history.
By reading this article, hopefully will bring wisdom to our perception toward the current confrontation between the two neighbor countries .

“Melayu Islam tidak Boleh Dizalimi”

Artikel berikut ini merupakan hasil wawancara dengan Prof Nik Anuar Mahmud. Prof Nik adalah profesor yang pemberani. Bukan hanya dimana-mana ia lantang menyuarakan satu rumpun Melayu dan Melayu Raya, tapi juga menyuarakan Melayu Islam tidak boleh dizalimi. Bukunya tentang Sejarah Islam di Pattani dilarang pemerintah Thailand. Tapi ia tidak takut, ia terus menulis buku dan berbicara dimana-mana tentang sejarah Melayu sebenarnya.

Kepakarannya dan keberaniannya dalam mengungkapkan sejarah Islam Melayu, sukar dicari tandingannya. Ia bila berbicara terbuka dan tidak mau
berpura-pura. Berikut petikan wawancaranya di kantornya, ATMA-UKM (Institut Alam dan Tamadun Melayu-Universiti Kebangsaan Malaysia), dengan Dosen STID M Natsir, Nuim Hidayat:

*Bagaimana Anda melihat hubungan Malaysia Indonesia ini dari perspektif sejarah?*

Ya, saya akan melihat hubungan Indonesia Malaysia ini dari perspektif
sejarah, dari perspektif Malaysia. Kalau kita baca buku-buku sejarah,
khususnya buku-buku sejarah Melayu yang ditulis sebelum perang dunia ke-2, seperti sejarah Melayu yang ditulis oleh Abdul Hadi dan Munir Adil, maka
wilayah Semenanjung dan Indonesia ini dianggap sebagai alam Melayu Raya.
Mereka menamakan tanah Melayu ini, Sumatera, Jawa, Sulawesi, Kalimantan,
Sumatra, Johor, Kelantan, Pattani dll ini alam Melayu atau di Indonesia
dikenal Nusantara. Yaitu wilayah Semenanjung tanah Melayu dan gugusan tanah Melayu.

*Sejarah ini apakah diajarkan kepada murid-murid di Malaysia?*

Ya, pelajaran sejarah ini diajarkan kepada pelajar-pelajar Melayu sebelum
perang dunia ke-2. Orang Melayu semenanjung ini bagian dari pada alam Melayu yang merangkumi pulau-pulau tadi itu. Jadi walaupun ini satu alam Melayu, tapi alam Melayu ini telah dipecah dua oleh penjajah, yaitu pada tahun 1824 oleh British (Inggris) dan Belanda. Mana-mana wilayah dibawah semenanjung di bawah naungan Belanda. Mana-mana wilayah di atas Sumatra atau Riau, di bawah naungan British.

Sebelum ini tidak ada perpecahan itu. Sampai hari ini pemecahan itu berlaku.
Sebelum Perang Dunia ke-2, ada semangat mau bersatu semula.. Ibrahim Haji
Yakub dari Melayu, mau melihat negeri-negeri Melayu yang telah pecah ini
bersatu atas nama Melayu Raya,.di Indonesia juga ada gerakan seperti ini.
Mereka mau melihat alam Melayu ini disatukan atas nama Indonesia raya. Ada hasrat untuk menjadi bersatu. Tapi rencana ini tidak berjaya karena dihalang oleh kuasa-kuasa besar. Mereka tidak mau melihat bangsa Melayu ini mempunyai satu Negara. Mereka mau melihat perpecahan. Kalau bangsa Melayu ini dibawah satu negara, maka akan jaya. Potensi baik dari segi jumlah penduduknya yang besar maupun hasil buminya,

*Bagaimana kuasa-kuasa besar itu bermain?*

Jadi akibat halangan kuasa-kuasa besar itu, usaha mewujudkan Melayu Raya
gagal, Malaysia dengan Malaysianya, Indonesia tetap dengan Indonesianya.
Tapi bagaimanapun apabila tanah Melayu menggapai kemerdekaan tahun 1963, pemimpin-pemimpin Indonesia mengharapkan adanya kerjasama yang erat.

Tahun 1958 atau atau 1959 itu Tun Razak, PM Malaysia, melakukan lawatan ke Jakarta dan PM Juanda melawat ke Kuala Lumpur. Mereka melakukan perjanjian kerjasama, kebudayaan dan bahasa. Walaupun berbeda Negara, atas nama satu rumpun pemimpin Indonesia ingin kerjasama.

Sebelum merdeka semasa rakyat Indonesia lepas dari Perang Dunia ke-2, semasa Indonesia membebaskan tanah airnya dari kekuasaan Belanda, ramai juga anak-anak muda Melayu yang jadi sukarelawan menyertai anak-anak Indonesia yang berjuang untuk menentang Belanda. Sehingga Belanda akhirnya mengiktiraf kemerdekaan Indonesia tahun 1949. Tahun 1945 Belanda belum mengiktiraf Indonesia. Juga ketika Indonesia membebaskan Irian Barat banyak anak-anak muda Semenanjung yang ikut serta.

Itu menunjukkan semangat satu rumpun. Pada masa itu Malaysia belum merdeka masih dijajah Inggris. Mereka berhijrah ke Indonesia, berjuang bersama Indonesia memperjuangkan kemerdekaan dari Belanda. Sejarah ini perlu kita fahamkan. Walaupun Malaysia Indonesia dipisahkan oleh Belanda dan Inggris pada tahun 1824. Jadi semangat satu rumpun masih kuat. Kesatuan Muda Malaysia pimpinan Ibrahim Yakub bergabung dengan pemuda Indonesia dalam melawan Belanda, untuk mewujudkan Melayu Raya.

*Bagaimana kemudian hubungan Indonesia Malaysia tahun 60-an itu?*

Tokoh-tokoh Indonesia Malaysia itu sebenarnya mau mengukuhkan hubungan perjanjian persahabatan. Tahun 1961, hubungan Malaysia Indonesia lebih dingin berkaitan dengan cadangan Tengku untuk membentuk Malaysia. Tengku mengumunkan bahwa beliau akan membebaskan Sabah, Serawak, Brunei, Singapura daripada penjajahan British dan menyatukan negeri ini dengan tanah Melayu. Jadi pengistiharan (Pengumuman) Tengku ini disalahartikan oleh presiden Soekarno.
Ia menganggap rencana Tengku ini bertujuan untuk melemahkan atau melumpuhkan Indonesia.

Dia kata rencana tengku itu adalah konspirasi British dan Amerika untuk
mengukuhkan dirinya. Gagasan itu kemudian ditentang. Ini sebenarnya tidak
pas. Bila saya buat kajian, tiadak ada satu kalimatpun yang menyatakan bahwa tujuan Tengku itu untuk melemahkan Indonesia. Tidak ada. Tujuan Tengku adalah untuk memerdekakan sisa-sia penjajahan British di Asia Tengah. Bukan bertujuan untuk mengepung Indonesia. Bukan bermufakat dengan Barat untuk memecahkan wilayah Indonesia. Ini adalah salah paham.

*Mengapa Presiden Soekarno bereaksi seperti itu?*

Saya tak boleh salahkan Presiden Soekarno juga. Karena semenjak beliau
menjadi presiden, Amerika dan British berusaha untuk menjatuhkan beliau.
Sebagai contoh Amerika pernah memberikan senjata pada beberapa pergolakan di Indonesia. Karena latar belakang tadi, jadi apabila Tengku merencanakan kemerdekaan Malaysia, maka ia dengan cepat mengatakan bahwa ini adalah usaha-usaha kuasa besar untuk melemahkan Indonesia. Padahal tidak ada usaha itu.

Kedua, waktu ada pergolakan PRRI di Sumatera, ada pemimpin-pemimpin PRRI itu yang berlari ke Melayu. Mereka memohon suaka politik. Tengku mengizinkan, tapi dengan syarat bahwa jangan jadikan tanah Melayu ini sebagai bekalan untuk menentang Indonesia. Jadi itu mengapa kemudian Tengku memberikan perlindungan kepada Des Alwi, Dr Sutino, dll. Presiden Soekarno menuntut agar dua orang itu dikembalikan ke Indonesia. Tengku kata bahwa dua orang tokoh itu bukan penjenayah (tahanan) biasa, tapi mereka tahanan politik.
Mereka menuntut hak untuk suaka politik, ini membuat Indonesia mencurigai
Melayu. Tahun 1963-1966 terjadi konfrontasi Indonesia Malaysia. Beberapa
perundingan dijalankan tapi gagal. Tahun 1963, ketika Malaysia diiktiraf
kemerdekaannya oleh dunia internasional, Indoensia tidak mengiktiraf
Malaysia dan memutuskan hubungan diplomatik.

Dalam pandangan Malaysia, ini karena desakan PKI (Partai Komunis Indonesia). Dengan konfrontasi ini, maka pihak tentara memberi tumpuan kepada pertahanan dan keamanan. Maka ini memberi peluang kepada PKI untuk melebarkan pengaruhnya di Indonesia, karena tentara beralih perhatiannya (tentara RI adalah anti PKI). Dan Soekarno saat itu sudah uzur, dipercayai lambat laun Soekarno akan melepaskan jabatan presiden apakah sakit, umur tua atau meninggal. Malaysia dianggap Soekarno sebagai neo kolonialisme.

Jadi Soekarno saat itu uzur, kalau turun dari jabatan presiden saat itu,
maka siapa yang akan mengisi? Dipercayai yang akan mengisi adalah Aidit,
tokoh PKI. Pihak pimpinan tentara RI tidak mau melihat Aidit menjadi
presiden Indonesia, seperti Ahmad Yani, Soeharto dll. Jadi pihak tentara
mencari jalan bagaimana memastikan bahwa Aidit tidak menjadi persiden. Maka kemudian berlaku gestapu. Jendral-jendral anti komunis ini kan menumbuhkan dewan jendral, penubuhan dewan jendral ini diketahui oleh kolonel Untung yang pro komunis. Maka Soekarno dan komunis mengarahkan untuk menangkap jendral-jenderal itu. Tapi jendral itu ternyata bukan dtangkap PKI, tapi dibunuh. Mengapa dibunuh itu jadi misteri. Kemudian Soeharto bangkit dan mengambil kuasa dari Soekarno.

*Bagaimana setelah Soeharto memimpin?*

Jadi apabila Soeharto mengambil alih tahun 1966, hubungan Malaysia Indonesia menjadi pulih. Setelah itu hubungan Indo-Malay zaman Tun Razak Soeharto cukup bagus, cukup erat. Kalau konfrontasi diteruskan maka yang mendapat manfaat adalah Partai Komunis Indonesia.

Salah satu syarat yang membolehkan Indonesia untuk mengiktiraf Malaysia
adalah dengan mengadakan semula pemungutan semula Sabah dan Serawak. Lewat Adam Malik, akhirnya Malaysia setujui syarat itu. Pemungutan suara itu diadakan lewat pilihan raya. Itu untuk memenuhi syarat Indonesia. Tahun 1967 diadakan pilihan raya dan partai yang pro Malaysia menang. Jadi Sabah
Serawak secara sukarela memilih untuk bergabung dengan Malaysia. Pilihannya dua. Apakah kemasukan Sabah Serawak waktu itu dipaksa masuk ke Malaysia atau secara sukarela? Indonesia saat itu melihat bahwa Sabah Serawak dipaksa masuk ke Malaysia, untuk melumpuhkan Indonesia.

Tun Razak itu menganggap Indonesia itu sebagai abang. Tapi yang berlaku hari ini, adalah sejarah ini dilupakan, baik oleh generasi di Indonesia maupun di Malaysia. Lupa bahwa Malaysia Indonesia ini adalah alam Melayu, satu rumpun, Melayu johor, Melayu Jawa, Kalimanatan, satu rumpun. Sejarah ini tidak diajarkan kepada generasi baru baik di Malaysia maupun di Indonesia.
Akibatnya generasi baru di Indonesia Malaysia menganggap bahwa kita ini
berbeda. Generasi kami menganggap bahwa Indonesia adalah adik beradik saja.

*Jadi harus bagaimana menyikapi sejarah ini?*

Karena kita tidak masukkan dalam pelajaran sejarah, baik di Indonesia maupun Malaysia bahwa kita ini satu rumpun. Tidak diajarkan di sekolah. Kita
berpisah karena penjajahan. Di ATMA (Institut Alam dan Tamadun Melayu) kita mau bangkitkan semangat satu rumpun Melayu ini.

Paman saya saja ikut pada tahun 1946 ke Jakarta dengan Ibrahaim Yakub
berjuang menentang Belanda. Kembali ke Malaysia tahun 80-an. Dia sudah
kawin dengan orang Indonesia.

Tapi, sekarang ini telah berlaku kekeliruan, karena generasi baru telah
dipisah dengan sejarah lama. Dulu kita diajar kita satu rumpun. Kata itu
kini sudah tidak ada. Tidak disebut dalam buku sejarah baik tingkat dasar
maupun tingkat universitas, kecuali mungkin di ATMA.

Kita perlu didik anak-anak kita baik di Semenanjung atau di Indonesia bahwa
asalnya kita ini adalah satu, tapi dipisah-pisah oleh penjajah. Mereka tidak
mau Malaysia Indonesia bersatu. Semenanjung Melayu ini sebenarnya mewakili Indonesia Raya. Semua suku Indonesia ada di sini. Jawa, Bugis, Aceh, Minang. Aslinya penduduk semenanjung ini kan sebenarnya Kelantan, Trengganu dan Kedah. Kini banyak orang Jawa di Johor, Selangor juga Jawa, Aceh pun banyak disini.

Mengapa berlaku perpecahan ini? Ini salah paham saja. Negeri sembilan
sebagian penduduknya dari Minangkabau, sultan Selangor dari Bugis. Jadi
sepatutnya kita dengan semangat stau rumpun bekerjasama untuk bangunkan alam melayu ini. Kita tak boleh lagi menjadi bangsa kelas dua, harus bangsa kelas satu yang bisa mempengaruhi dunia. Tapi kalau masing-masing kita berpecah, ashabiyah, kita terus akan menjadi mainan kuasa-kuasa besar yang tidak mau melihat bangsa Melayu tumbuh menjadi bangsa yang besar. Kita mesti tanamkan kembali sejarah. Dari segi agama, bahasa, melayu sama.

*Bagaimana dengan isu-isu akhir ini. Isu tenaga kerja, budaya dan perbatasan?*

Isu-isu ini tak patut dibesar-besarkan. Kalau dibesar-besarkan pihak ketiga
akan mengeksploitir isu-isu ini untuk melemahkan semangat persaudaraan antar bangsa serumpun ini. Jadi msalah-masalah yang disebut tadi boleh
diselesaikan dengan perundingan antar pimpinan negara. Tak perlu dibesarkan di media massa. Mereka akan terus esploitir kasus Ambalat, kebudayaan dll.
Untuk melihat Indonesia Malaysia kembali konfrontasi. Kalau konfrontasi,
semua pihak tidak akan untung, pihak ketiga akan untung. Kita tahu pihak
ketiga itu siapa.

Dalam memoir buku Thomas Raffles, disebut: bahwa Barat mesti pastikan bahwa alam Melayu ini lemah. Jadi dia usulkan untuk melemahkan itu dua strategi:
Pertama, bawa imigran-imigran asing masuk ke Melayu supaya kawasan ini tidak menjadi kawasan Melayu. Supaya menjadi majemuk (dibawa orang-orang Cina dan India).

Kedua, pastikan bahwa raja-raja Melayu ini apakah di Semenanjung, Sumatera, Jawa dan sebagainya, tidak mengambil para ulama Arab menjadi penasehat mereka. Jadi tujuannya untuk memisahkan Arab dengan Melayu. Jadi sebelum ini hubungan antara kerajaan Islam di Melayu dengan Daulah Utsmaniyah cukup rapat. Sebab penasehat raja-raja Melayu adalah ulama dari Timur Tengah. Ganti dengan penasehat dari Belanda atau British, kata Raffles (seperti Nuruddin ar Raniri, dll.yang menjadi penasehat raja) Maka mengapa kemudian pangeran Diponegroo ditangkap? Karena mereka membawa semangat Islam dan membina hubungan rapat dengan Utsmaniyah.

Dalam sejarah, kita lihat setelah Barat meruntuhkan Utsmainyah barulah
muncul Saudi, Kuwait, dll. Yang angkat mereka Bitish, Perancis. Jadi nggak
ada Turki Utsmaniyah Timur Tengah hancur, alam Melayu kemudian juga hancur. Umat tidak ada pemimpin. Kuasa Barat tidak mau khalifah atau Melayu Raya.

*Jadi bagaimana sebaiknya sekarang?*

Kini pemimpin generasi baru tidak ada semangat satu rumpun.. Tun Razak semasa berunding dengan Adam Malik, ada perjanjian tidak tertulis bahwa akan ada kerjasama erat. Malaysia akan bantu Indonesia dari segi ekonomi, Indonesia bantu Malaysia dari segi penduduk. Malaysia impor penduduk Indonesia, untuk meramaikan orang Melayu. Malaysia bantu dengan memberi pekerjaan orang Indonesia.

Tapi kerjasama ini dilupakan, dan mungkin ada pihak yang ingin melihat
jangan sampai bersatu. Mau porak porandakan. Isu pekerja ini kan satu dua
dan bisa diselesaikan. Yang menjadi masalah seringkali bukan orang Melayu
yang buat. Tapi dibesar-besarkan. Pada umumnya mereka kerja senang disini.
Tapi kenapa ribut masalah? Orang Kelantan buat batik dan Indonesia juga
punya batik, karena batik ini tradisi Melayu. Jadi kadang-kadang ada orang
Bugis Sulawesi ke sini dengan kebudayaanya, mereka memperkenalkan budaya disini apakah suatu kesalahan? Atau orang Jawa ke sini pakai bahasa Jawa apakah tak boleh? Kenapa harus bertengkar dalam masalah seperti ini.

Jadi kita perlu kerjasama, baik di bidang ekonomi, pendidikan dan lain-lain.
Sekarang banyak pelajar perguruan tinggi yang dikirim dari Malaysia ke
Indonesia atau sebaliknya.* (edisi yang lebih ringkas pernah dimuat di
majalah Hidayatullah).

sumber:
http://www.nuimhidayat.blogspot.com


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: